Mata kuliah itu bernama perbandingan pendidikan. Di awal perkuliahan begitu bersemangat untuk mengikuti perkuliahan ini karena nama mata kuliah sangat menarik yang membahas pendidikan di belahan dunia dan dibandingkan satu sama lain mengenai kemajuan dan kemunduran. Namun, kekecewaan mulai tumbuh di hari pertama pertemuan dengan seorang perempuan separo baya yang bertugas sebagai assdos alias asisten dosen mata kuliah perbandingan pendidikan tersebut.

Perkenalanpun terjadi hingga memakai 1 jam pelajaran. Sebagaimana lazimnya pertemuan I disetiap mata kuliah dimanfaatkan untuk perkenalan dosen, mahasiswa dan mata kuliah itu sendiri serta pedoman pelaksanaan kuliah selama 1 semester tersebut. Lama dinanti cerita itu tak juga muncul. Kemanakah gerangan????

Akhirnya mulailah sang assdos mengawali ucapan mata kuliah perbandingan pendidikan. Yang terpikir adalah bayangan cerita-cerita mengenai pendidikan di negeri orang. namun, apa yang terjadi????.  Sang assdos mengajak mahasiswa untuk berdiskusi. Diskusi………. siapa yang tak suka diskusi. Diskusi sangat dinanti oleh kebanyakan mahasiswa yang benar-benar ingin menambah wawasan dan mengasah otot lidah untuk berpendapat. Tapi……………….. diskusi pertama mata kuliah perbandingan pendidikan ini bertemakan poligami. Relevankah…………????? sedikit kecewa, namun apalah daya ………..

Nantikan ceritaku selanjutnya setelah break tidur berikut ini. Wassalam.

Kembali lagi bersamaku…

Hari pertama itu suatu peristiwa menarik yang tidak akan terlupa bagiku, sahabatku dan assdos itu sendiri. Yaitu, terjadi perdebatan yang cukup panas antara aku, dan sahabatku beserta teman-teman kuliah lainnya dengan argumen assdos itu yang seakan-akan memaksa pendapatnya itu harus diterima tanpa alasan-alasan lain.

Sampai saat ini assdos itu masih menganggap aq adalah pembantah dirinya. Wahai assdos q yang q hormati, aq tidak mengingkari bahwa poligami itu dibolehkan sesuai dengan firman allah dalam al-quran. Karena saat itu engkau bertanya pendapat mengenai poligami. Makanya q menjawab sesuai dengan pendapatq. Q tak ingin di madu buk……. maka nya q berpendapat seandainya q punya suami nanti q tidak ingin dimadu. Dengan alasan, q merasa tidak mampu untuk hidup berbagi suami dengan orang lain. Ibu kan juga tau bahwa apa yang menjadi milik kita, kita harus mempertahankan itu. Selama suami q menjadi milikq (belum bercerai), q akan memperjuangkan selalu agar dia menjadi milikq dan tak kan q izinkan ia mencari cinta lain buk.

Tidak semua perempuan bisa menerima suaminya berbagi cinta dengan orang lain. Ibu sendiri juga mengakui tidak akan bisa menerima suami ibu jika dia punya istri lagi. Tapi karena ibu selalu memaksakan kami sebagai perempuan untuk bersedia di poligami, ibu bilang akan bersedia di madu walaupun tidak bisa menerima. Itu kan sama dengan bohong buk. Sama hal nya dengan contoh berikut ini buk, seseorang diwajibkan naik haji jika ia mampu namun jika ia tidak mampu ia tidaklah diwajibkan naik haji walaupun pada hakikatnya haji itu wajib yang merupakan rukun islam. Apakah ibu akan tetap menjalankan perintah haji padahal ibu tidak mampu………???? ibarat kata orang minang ”indak maukua bayang-bayang”

Jika ibu tidak siap untuk di madu kenapa ibu mau membiarkan suami ibu berpoligami?????????  Itu sama saja menjalankan al-quran dengan kebohongan. Padahal Poligami kan tidak wajib buk……. tapi dalam al-Quran dijelaskan seorang suami boleh mempunyai istri lebih dari satu hingga empat. Itu pun dengan syarat dan ketentuan tertentu. Yang memenuhi syaratlah yang boleh mengamalkan hal itu.

Memang sebagai perempuan yang dalam rumah tangga disebut sebagai istri harus patuh dan taat pada suami. Namun, suami yang bagaimanakah buk…..?? keputusan suami berpoligami haruslah dibicarakan berdua karena yang akan merasakannya kedua pihak tersebut. Disanalah waktu kita untuk memutuskan hal itu buk…. keputusan poligami itu bukan seperti membalikkan telapak tangan tapi seperti menggoreng telur dadar. Yang harus diproses dan ditunggu sampai matang baru bisa disantap dengan nikmatnya.

Q tak ingin dimadu buk.. karena ku belum mampu untuk menerima semua itu. Apakah sesuatu yang tidak mampu tidaklah harus dipaksakan. Lagian, poligami bukanlah rukun islam. Bagiku, poligami itu adalah sebuah perjalanan kehidupan yang mana jika manusia sudah dihadapkan pada masalah itu makanya dijelaskan dalam al-quranul Karim.

Ibu ku tercinta………. sekali lagi q tak pernah mengingkari al-quranul karim mengenai poligami itu. Tapi, q tak mampu di madu.  Q hanya ingin seperti Fatimah binti muhammad yang selama hidupnya tidak pernah di madu oleh sayyidina Ali bin abi thalib (dikutip dari film ketika cinta bertasbih).

Knp sampai saat ini ibu masih mendakwaq. (Q tau poligami itu boleh buk). Ibu selalu bilang hargailah apa yang disampaikan oleh orang lain walaupun mereka bukanlah seorang yang mempunyai titel profesor.

Perlakuan ibu padaq mengenai masalah ini sungguh membuat hatiku sedih. Kenapa tidak, di hampir setiap pertemuan kuliah ibu membahas hal itu. Untuk apa dibahas lagi bu…….., jika intinya ibu selalu memaksaq untuk bersedia di poligami.

Aku tidak membenci ibu…… aku menyukai ibu……. aku menghargai ibu sebagai guru q.

Intinya, dalam islam pernikahan itu ada dua. Pertama pernikahan monogami dan kedua pernikahan poligami. Kedua-duanya dibolehkan dalam islam tetapi yang lebih utama adalah pernikahan monogami. Dan aq menginginkan pernikahan yang utama itu buk……

Mungkin cukup sampai disini dulu curhatq. Q akan curhat lagi mengenai topic lain atau tidak tertutup kemungkinan mengenai topic ini lagi jika dirasa masih perlu. (oleh : Sri Rahmadhena binti M. Nasir ibn M.Na”im mahasiswi IAIN IB Padang Fakultas Tarbiyah Jurusan Pendidikan Agama Islam semester VII yang sehari-harinya menjadi Kuli Dan Petani” dan bercita-cita menjadi seorang “professor” . Dilahirkan dari rahim seorang ibu bernama Asnimar binti Sa”ad. yang hanya mempunyai 5 saudara kandung (Sri Wahyuni, Hengki Patrio Nasa, Syamsul Arbi, Sri Fauzia dan M.Azam Maulana )