Latest Entries »

Dunia hiasan fatamorgana

Menyilaukan hamba

Untuk selalu menyebut asma Mu ya Allah

Engkau penguasa langit dan bumi

Pemilik alam semesta

Karena firmanMu semua ada

KehendakMu menjadi penentu segalanya

Ya Allah….. aku lemah

Aku hina

Aku hanyalah bongkahan kecil tak berharga

Dalam sujud, ku memohon kekuatanMu

Disaat aku jatuh lemah tak berdaya

Memohon keagunganMu

Disaat aku terpuruk dengan kilaunya dunia

Memohon petunjukMu disaat aku kehilangan arah

Ya Alah Engkaulah segala-galanya

Aku tau, Engkau mengujiku agar aku ingat padaMu

Aku tau, Engkau memberi cobaan agar aku kembali padaMu

Ya Allah….. aku sadar akan kelemahan dan kesalah

Aku hina, aku hanyalah bongkahan kecil tak berharga

Dalam sujud, ku memohon kekuatanMu disaat aku jatuh lemah tak berdaya

Memohon keagunganMu disaat aku terpuruk dengan kilaunya dunia

Memohon petunjukMu disaat aku kehilangan arah

Ya Allah…. Engkaulah segala-galanya

Aku tau, Engkau mengujiku agar aku ingat padaMu

Aku tau, Engkau memberi cobaan agar aku kembali padaMu

Ya Allah…. aku sadar akan kelemahan dan kesalahanku

Bantu aku untuk kembali padaMu

Pada Engkau Sang Penguasa alam semesta

Share with me

Share with me…

 

Cinta datang pada setiap insan yang bernyawa

Cinta melekat pada jiwa-jiwa yang suci

Cinta menentramkan hati pemiliknya

Namun, ketika cinta itu belum layak dimiliki

Cinta menjadi beban dosa yang teramat berat

Kutukan teramat besar

Membuat Sang pemberi cinta murka

 

Aku punya sayang

Tapi aku harus ingat bahwa Sang Pemilik hati ini

Hanya akan mengizinkan aku mencinta

Jika aku mencinta atas nama-Nya

Pada waktu yang tepat

Dengan orang teristimewa

Menggelar sajadah bersama untuk bersujud padaNya

Untuk melantunkan senandung cinta atas nama Allah

Tidak mudah untuk mencerdaskan anak bangsa dalam waktu yang singkat. Kenakalannya, usilnya, malasnya dan segala tingkah-tingkah negatif yang muncul dari dirinya. Guru, memang diharapkan kesabaran dan ketabahannya demi mencerdaskan anak bangsa.

Sabarlah wahai guru, mudah-mudahan berkat kesabaran itu kelak mereka yang telah mendapat ilmu dapat menarik kita untuk ke surga karena ilmu yang telah diberikan. Sguru-mengajaremoga tetap istiqamah mencerdaskan anak bangsa. Jangan menyerah.

10 januari

Tanggal teristimewa adalah 10 Januari. Tanggal tersedih juga 10 Januari. Harus bagaimana? Sedih atau bahagia?

Kita bukan siapa-siapa. Kita hanya hamba yang lemah untuk dapat berbuat angkuh. Selalu meminta dan beharap lebih namun, usaha tak ada. Kita tak berarti apa-apa di mata-Nya jika kita berbuat sombong dan angkuh. Ia yang punya kerajaan langit dan bumi tak serta merta semena-mena terhadap makhluk-Nya. Lalu kenapa kita makhluk-Nya begitu sombong dan angkuh.

Kemudian setelah kesombongan itu menjalari nadi-nadi. Timbullah rasa ingin memiliki segala-galanya alias rakus. Tak cukup satu. Ingin sesuatu yang lebih. Dan setelah keinginan terpenuhi, air mata mengalir begitu deras ketika semua yang kita pikir itu adalah milik kita hilang. Padahal sebenarnya sesuatu yang kita miliki itu tidak hilang melainkan kembali pada Dia pemilik kerajaan langit dan bumi tadi.  Jadi, jangan tangisi apa yang ada setelah semuanya kembali pada-Nya.

bungo

bungo bungo bungo…..

Betapapun kita mengatakan dunia itu indah namun kenyataannya dunia itu tak seindah yang kita bayngkan…. dunia itu hanya keindahan semu. Sadari dari sekarang bahwa dunia itu hanya senda gurau dan permainan belaka. Dengan begitu, KEIKHLASAN itu akan muncul. insyaAllah….

Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Kami dikejutkan oleh teriakan salah seorang warga yang mengatakan bahwa kami harus mengungsi karena air sudah naik. “Ayek naek, ayek naek, teriaknya. Kami pun terkejut setelah itu ia menyampaikan marilah mengungsi air sudah naik sampai ke jalan. Aku pun segera berlari keluar melihat keadaan. Subhanallah, ternyata air hampir sampai ke aspal jalan depan rumah. Nyaris, jarak air dengan aspal jalan hanya kira-kira 15 cm. Aku pun bersegara lari ke dalam rumah, tanpa ingat lagi bahwa kami sebenarnya baru terbangun. Ku raih jilbab, ibuku yang masih ada di desa ini pun memasukkan barang-barang penting ke dalam tas dan membawanya keluar. Aku segera menaikkan kasur, lemari dan barang-barang yang kiranya rusak jika terkena air. Setelah itu, ku bantu pemilik rumah kost an ini untuk menyelamatkan barang-barangnya supaya tidak terkena air. Ibu pun ku perintahkan untuk segera berlari keluar. Karena ku tau kondisinya tak kuat lagi untuk berlari. Tak lama setelah Ibuku keluar, ia berteriak memanggil namaku agar segera keluar dari rumah itu karena air sudah sampai ke aspal.

Subhanallah, inilah banjir bandang yang telah menghanyutkan rumah warga desa ini 12 tahun yang lalu. Aku merinding, takut, cemas. Telah lama tidak ada musibah seperti ini dan tahun ini ia kembali datang, ujar salah seorang warga desa ini. Desa ini bernama Muara Buat. Desa yang terletak di pinggir sungai batang bungo merupakan pertemuan antara dua sungai yang tidak kecil yaitu batang buat dan batang bungo.

Setelah kami menyelamatkan diri dari rumah itu, Aku menitipkan tas ku yang berisi ijazah dan barang berharga di rumah seorang Kapolsek yang bernama Harahap. Aku pun berdiri menyaksikan air yang semakin meluap ke jalan. Subhanallah, aku takut, gemetar. Mata melihat pemandangan malam itu seperti hal yang terjadi ketika tsunami di banda Aceh dan sekitarnya. Hanya saja, ketika tsunami di Aceh air nya menghanyutkan apa pun dengan kekuatan dan kecepatan yang Maha Dahsyat.

Semakin larut, masyarakat pun semakin ramai. Mereka pun keluar dari rumahnya. Mereka tak kenal dan tak ingat lagi dengan dinginnya malam yang merasuk ke tulang mereka. Aku pun segera menghubungi keluargaku di Kota Padang, sekedar mengabarkan bahwa desa tempat aku mengabdi  terkena  musibah banjir bandang. Alhamdulillah, desa ini telah dimasuki sinyal telpon seluler. Memang belum lama, tapi cukup bermanfaat bagiku malam itu.

Malam itu juga, teriakan warga semakin menggema di desa itu. Air semakin naik. Namun, setengah jam kemudian banjir tersebut sudah mulai surut. Warga pun bersyukur. Begitu juga dengan diriku yang masih gemetar menyaksikan musibah itu. Dari kejauhan ku mendengar bahwa SMP tempat aku mengajar telah terendam banjir setinggi dada orang dewasa. Dapat aku bayangkan malam itu betapa menyedihkannya kondisi sekolah jika terkena banjir bandang sebesar itu.

kmr me