“Maaf aku tak bisa menemui dirimu hari ini”

”Aku juga tau, engkau takut akan hukuman itu kan?”

Berat hati mengungkapkan itu pada Ani tapi ia mengerti dengan keadaan saat ini. Minggu ini sedang gencar-gencarnya razia di pondokan. Santri laki-laki dan santri perempuan dilarang bertemu tatap muka dan berbincang berdua. Hal ini dikarenakan sebuah kasus pembina pondokan putra dan putri yang tertangkap mata jalan bareng di sebuah pusat perbelanjaan. Karena itu, disiplin pondok mulai diperketat. Santriwan dan santriwati pun dilarang tatap muka langsung.

Dengan peraturan baru itu, aku merasa hak hidupku terampas. Kenapa tidak, biasanya aku bisa berjumpa dengan Ani setiap hari, berbincang bersama melepaskan rasa dan penat beraktivitas seharian.  Aku terbebani dengan ini. Berbeda dengan ani yang tenang dan mengerti dengan situasi saat ini. Itulah Ani, gadis manis yang sangat pengertian. Karena itu jua lah ku tancapkan mata batinku padanya. Sikapnya yang pengertian dan lembut membuat jiwa ini tenang berada disisinya.

Malam……..

Keheningan malam menyeret aku pada bingkai masa lalu ketika pertama kali aku bertemu dengan Ani. Satu tahun lalu,  disudut sekolah pandangan terhenti pada sosok gadis kecil yang manis dan lugu. Mataku tak beranjak dari pandangan pada dirinya. Jantung hati berkata, inilah dia yang ku cari. Jiwa yang dinanti selama ini. Aku pun bertekad dalam hati bisa mendekati gadis itu. Gadis impian yang kucari. Aku terlena dengan pandangan pada dirinya.

”Assalamualaikum ya akhi, limadza anta? Ma dza tanzur ya akhi?” tiba-tiba ali mengejutkanku dengan pertanyaannya. Seketika itu juga sosok gadis itu hilang dari pandanganku.

”Ya……., hilang deh”.

”Apanya yang hilang, akhi?”

”o, anu…anu…”

”anu apanya neh?”

”aah…., ga’. ”Li, ud selesai tugas B.arab nya? Minggu depan kita ulangan B.arab khan?”

”Apa yang terjadi pada dirimu sob, aku tanyain malah komentar yang lain. Gimana sih? G’ nyambung”

”ga’ masalah nyambung atau ga’ nya sob tapi sekarang bel masuk udah bunyi mendingan sekarang ke lokal aja.”

”Ih, wedan. Tambah ga’ nyambung. Mesti periksa nih otakmu”.

”Biarin”, ungkapku sambil berlalu meninggalkan ali.

Pelajaran B.arab dimulai. Saat itu barulah aku teringat tugas yang diberikan ustadz minggu lalu belum selesai ku kerjakan. Aduh, pasti dihukum dech gara-gara tugas ini. Tapi biarlah dihukum hari ini, yang penting hatiku bahagia karena melihat gadis cantik tadi.

”ayyuhath thullab, al an nadrus lughatul arabiyyah” hayya naqra’ basmalah”

Lidahku berat untuk mengucap basmalah. Yang ada hanyalah ingatan pada gadis tadi yang telah menyiksa batinku dengan wajahnya yang menghanyutkan setiap mata yang memandangnya. Aku ber-angan bisa berjumpa dengannya dan mengajak dia jalan berdua. Dan aku pun akhirnya mendapatkan cinta gadis itu. Gadis itu tak menolak dan menerima ajakanku. Aku pun kegirangan dan berteriak gembira.

Tapi, apa yang terjadi, ternyata itu hanya lamunanku. Seisi lokal terdiam karena teriakan kegiranganku. Akhirnya ustadz pun mendekati tempat dudukku dan berkata, ”Ahmad, limadza anta?”

Dengan gugup aku pun menjawab, ”afwan ya ustadz, ana berangan mendapat keberuntungan ya ustadz. Makanya ana teriak. Sekali lagi afwan ya ustadz”

”Kali ini ustadz maafkan tapi lain kali jangan diulangi ahmad”

”Ya ustadz”

”Selamat, selamat” ungkapku dalam hati.

Pelajaran B.arab kali ini tak bisa ku terima dengan baik. Pikiranku tak henti pada gadis tadi. Aku pun tersadar bahwa aku sedang menuntut ilmu. Jadi aku harus fokus pada pelajaran karena jauh dari luar daerah aku datang ke desa ini untuk menuntut ilmu agar menjadi santri yang berprestasi.

Aku pun berjalan mendekati ustadz yang sedang duduk di mejanya. ”ismahli ya ustadz, uridu an aghsilu wajh”

”tafadhdhal”

Dengan sigap ku langkahkan kaki keluar kelas menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahku dan berwudhu. Dengan niat, menghilangkan wajah gadis tadi dari pikiranku saat aku belajar.

Namun, di tikungan jalan menuju kamar mandi aku bertemu dengan gadis tadi. Niat menghilangkan bayangan gadis tadi ternyata harus kusingkirkan karena sekarang ia ada di hadapanku. Dengan ucapan penuh harap, ku latih lidahku untuk mengungkapkan ajakan  pada gadis yang ku damba. Tak ada penolakan, sang pujaan hati pun setuju dengan ajakan itu. Hatiku semakin girang, jiwaku bahagia. Aku pun melompat kegirangan, ku ayunkan langkah dengan girang dan tak henti tersenyum. Jikalau orang tuaku disini, akan kuceritakan hal ini padanya. Karena inilah kali pertama aku merasa bahagia dengan seorang gadis yang mempesona hatiku.

Untuk Ani……….

Senja menjelang,  mentari beranjak pergi, kicauan burung menghilang. Semua insan di komplek pendidikan itu kembali bersiap untuk bermunajat pada ilahi. Lantunan adzan menggema. Memenuhi angkasa raya.

Minggu ini, aku lebih sering melantunkan adzan dan menjadi imam. Tak biasanya ini terjadi padaku. Sebelumnya, aku hanya bisa mempersilahkan seniorku untuk melakukan itu. Entah kenapa, hatiku menjadi berani untuk memimpin peribadatan itu. Tak hanya sekali namun sering dalam minggu ini.

”Ya akhi……., seruan lembut terdengar di telingaku ketika hendak melangkah keluar dari mushalla asrama, seketika itu juga aku menoleh ke arah sumber suara.

”Ani…., ada apa?, ucapku”.

Akhi, Ana mau pulang minggu depan.”

“Lalu, tanyaku dengan sedikit kebingungan”

”Minggu depan Ana dijemput Abi, rencananya mau berobat. Jadi, Ana ingin pamit sekarang. Ana takut kalau saja nanti ketika akan berangkat tidak bisa pamitan dengan akhi, ucap bibir lembutnya padaku”

“O, gitu ya…, ujar ku sambil menggeser hijab mushalla itu dan melangkah mendekati Ani. Sekarang aku telah berada tepat di depan Ani dengan harapan bisa bercerita lebih banyak dengannya karena minggu depan ia akan pulang ke kampungnya. Hatiku sedikit cemas karena peraturan baru di asrama itu, siswa dan siswi dilarang bertemu dan berbincang berdua. Namun, ku kuatkan hati melawan kecemasan itu karena rinduku pada Ani. Aku pun duduk di shaf putri yang pertama kemudian diikuti oleh Ani yang duduk di shaf kedua.

”Emangnya siapa yang sakit Ni?, tanyaku pada gadis yang kusayang itu.

Ana, jawabnya singkat”

”Benarkah? Sakit apa ya habibi?”

Ana tak tau dengan pasti tapi, ketahuilah bahwa jauh sebelum akhi mengenal Ana, Ana sudah merasakan sakit ini.”

Aku pun terkejut, sakit apa gerangan sang penakluk hatiku. Aku tak melihat ciri sakit tampak diwajahnya. Aku pun tak pernah mendengar ia merintih dan mengeluh sakit. Lalu, tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia merasakan sakit. Separuh tak percaya dengan ucapan itu.

Akhi……..”

”Ya,”

”Ya akhi, Dengarkan Ana. Ana ingin satu minggu ini mendengar akhi adzan dan  menjadi imam.”

”Kenapa begitu?”

”Bukankah satu minggu ini engkau telah mendengarku adzan dan imam?” Lalu kenapa engkau memintaku untuk menjadi muadzin dan imam untuk satu minggu yang akan datang? Limadza ya habibi?”, tanyaku padanya.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir manisnya. Ia hanya duduk terdiam tanpa kata dan membisu. Keingintahuanku semakin memuncak, tatapan mataku tak lepas dari pandangan terhadap Ani. Aku menanti jawaban yang dapat memuaskan hatiku. 5 menit ku tunggu tak ada suara, 10 menit, 15 menit. Dan sampailah akhirnya, pembina pondok lewat di depan mushalla dan melihat ke dalam isi mushalla.

Hatiku semakin galau dan risau, adakah aku dan Ani akan dihukum karena pertemuan ini? Tanya itu semakin menyesak ke dadaku. Ku beranikan diri untuk menyapa pembina pondok itu. ”Assalamu’alaikum ya Ummi”, ucapku dengan sedikit gemetar.

Wa ’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh”, Ummi pun menjawab dengan nada lembut tanpa ada tersirat bahwa ia akan marah kepada kami.

”Ani, sudah malam wahai anakku. Kembalilah ke asrama”, ungkap ummi pada Ani sembari mendekati kami berdua.

Ani pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai berdiri tegak berjalan mendekap Ummi. ”Syukran katsiran ya akhi, mudah-mudahan permintaan Ana dikabulkan. Ana pamit dulu, assalamu’alaikum”, ucap Ani dengan nada yang menyentuh hatiku. Dan dengan itu, hatiku menjadi tenang walau pertanyaanku belum sempat dijawab olehnya.

Ani pun berlalu bersama ummi, tiada ungkapan marah dari ummi padaku maupun pada Ani pujaan hatiku, lentera jiwaku.

Tiba-tiba Ummi berbalik dan berkata, “Oya, jangan lupa belajar ya Ahmad!”

Na’am ummi”, ungkapku sambil berdiri.

Selepas hilang dari pandangan Ani dan Ummi, aku pun berbalik arah dan mengayunkan langkah dengan ringannya menuju asramaku.

Minggu itu…..

Seminggu yang lalu, aku telah menepati janjiku pada Ani. Akulah yang menjadi mu’adzin dan imam di mushalla asrama. Aku lakukan itu bukan semata karena Ani. Namun, itu ku lakukan karena aku merasa inilah saatnya aku beribadah dengan baik dan benar. Karena semula sebelum ku mengenal Ani, aku tergolong siswa yang berlangganan jadi masbuq dalam beribadah. Ani menjadi inspirasi dan penyemangat jiwaku.

Masih lekat di ingatanku bahwa Ani akan pulang untuk berobat minggu ini. Namun, sejak subuh tadi aku tak melihatnya. Kemanakah ia gerangan pujaan hatiku itu? Aku menunggu ia turun dari asrama lantai II, karena disanalah ia beristirahat dan menjalani aktivitas belajar sepulang sekolah.

5 menit ku tunggu ia belum juga keluar dari asrama itu. Sembari menunggu kedatangannya itu, aku sempat berbincang dengan kepala asrama. Aku sedikit bertanya dengan paras tidak tahu sama sekali dan keingintahuan yang besar perihal kepulangan Ani hari ini. ”Bunda, benarkah ada santri putri yang pulang hari ini?”

”Ada, jawab Bunda singkat”

“Siapa ya Bunda?, tanyaku dengan nada merayu”

“Ani, santri di lantai II, ia pulang ingin berobat.”

“Ani.., Ani, oo Ani yang manis itu Bun?”

“Ya, jawab bunda sambil menepuk pundakku”

Aku tergolong santri yang dekat dengan Bunda, karena itu aku berani bertanya tentang Ani pada Bunda.

”Ani itu sakit apa ya Bun?, tanyaku lebih lanjut”

”Kenapa ingin tahu tentang Ani, Ahmad? Ada apa dengan engkau dan dia?, ucap Bunda dengan nada menyelidik”

Aku pun tersenyum dan mendekat pada bunda, “Setauku Ani itu sehat Bun, lalu kalau tiba-tiba ia dikatakan sakit. Aku kurang percaya Bunda. Bunda kan tau, aku santri Bunda yang besar rasa keingintahuannya”, ungkapku dengan pe de-nya.

”Benarkah, bunda balik bertanya padaku”

”Ya donk, ungkapku sambil tertawa.”

Tiba-tiba Bunda diam, aku pun heran dengan sikap Bunda. Aku tertawa Bunda terdiam. Ada apa dengan Bunda? Tanyaku semakin melejit jauh ke langit.

Bunda pun berkata, ”Ani itu anak yang pintar dan punya banyak kelebihan namun, dibalik kelebihannya itu ia punya kekurangan. Ia seperti sehat namun sebenarnya ia merasakan sakit yang teramat perih. Ia menderita paru-paru 1 tahun yang lalu. Dia telah berjuang sekuat hatinya untuk dapat membahagiakan orang tua dan orang-orang yang  dikasihinya dengan belajar dan menghadiahkan prestasi. Namun sekarang, ia tak kuasa lagi. Ia harus berobat kembali karena penyakit yang dideritanya semakin menyiksa jiwanya”. Bunda pun lirih dan matanya pun berkaca-kaca.

Begitu juga dengan aku, yang semula hatiku bahagia sekarang berubah jadi duka. Seakan turut merasakan sakit yang dialami Ani. Benarkah itu? Kenapa Ani tak pernah cerita denganku? Kenapa ia merahasiakannya padaku? Tidakkah ia merasa aku ada untuknya berbagi suka dan duka? Air mata ku pun menitik dengan pelannya.

Tak lama setelah itu, Ani pun muncul dari asrama lantai dua. Dengan segera kuhapus air mata dan beranjak mendekatinya. ”Assalamu’alaikum ya akhi, kata pertama dari Ani padaku minggu itu.

Wa ’alaikumussalam”. Jadi pulang sekarang An?

”Ya, Abi dan Ummi sudah datang menjemputku. “Akankah engkau mengantarku, ungkap Ani padaku dengan beraninya padahal disana ada aku, dia dan Bunda pimpinan asrama”

Aku pun menatap Bunda, dengan harapan Bunda mengizinkan aku mengantar Ani. Bunda pun mengangguk. Hatiku pun lega, tanpa pikir panjang ku raih tas bawaan Ani dan ku langkahkan kaki mengantar Ani pada Ummi dan Abi-nya.

Di perjalanan menuju tempat parkir kendaraan orang tua Ani, aku pun berujar pada Ani, ”Adakah engkau akan lama meninggalkan aku?”

Ani pun menempatkan pandangannya padaku, dan itulah pertama kalinya Ani berani menatapku.

”Lho, kenapa An?”

”Aku akan segera kembali dan menemuimu,  aku hanya rindu dengan kedua orang tua dan keluargaku. Jadi aku akan secepatnya kembali ke asrama untuk menuntut ilmu kembali bersama denganmu.”

Ku pandangi Ani, hatiku pun kembali berkata. Ani berbohong padaku, ia berucap hanya rindu pada keluarganya padahal ia merasakan sakit yang begitu menyiksa batinnya.

Sampai di lapangan parkir, aku melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam. Hanya itu kendaraan yang parkir di lapangan yang luas itu. ”Itukah mobil orang tuamu An?, tanyaku”

”Ya, jawabnya singkat”

Sebelum sampai di mobil itu aku sempat berkata pada Ani, ”Ani, janganlah engkau rahasiakan sesuatu padaku. Aku akan selalu ada untukmu. Engkau bahagia, aku pun bahagia. Engkau sedih aku pun teramat sedih”.

”Kepulanganku, selain aku rindu pada keluargaku aku juga ingin berobat wahai pemilik hatiku, ucap Ani”

”Ya, aku tau itu. Aku berharap tidak ada rahasia lagi untukku. Aku masih menanti cerita darimu. Sesampai di rumah nanti jika engkau merasa masih ada sesuatu yang tersimpan rapi di hatimu, ungkapkanlah padaku. Aku menunggu kisah darimu.”

Seketika itu juga, orang tua Ani telah  menunggu dan membukakan pintu untuk anaknya. ”Ani, ucap seorang perempuan padanya. Perempuan itu pun keluar.

Batinku berkata, inilah orang tua Ani. Ternyata benar. ”Terima kasih ya nak sudah mengantar Ani, ngomong-ngomong namanya siapa?”

”Ahmad ya ummi, ungkapku dengan sopan”

”O, Ahmad” ia berkata seakan ia sudah mengenalku padahal inilah kali pertama aku berjumpa dengan umminya Ani.

Ani pun masuk ke dalam mobil itu. Kemudian tiba-tiba ia keluar dengan sebuah bungkusan plastik yang agak besar.

”Ummi, ini untuk Ahmad bukan?, tanyanya pada Ummi”

”Ya sayang, jawab ummi kemudian mendekapnya”

Akhi, terimalah ini”

”Apa ini An?”

Ia hanya tersenyum dan berkata, “aku pulang dulu ya”

“Baiklah, hati-hati di jalan ya. Jangan lupa baca do’a dan selalu dzikir, ucapku”

“Baiklah kalau begitu nak Ahmad, kami pamit dulu. Assalamu’alaikum

Wa ‘alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh”, ucapku sambil memberi tempat agar mobilnya bisa berputar arah.

Mobil pun berbalik arah dan meninggalkan aku di lapangan yang luas ini. Masih sempat ku lihat Ani tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Kemudian ia pun berlalu.

Ani ku yang hilang……….

Seminggu sudah Ani tak berada di asrama. Aktivitasku menjadi mu’adzin dan imam di mushalla asrama tetap ku lakukan. Dengan itu, penduduk asrama semakin mengenalku dan berlaku ramah.

Lama ku menanti kedatangan Ani. Namun, ia tak kunjung datang. Di sekolah, aku semakin giat belajar dan beribadah dengan harapan setibanya Ani nanti, aku akan menunjukkan padanya bahwa aku selalu berjuang untuk hidupku. Ku ingin perjuanganku ini juga menjadi motivasi untuk Ani agar ia tetap berjuang keras demi hidupnya, walau terkadang ia merintih.

Hari demi hari ku lalui, puluhan prestasi telah ku raih. Namun, Ani ku tak kunjung datang. Perasaan gundah melanda hati. Semakin hari semakin gundah menantinya. Tiadakah kabar untukku tentang keadaannya?

Pagi itu, aku mandi lebih awal dari biasanya. 1 jam sebelum pelajaran di sekolah dimulai aku telah siap dengan perlengkapanku. Tentunya aku juga sudah sarapan pagi walau tanpa melihat Ani dalam minggu-minggu terakhir ini.

Karena pelajaran di sekolah belum dimulai, aku pun menemui Bunda pimpinan asrama. Setelah mengucap salam aku masuk ke ruangan utama tempat bunda biasa beraktivitas. Aku pun mulai berbasa basi untuk memulai percakapan dengan Bunda. Kemudian sampailah pada pertanyaan itu. “Bunda, adakah kabar dari Ani?, tanyaku singkat”

Bunda menatapku seraya menjawab, “Belum ada kabar darinya. Ada apa denganmu sampai engkau bertanya demikian Ahmad?”

Diam sejenak lalu aku menjawab dengan berani, Ani itu adalah teman terbaikku Bunda. Jadi aku ingin tau bagaimana kabarnya saat ini”

“Bunda belum tau nak, sampai saat ini tiada kabar dari temanmu itu. Sekarang berangkatlah menuju kelasmu. Bersiaplah untuk pelajaran hari ini, perintah Bunda padaku.

Dengan gerakan lambat dan malas ku langkahkan kaki meninggalkan Bunda. Baru 10 langkah dari pintu ruangan Bunda, terdengarlah bunyi deringan telepon. Aku pun terhenti. Berharap itulah Ani yang akan menyapaku pagi ini. Namun, tiba-tiba Bunda keluar dari ruangan itu dan berujar, ”Ahmad, ada kiriman surat untukmu dari Ani di kantor sekolah”

Aku pun girang, semula aliran darah di tubuh terasa cepat dan kencang. Aku pun berlari tanpa lupa mengucap terima kasih pada Bunda menuju kantor sekolah. Puluhan tangga ku lalui dengan cepatnya karena aku yakin ada pesan penting dari Ani melalui surat itu. Aku yakin, Ani  akan memebriku kejutan dengan surat itu. Dan ia akan datang dihadapanku setelah mengelabuiku dengan surat itu.

Ya, ternyata ada. Seorang lelaki mengantar surat itu padanya. Lelaki itu mengaku adalah sopir keluarga Ani dan aku percaya itu karena selintas dahulu aku pernah melihatnya sewaktu aku mengantar Ani pulang.

”Surat ini untukmu nak Ahmad, ujar lelaki itu padaku”. Kemudian ia menjauh dan membiarkan aku membuka amplop surat yang indah itu. Ku baca surat itu, namun tulisan di lembaran terakhir surat itu membuat aliran darahku berhenti seketika itu, linangan air mata tak terbendung, tubuh layu dan tertunduk jatuh. Dunia seakan gelap bagiku. Aku tak kuasa, aku tak berdaya. Ternyata, Ani yang ku tunggu selama ini telah hilang. Ia menutup matanya untuk memandang indahnya dunia. Jantungnya berhenti berdetak dan tiada nafas lagi.

Suatu kenyataan yang tak bisa ku terima saat itu, ia telah berlalu meninggalkan aku. Mengapa ini terjadi begitu cepat? Mengapa ia tinggalkan aku dengan seribu kebingungan tentang dirinya? Aku tak percaya.

Berkali-kali ku baca lembaran demi lembaran kisah darinya. Hatiku membeku, begitu dingin tak sanggup untuk bergerak lagi. Yang ada hanya derasnya air yang mengucur dari bola mataku dan perasaan sedih yang mendalam.

Entah berapa lama aku berada di kantor membaca surat dari Aniku. Aku tak mengerti dan tak tau. Yang ku tau aku terbaring di sofa kantor dengan puluhan bola mata yang memandangiku saat itu.

Menangisi kehilangannya….

Siang itu, sang pengantar surat masih ada di sekolah. Aku pun memohon dengan harap pada Bunda agar diizinkan pulang ke rumah Ani bersama lelaki pengantar surat tadi. Bunda tak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku dengan matanya yang telah sembab sembari membukakan mobil mewah yang dahulu digunakan Ani untuk pulang ke rumahnya. Tanpa ragu ku cium tangan Bunda dan langsung masuk ke mobil.

Di perjalanan, tak ada yang dapat ku ucap. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Ani, Ani dan Ani. Kenapa ia begitu cepat berlalu. Kenapa ia pergi menghilang dengan kebingungan yang besar di benakku.

Sore itu juga, aku sampai di rumah Ani. Dari halaman depan rumah sudah berjejer insan berupaya masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Aku pun tak percaya, keluarga Ani bisa memiliki mobil mewah namun, rumah tempat tinggalnya hanya terlihat sederhana. Tak semewah mobil yang dimilikinya. Tapi, pikiran itu segera berlalu. Seketika masuk ke dalam rumah itu, aku masih diliputi kebingungan. Tiada tangisan, yang ada hanyalah keheningan yang begitu dalam. Tiada suara. Tiada isak tangis. Ku Langkahkan kaki menuju ruang tengah, disitulah kebingunganku terjawab. Benar ini adalah rumah Ani karena ku lihat perempuan yang dulu pernah ku temui sewaktu mengantar Ani. Ya, dialah Umminya Ani. Disana, Ummi tengah memeluk erat tubuh yang tiada lagi menghembuskan nafas. Terbujur kaku, ditutupi dengan kain panjang dan kain transparan di bagian mukanya. Aku pun mendekat. Jantung pun berdetak semakin kencang, tak terkendali. Perlahan ku buka kain transparan penutup wajah yang terbujur kaku itu. Seketika itu pula aku merintih. Semua kebingunganku terjawab. Dialah Ani yang telah lama ingin ku temui. Tuhan berkehendak aku bertemu dengannya disaat tiada lagi nafas yang terhembus dari tubuhnya.

Aku terdiam, tak dapat berkata. Dan tak mengeluarkan rintihan suara. Air mata begitu besar  membanjiri pipiku. Tiada hambatan jatuhnya tetesan air mata itu. Perasaan hati ikut mendorong mengalirnya air mata yang begitu banyak tanpa iringan suara rintihan.  Tiada yang bisa ku perbuat selain menangisi kehilangannya.

Prosesi demi prosesi ku lalui dengan khidmat. Tak banyak berkata. Ku lakukan apa yang dapat ku lakukan dengan kondisi tubuh yang melemah dan tiada semangat.

3 hari aku di rumah Ani, barulah keluarga Ani bicara padaku. “Nak Ali, seminggu yang lalu Ani berpesan pada Ummi, jika dia tak bisa lagi membuka mata dia meminta ummi untuk memberikan bingkisan ini pada Ali, ucap Ummi dengan raut kesedihan sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Ali.

Hati pun semakin berduka. Ani yang telah hilang ternyata menyediakan bingkisan untukku seakan ia sudah bersiap dengan kepergiannya. Dengan gerakan lemah dan lambat, ku buka bingkisan itu dan ternyata sebuah lampu meja kecil yang indah dan berwarna. Apakah maksud Ani? Kenapa ia meninggalkan itu untukku?

Ku keluarkan lampu meja mungil itu dan dibawahnya terselip sebuah goresan tangan bertuliskan :

wahai penggugah hatiku

inilah aku yang sendu

kau dapati aku dengan nada pilu

tanpa kau tahu mulanya begitu

aku begitu lemah dan tak berdaya

telah ku coba bertahan untuk tetap menatap dunia

perjuanganku  begitu besar dan tak terhingga

kini saatnya aku menemui sang Maha Kuasa

maafkan aku yang telah menyimpan rahasia padamu

aku tak berniat menyakitimu

tapi menyimpannya darimu menjadi pilihan utama bagiku

karena aku masih ingin menatapmu

ketahuilah, aku mencintamu karena keikhlasanmu

karena ibadahmu

dan karena imanmu

terima kasih telah menjadi penjaga hatiku

walau seribu duka telah ku tinggalkan untukmu

andaikan aku masih bisa menatap dunia

aku ingin hidup denganmu bersama

menjalani hari indah dengan sempurna

tak kan ku biarkan sedikitpun air mata

karena aku cinta……..

tetaplah kumandangkan adzan

akan ku dengar di kejauhan

dan tetaplah menjadi imam

akan ku ku ikuti jauh di dalam

Tertanda

Fadhilah Farliani

Jadilah aku jiwa yang sepi. Terselimuti kesedihan yang mendalam. Aku berjanji akan selalu mengumandangkan adzan dan menjadi imam untuk ibadahku dan untukmu Fadilah Farliani