Cinta…………….
Rasa itu sungguh mendera batinku. Cinta yang membuat hari-hariku menjadi bahagia karena indahnya. Namun, jika cinta tidak diungkapkan sungguh menjadi penyakit yang menyusahkan. Membuat tak berdaya, menjadikan orang lemah bahkan kehilangan arah. Karena cinta, adalah rasa yang mesti ada.
Semua orang memiliki cinta dan bebas mengapresiasikan cintanya pada apapun, siapapun, kapanpun dan dimanapun. Seseorang yang dilanda cinta akan menjadi orang yang teramat bahagia karena itu tak ada seorang pun yang membenci dan menolak rasa itu.
Begitu juga denganku, yang memiliki cinta. Tapi, sungguh sedihnya hati ini saat orang yang dicinta perlahan pergi jauh. Ketika cinta pertama pergi untuk selama-lamanya. Cinta kedua telah bersama orang lain. Cinta ketiga, dimakan api cemburu. Cinta keempat mendua. Sampailah aku pada cinta kelima sepanjang usiaku.
Adi, begitu ia disapa. Pelantun adzan terindah menurutku. Karena itulah cinta ini ada padanya. Kesetiaannya, ketaatannya, ketekunannya dan kecintaannya pada Sang Khaliq membuat aku menancapkan mata batinku padanya.
Hari-hari ku lewati bersama dengannya tanpa ia tahu bahwa aku mencintainya. Ia tak pernah menolak kehadiranku. Bahkan ia selalu ramah dan berlaku baik. Keakraban membuat aku senang berada disisinya. Terlebih karena ia orang yang ku cinta.
Ketika keakraban sangat melekat di jiwa, sampailah ia pada pertanyaan tentang cinta. Aku hanya bisa diam. Aku berharap, dia yang akan mengungkap rasanya padaku. Namun, sebuah pertanyaan mendarat di hadapanku ”Sebenarnya kamu menganggap aku sebagai apa selama ini?” Pertanyaan itu membuat detak jantungku mengencang. Hati kecil berkata ”Kenapa pertanyaan ini yang diajukannya padaku”
Aku berharap dialah yang mengungkapkan kata cinta itu padaku. Namun, pertanyaannya itu membuat akulah yang mengungkap cinta itu padanya. Ku ungkap padanya bahwa aku mencintai dirinya karena ketaatan dan cintanya pada Ilahi. Berada di sisinya menjadi ketenangan bagiku. Berbincang dengannya menyejukkan kalbuku karena di setiap ucapannya menyentuh mata batinku. Setelah itu ku biarkan dirinya merespon ucapan dan pengakuan dariku tentang rasa cinta padanya.
Sejenak terdiam, aku berharap ucapan dari bibirnya sama dengan apa yang ku rasa namun sungguh kecewa diriku ketika ia menjawab ”kita hanyalah sebuah tim yang harus selalu bekerja sama agar tercapai tujuan yang diinginkan, jika kita selalu kompak maka apa yang dicita-citakan akan terwujud”. Jawaban ini tak memihak padaku. Seketika itu aku berpikir bahwa ia tak berani mengungkapkan dengan jujur apa yang ia rasa terhadapku. Apakah ia juga memiliki cinta seperti cintaku padanya? Sampai detik ini pun aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu.
Hari-hari berlalu, masa keakraban dan kebersamaan itu pun berakhir. 2 bulan sudah menjalani hari-hari bersamanya dengan tim pengabdi masyarakat lainnya. Banyak kisah yang telah tercipta bersamanya. Tak akan mungkin mudah dilupa.
Awal mula berjumpa dengannya, aku mengenal ia sebagai seseorang yang teramat taat pada Allah. Ketaatannya mampu menggoyahkan hatiku. Kebersamaan dalam menjalani sebuah tugas dalam satu tim membuat hatiku nyaman berada di sisinya. Saat mengenali dirinya, aku juga sudah punya cinta. Tapi, entah kenapa bagai sebuah keajaiban. Disaat aku mengenalinya sebagai seorang tim, cintaku pun mendua degan rekan tim lainnya. Kesedihan yang membara menghanguskan hatiku. Namun karena dirinya, api kesedihan itu dapat dipadamkan dengan kesejukan yang ia berikan selama bersamaku. Ia datang sebagai obat penawar luka hatiku.
Dengan keadaan demikian, luka akibat dimadu pun tak terasa begitu perih karena ia telah hadir disampingku untuk mengobati luka itu. Ia ada di sampingku untuk membuat aku bahagia, ia ada untuk menghentikan air mataku karena luka dimadu.
2 bulan bersamanya cukup meyakinkan aku, bahwa ia adalah yang terbaik. Tapi, disepanjang perjalanan tugas tim itu, ia tak pernah mengungkapkan apa yang ia rasa padaku. Sedikit kecewa tapi biarlah bagiku dia ada untukku itu sudah cukup.
Sekarang saat dia sudah jauh dari pandangan, aku hanya bisa mengingat masa indah bersahabat dengannya. Karena kalaupun aku menginginkan cintanya itu tak mungkin karena saat ini dia juga punya cinta yang lain. Terima kasih atas kebaikan dan kebersamaan yang telah engkau ciptakan bersamaku selama ini. Cinta kelima bagiku cukup berada di dalam ingatan dan perasaan.