Demi jiwa yang betahta di raga. Aku ingin desiran angin malam menyampaikan pesan kasih sayang pada orang yang selama ini ku kasihi. Berharap ia mengerti dengan apa yang merasuk ke dalam pikiranku di setiap gerak langkah hidupku yang teramat kelabu. Mengertilah bahwa engkau telah menggoyahkan tiang pembatas rasa dihatiku. Merobohkan tembok penghalang cintaku. Menanam setumpuk bibit cinta yang menumbuhkan pohon kerinduan yang tak terkalahkan oleh angin badai sekalipun. Tak terkoyak sedikitpun oleh pengerat. Aku dan cintaku padamu takkan terpisah oleh penghalang  terbesar yang bernama suku sikumbang. Mengertilah……………….

Aku………, selalu mencoba menembus batas waktu yang melesat terbang menjauh dari kehidupan. Mendobrak pembatas ruang gerak hati yang terpagar duka. Mencoba melepas belenggu yang melilit mata hati. Tapi…….., kesedihan itu kembali datang menghampiri. Tidakkah ia lelah mengikuti setiap detik langkah kakiku? Aku………,  disini terdiam termangu menanti satu harapan yang tak kunjung pasti. Izinkanlah aku ada di hati yang mendamba kebahagian dan kesetiaan.

Menjadi bagian darimu adalah impianku yang teramat semu. Memandangmu adalah kebutuhan yang didamba mata hatiku. Aku tak kan terluka jika engkau mengisi ruang batinku yang sunyi dan kelabu. Mengertilah dengan luka bathin yang merasuk qalbu ku hingga terasa sembilu.

Hari demi hari ku nanti. Bulan demi bulan ku lalui. Namun, engkau tak jua mengerti dengan cita hatiku. Apa yang harus ku lakukan lagi? Apa yang harus ku beri lagi? Agar engkau  menoleh padaku bahwa kehadiranku disini hanya untukmu. Semoga Allah mengabulkan pintaku untuk bisa berada di sisimu sampai menutup mata. Amiin.

Sri Rahmadhena