10 februari 2010 (15.30), terungkaplah kebohonganmu……………..
Tak kusangka engkau seperti itu padaku. Menangis hati ini mendengar kebenaran atas kebohonganmu itu. Aliran nafas tak terkendali, detak jantung tak beraturan. Mengapa kau dustai aku?
Layakkah engkau ku percaya jika kebohonganmu telah terbongkar oleh pengakuan saudaramu sendiri? Tak kuasa lagi aku berkata padamu. Tak sanggup lagi aku menatapmu. Yang ada dipikiranku saat ini adalah aku tak ingin lagi menemuimu. Tidak sedikit luka yang kau ciptakan atas kebohonganmu itu. Tidak sedikit kecewa yang terlahir karena dustamu.
Deras air mata membasahi sekujur tubuhku. Hati membeku, tak kuasa membendung kesedihan itu. Apa yang kau pikirkan tentang diriku saat kebohongan itu kau ucapkan? Tidakkah engkau mengingat bahwa aku akan sangat terluka dengan sikapmu itu? Dustamu lahirkan jutaan tetes air mataku. Dustamu torehkan luka di batinku. Dustamu jadikan aku lemah hadapi dirimu. Dustamu seakan menancapkan belati di nadiku.
Aku menyesal mengenalmu. Andai waktu bisa kembali, aku lebih memilih tidak mengenalmu karena aku takut terluka karena ucapanmu. Aku tak sanggup menghadapi itu.
Jika kau ingin melupakanku, mengapa tak sekalian kau ambil samurai yang paling panjang dan tajam lalu kau tancapkan tepat di jantungku. Itu akan lebih baik bagiku daripada diperlakukan seperti ini.
Namun, semua itu telah terjadi. Tak ada gunanya lagi menyalahkan putaran waktu. Biarlah air mata ini mengalir sehabisnya. Mengeruk sampai bola mata terdalam agar engkau puas menyaksikan aku terluka, menyaksikan aku tersiksa karena sifatmu. Pahamilah itu wahai raga yang telah buat hatiku kelabu. Terima kasih atas dustamu padaku.