A. Pendahuluan
Berbicara masalah pendidikan seakan tiada habisnya. Selesai dari satu topik maka akan muncul topik baru. Selalu ada topik yang menjadi pembicaraan masalah pendidikan. Begitu juga dengan pendidikan agama Islam. Islam sebagai agama, menyeru umatnya agar selalu menuntut ilmu. Bahkan seruan itu adalah sebuah kewajiban yang harus dipatuhi. Tidak ada batasan untuk menuntut ilmu apalagi ilmu agama. Seluruh umat tanpa terkecuali dituntut agar dapat menimba ilmu kapan pun dan dimana pun ia berada selagi ia masih hidup di dunia ini. Baik laki-laki maupun perempuan. Karena dalam pandangan Islam, seseorang yang berilmu tetap memiliki kedudukan yang tinggi sekalipun ia berasal dari golongan rendahan. Sebagaimana yang diterangkan dalam hadis, ”Sesungguhnya manusia terbaik itu adalah seorang mukmin yang berilmu yang apabila didatangi orang ia akan memberi manfaat sedangkan apabila ditinggalkan orang ia pun akan bermanfaat bagi dirinya sendiri.
Bicara ilmu agama di sekolah berarti membicarakan pendidikan agama. Dalam hal ini, pendidikan agama yang akan dibahas adalah pendidikan agama Islam. Pendidikan agama Islam memiliki peranan yang sangat penting karena disana terkandung berbagai norma/ aturan, moral, akhlak, etika, dan kesantunan yang harus dipatuhi oleh umatnya. Mengingat peranan pentingnya tersebut maka pendidikan agama Islam diupayakan dapat terlaksana dengan baik agar tujuan yang diharapkan dapat dicapai.
Dengan demikian, keberhasilan sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan agama Islam tersebut sangat dituntut. Sekolah diharapkan dapat mengerahkan kemampuan ekstra untuk mewujudkan tujuan tersebut. Jika sekolah mampu dan berhasil menyelenggarakan pendidikan agama Islam dengan baik maka tidak akan ada lagi kita temui ketimpangan prilaku yang melanda kehidupan masyarakat. Seperti yang kita temui sekarang, dunia pendidikan tercoreng akibat prilaku moral siswa dan guru yang tidak baik dan tidak sesuai dengan tuntunan agama Islam. Apakah penyebab semua ini? Adakah keterkaitannya dengan pendidikan agama yang diterima di sekolah. Bisakah kita mengatakan pendidikan agama telah berhasil di lakukan di sekolah, dalam keadaan seperti ini? Lalu bagaimanakah perbandingannya dengan pendidikan agama islam di masa lalu dengan saat sekarang ini?

B. Pendidikan dan Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional
Abu Ahmadi mengungkapkan definisi pendidikan sebagai sesuatu kegiatan yang secara sadar dan disengaja, serta penuh tanggung jawab yang dilakukan oleh orang dewasa kepada anak sehingga timbul interaksi dari keduanya agar anak tersebut mencapai kedewasaan yang dicita-citakan dan berlangsung terus menerus.
Dengan pengertian tersebut dapat dipahami bahwa dalam pendidikan itu terkandung sebuah proses dengan tujuan tertentu, pelaku pendidikan, komunikasi.
Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan merupakan usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia serta keterampilan yang diperlukan dirinya, dalam menjalani kehidupan di lingkungan masyarakat, bangsa dan negara. Dengan demikian pendidikan akan menjadikan peserta didik menjadi pribadi yang matang dan dewasa dalam bertindak dalam kehidupan ini. Dengan demikian, pendidikan membawa pada perubahan. Pendidikan bukanlah sesuatu yang langsung tercipta, melainkan pendidikan adalah sebuah proses. Proses menjadikan in put yang ada menjadi out put yang berkualitas.
Pendidikan mempunyai arti penting dalam kehidupan manusia, dengan pendidikan manusia dapat dibedakan dengan makhluk-makhluk lainnya yang menempati alam semesta ini. Seperti yang telah diungkapkan sebelumnya pendidikan bukanlah sesuatu yang langsung tercipta namun perlu usaha untuk mewujudkan itu. Oleh sebab itu manusia merupakan makhluk yang harus dididik dan dapat mendidik.
Begitu juga dengan pendidikan Islam, dalam Islam pendidikan dikenal dengan istilah ta’dib, ta’lim dan sekarang lebih popular dengan sebutan tarbiyah. Menurut M. Athiyah al-Abrasyi, tarbiyah merupakan upaya yang mempersiapkan individu untuk kehidupan yang lebih sempurna, etika, sistematis dalam berpikir, memiliki ketajaman intuisi, giat dalam berkreasi, memiliki toleransi pada yang lain, berkompetensi dalam mengungkap bahasa lisan dan tulisan serta memiliki keterampilan. Dilihat dari pengertiannya pendidikan dalam Islam memiliki kesamaan dengan pendidikan dalam sistem pendidikan nasional yakni sama-sama bertujuan melahirkan generasi yang berkualitas.
Pendidikan Islam akan mampu menghasilkan produk yang berkualitas jika diproses dengan baik, dengan menjadikan al-Quran dan sunnah sebagai pedomannya. Ukuran baik disini adalah ukuran kepantasan sebuah in put diproses dengan selayaknya dan sesuai dengan aturannya. Sesuatu akan dapat dihasilkan dengan baik jika diproses dengan proses terbaik. Produk tidak akan bernilai jika dalam prosesnya tidak mengikuti aturan dan petunjuk yang sebenarnya. Begitu pulalah dengan pendidikan Islam, secanggih apapun mesin yang akan memproses tapi jika tidak diproses sesuai dengan aturannya maka tidak akan tercapai tujuan menjadikan peserta didik sebagai manusia yang berkualitas. Oleh karena itu pendidikan benar-benar harus dilaksanakan sesuai dengan aturannya.
Dicontohkan sebuah sekolah yang menerima siswa di setiap tahun ajaran baru. Setiap sekolah memiliki kriteria tertentu bagi siswa (in put) yang akan menuntut ilmu di sekolahnya. Lalu, dengan in put yang dimiliki tersebut, sekolah melakukan berbagai langkah demi mencapai tujuan yang diharapkan. Tentunya sekolah tidak menginginkan jika out put yang akan dihasilkan (lulusannya) tidak berkualitas. Setidaknya ada peningkatan dari awal ketika melakukan penerimaan dulunya. Sekolah bercita-cita melahirkan lulusan-lulusan terbaik yang berkualitas. Agar dapat menuai keberhasilan, maka pendidikan itu harus dicermati di setiap tahap dan masanya. Dengan demikian di setiap periode, sekolah senantiasa mencermati seberapa jauh usaha yang telah dilakukannya mampu memproses in put tersebut.

C. Kedudukan Pendidikan Islam dalam Sistem Pendidikan Nasional
Melihat kedudukan pendidikan Islam dalam sistem pendidikan nasional maka kita akan dapat melihatnya dari dua sisi. Sisi pertama, pendidikan islam sebagai sebuah mata pelajaran. Dalam sistem pendidikan nasional, pendidikan Islam dijadikan sebagai sebuah mata pelajaran wajib yang harus diikuti di setiap jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi. Hal ini telah terlaksana semenjak proklamasi kemerdekaan RI sampai saat sekarang ini. Pendidikan Islam berperan dalam mempercepat proses pencapaian tujuan pendidikan nasional dan memberikan nilai terhadap mata pelajaran umum.
Dilihat dari perannya tersebut pendidikan Islam sekarang berbeda dengan pendidikan Islam di masa lalu. Poin-poin tujuan pendidikan nasional yang mesti dicapai adalah mengembangkan potensi peserta didik yang berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif dan mandiri. Jika di masa lalu, pendidikan Islam yang diajarkan tersebut mampu mewujudkan tujuan nasional tersebut. Hal ini terbukti dengan generasi masa lalu yang dapat mewujudkan lahirnya kemerdekaan Indonesia dan menjadikan indonesia negara yang bermartabat. Pemuda kala itu menjadi pemuda yang energik yang selalu berusaha menegakkan kebenaran dan mengharumkan nama bangsa lewat perjuangannya. Pendidikan Islam di masa lalu mampu melahirkan generasi yang tangguh, berakhlak mulia, berilmu dan kreatif serta mandiri. Buktinya, moralitas generasi yang terjaga, kepemimpinan yang arif dan bijaksana serta mengembangkan dirinya dengan kreativitas yang dimiliki sehingga tidak hanya berpangku tangan. Bagaimana dengan pendidikan Islam saat ini? Apakah pendidikan Islam saat ini bisa dikatakan mampu mencapai tujuan tersebut?
Lihat saja bagaimana akhlak peserta didik saat ini. Peserta didik tidak malu untuk melakukan perlawanan fisik dengan gurunya. Tawuran merajalela, perselisihan, perkelahian dan permusuhan mewarnai dunia pendidikan. Inikah yang diajarkan pendidikan islam? Jika tidak, mengapa ini bisa terjadi? Jika kembali kepada teori, sesuatu akan dapat dihasilkan dengan baik jika prosesnya baik. Jika demikian, berarti dalam prosesnya pendidikan Islam tidak diproses dengan semestinya sehingga melahirkan produk yang tidak berkualitas.
Generasi di masa lalu tidak ada yang berpangku tangan. Lihat saja perbedaannya dengan generasi sekarang. Generasi yang tidak mampu memberdayakan dirinya dengan ilmu yang dimiliki. Sehingga angka pengangguran meningkat drastis dari masa ke masa. Setelah itu, orang-orang menyesali tingkat pengangguran yang begitu tinggi. Menyalahkan pemerintah yang tidak membuka lowongan kerja. Seyogianya mereka yang telah menjalani pendidikan tersebut mampu memberdayakan dirinya sendiri bahkan orang lain dengan kreativitas yang dimilikinya sehingga sudah semestinya mereka tersebut tidak menambah angka pengangguran lagi karena sesuai dengan tujuannya menjadikan pribadi yang mandiri dan kreatif. Inilah yang mesti dicermati kembali. Jika ingin dikatakan berhasil pendidikan Islam sebagai mata pelajaran, maka hendaklah dapat mewujudkan tujuan nasional dengan semestinya.
Generasi di masa lalu giat berusaha mengharumkan nama bangsa dengan perjuangannya melawan penjajah. Bagaimana dengan generasi sekarang? Generasi sekarang memang tidak dituntut untuk angkat senjata untuk melawan penjajah seperti generasi masa lalu. Tapi, semestinya generasi sekarang mampu mengharumkan nama bangsa dengan berbagai perjuangan dan tindakan mereka. Namun, sekarang apa yang terjadi? Kita lihat saja contohnya di suatu daerah, masih ada saja pemuda yang melakukan aksi saling baku hantam dengan sesama pemuda, perkelahian antar geng, mahasiswa yang melakukan tindakan anarkis, mahasiswa yang menjadi pengedar shabu demi melanjutkan sekolahnya, pelajar yang suka tawuran. Ini artinya mencoreng nama baik bangsa dengan pemuda yang suka aksi dan tindakan anarkis.
Selain itu, peran pendidikan Islam sebagai mata pelajaran adalah memberikan nilai terhadap mata pelajaran umum. Seperti yang kita ketahui, mata pelajaran umum yang diajarkan di sekolah itu adalah ilmu pengetahuan produk Barat. Untuk itu, agar mata pelajaran umum mempunyai nilai maka pendidikan Islam mesti diintegrasikan pada mata pelajaran umum tersebut.
Kenyataan itu jarang ditemui saat ini. Pelajaran agama tidak diintegrasikan dalam mata pelajaran yang lain. Siswa hanya mengetahui pengetahuan umum tersebut sebagaimana yang termaktub di buku saja. Semestinya, pendidikan islam mampu mewarnai pengetahuan umum siswa dengan mengintegrasikannya. Mengapa ini bisa terjadi? Di masa lampau, orang tua dengan bangganya memperkenalkan anaknya yang menguasai pengetahuan umum yang telah terintegrasi dengan pendidikan Islam.
Contohnya saja, di dalam pelajaran umum siswa mempelajari bahwa hujan dapat terjadi jika terjadinya kondensasi di awan. Lalu turunlah hujan. Namun, pada pelajaran agama siswa mempelajari bahwa ada malaikat yang bertugas menurunkan hujan. Lalu, diantara kedua teori ini manakah yang benar?
Semestinya, tidak ada lagi yang meragukan jawaban atas pertanyaan tersebut jika guru dapat mengintegrasikan kedua teori tersebut. Jadi pengetahuan tersebut tidak terpisah-pisah. Jadi dengan integrasi tersebut, pengetahuan siswa menjadi bernilai.
Namun sekarang yang kita temui, orang tua hanya mampu memperkenalkan anaknya yang hebat pengetahuan umum dan minimalis dalam pengetahuan Islam sehingga pengetahuannya tersebut kurang bernilai. Oleh karena itu, untuk memperbaiki hal ini dimulai dari pendidik yang harus bisa mengintegrasikan pendidikan Islam ke dalam setiap pengetahuan umum.
Sisi kedua, pendidikan Islam sebagai sebuah lembaga. Dilihat secara lembaga pendidikan islam berada dibawah naungan Departemen Agama. Di dalam lingkungan Departemen Agama, pendidikan Islam terwujud sebagai satuan pendidikan yang berjenjang mulai dari raudhatul athfal (taman kanak-kanak), Madrasah Ibtidaiyah negeri dan swasta (setingkat SD), Madrasah Tsanawiyah negeri dan swasta (setingkat SMP), Madrasah Aliyah negeri dan swasta (setingkat SMA) sampai al-jami’at (perguruan tinggi). Begitu banyak lembaga pendidikan Islam di Indonesia dan diakui eksistensinya secara nasional. Sebagai sebuah lembaga, pendidikan Islam berperan dalam menuntaskan wajar 9 tahun, mencerdaskan kehidupan bangsa dan berperan mendidik anak-anak yang drop-out serta tidak berkesempatan memasuki lembaga pendidikan formal.
Pendidikan Islam sebagai sebuah lembaga yang berada di bawah naungan Depag sama dengan lembaga yang lainnya. Di masa Rasulullah, pendidikan islam berlangsung di masjid-masjid dengan kurikulum pendidikan sesuai dengan apa yang diajarkan syekh (guru). Begitu juga dengan masa sebelum kemerdekaan, pendidikan islam terjadi di masjid, surau-surau dan tempat ibadah lainnya. Tidak ada kurikulum baku yang mengaturnya.
Kini, pendidikan islam sudah memiliki lembaga tersendiri yang mampu menjalankan proses pendidikan. Sebagai sebuah lembaga, pendidikan Islam sudah semestinya memiliki manajemen lembaga yang baik seperti lembaga lainnya agar dapat bergerak sebagaimana mestinya. Lembaga pendidikan Islam juga harus memiliki manager yang baik, administrasi yang baik, dan pengelolaan serta manajemen yang baik agar tercapai tujuan yang ditetapkan.
Dalam perjalanannya, lembaga pendidikan Islam sudah berusaha dalam mewujudkan hal itu, namun ada juga hambatan yang menghambat pergerakannya. Misalnya terhambat dengan adanya perbedaan dalam anggaran pendidikan di lingkungan Departemen Agama dan Departemen Pendidikan Nasional. Padahal, kedua-keduanya memiliki peran yang sama tapi mengapa dibedakan? Departemen agama memiliki anggaran pendidikan yang kecil sehingga departemen agama memiliki ruang gerak yang sempit untuk memberdayakan lembaganya.
Inilah refleksi keberadaan pendidikan Islam saat ini yang jauh merosot dibanding dengan pendidikan di masa lalu. Lantas, apakah kita hanya akan melihat pendidikan Islam ini semakin terperosok ke bawah dengan memperhatikan kondisi saat ini? Tugas kita bersamalah untuk mengepakkan sayap demi kemajuan pendidikan Islam.

DAFTAR BACAAN
Al-Abrasyi, M. ’Athiyyah. 2003. Prinsip-prinsip Dasar Pendidikan Islam. Bandung: Pustaka Setia
Nelwati, Sasmi. 2007. Dasar-dasar Kependidikan. Padang: IAIN IB Press
Nizar, Samsul. 2007. Sejarah Pendidikan Islam. Jakarta: Kencana
Ramayulis. 2008. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta: Kalam Mulia
http://guru-merdeka.blogspot.com/2007/11/tantangan-zaman-kaum-muda-dan.html Suara Hati
http://suarahati.wordpress.com/2007/12/11/pendidikan-agama-di-sekolah-dan-di-rumah-seberapa-penting-2/