PANTASLAH ENGKAU MENJADI ORANG YANG DIMULIAKAN
Tiada penghargaan yang diberikan pada seorang yang telah mampu mencerdaskan ribuan orang melainkan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu besar pengorbanannya, namun ia diberi gelar seperti itu. Tidakkah terlalu pelit, memberikan apresiasi untuk jiwa yang telah mampu mendewasakan jiwa seseorang? Jiwa yang telah mampu mengisi kekosongan jiwa insan lainnya? Jiwa yang telah mampu merubah sesuatu ke arah yang lebih baik.
Begitu besar pengorbanannya. Mulai dari pengorbanan waktu yang sangat berharga. Ia rela menghabiskan waktunya untuk menjadikan jiwa-jiwa yang kosong menjadi penuh dengan niat kebaikan. Menjadikan jiwa-jiwa mampu berdiri sendiri menjalani hidup yang teramat semu. Bangun lebih cepat dengan tujuan agar dapat melakukan perannya dengan baik di sebuah lembaga yang sarat akan kedisiplinan. Merasa bersalah jika “sang pencari” tidak ia temui secepat mungkin. Merasa berdosa jika “sang pencari” tidak menemukan apa yang dicarinya.
Tak hanya itu, seusai menunaikan kewajibannya merubah jiwa “sang pencari” ia masih disibukkan dengan seabrek persyaratan administrasi yang membuat kepala berputar tak keruan. Membuat ia jungkir balik menyelesaikan administrasi itu.
Pengorbanan tak hanya sampai disana. Tanggung jawab yang berat masih diemban di pundak. Meski lelah, letih dan tak berdaya. Ia mesti melaksanakan tugas yang telah digariskan padanya. Penguasaan materi, penguasaan lokal, hasil akhir itulah secuil indikator yang mesti diperhatikan dan dijaganya dalam tugas sebagai seorang pendidik.
Tapi, adakah ”sang pencari” menghargai jerihnya itu? Adakah ”sang pencari” memikirkan betapa lelahnya ia? Adakah ”sang pencari” mengerti keadaannya? Adakah ia diperlakukan dengan adil?
………………………………………………………..
Sulit untuk menjawab hal ini. Susah untuk menjawabnya.
Sedikit dari mereka (sang pencari) yang menghargainya, sedikit dari mereka yang memikirkan betapa lelahnya ia. Sedikit dari mereka yang mengerti keadaannya. Sedikit dari mereka yang memperlakukan ia dengan adil.
Betapa tidak, di saat ia telah lelah berbagi ilmunya sang pencari anggap itu sebagai hal yang sepele. Disaat ia telah lelah berbakti tidak sedikit dari mereka (sang pencari yang tidak menghargainya menganggap remeh dirinya. Dimanakah letak nurani mereka sebagai seseorang yang mempunyai perasaan? Dengan tidak merasa bersalah mencakar sang guru yang menyita hp-nya saat jam pelajaran berlangsung. Merasa bangga ketika berani melawan sang guru. Merasa hebat ketika berhasil meloloskan diri dari jam pelajaran.
Apa yang salah padamu wahai sang pencari kebenaran? Telah lelah gurumu mendidik, membimbing dan mengarahkan dirimu. Telah ia tampilkan keteladanan padamu. Lalu apa yang kurang darinya? Kenapa tak kau hargai dia? Adakah karena ia masih muda dan belum layak engkau hargai? Adakah karena badannya terlalu kecil darimu?
Ketahuilah dia tak lebih buruk darimu. Dia tak lebih kecil dari dirimu yang mengkerdilkan jiwanya. Dia lebih berpengalaman dari dirimu yang hidup lebih muda karena untuk bisa berdiri di hadapanmu itu butuh 16 tahun belajar.
Mengapa kau berlaku tak menghargainya? Mengapa kau buat ia meneteskan air mata karena sikapmu? Mengapa kau biarkan hatinya terluka?
Seketika engkau membuat hatinya terluka, engkau tak hanya membuat ia bersedih namun kau telah menorehkan dosa di catatan amalmu. Tidakkah engkau sadari itu? Tidakkah engkau takut akan balasan Yang Maha Kuasa atas sikapmu pada orang yang telah berusaha mendewasakan dirimu? Tidakkah engkau mengerti apa yang ia harapkan darimu?
Mengertilah akan dirinya wahai jiwa “sang pencari” karena ia lebih mulia dan malaikat akan senantiasa mengepakkan sayap bagi orang yang berilmu. It’s promise.
Oleh : SRD
srirahmadhena.wordpress.com
rahmadhena_06@yahoo.co.id