Hidup memang tak selalu berjalan indah seperti yang yang kita inginkan. Tidak semua keinginan dapat tercapai di dunia. Ketika mendapat kebahagiaan manusia sering lupa dengan dirinya. Dan saat mendapat petaka manusia sering mengumpat dan menyalahkan serta tidak terima terhadap kenyataan yang harus ia terima.
Aku pernah mengalami kenyataan pahit yang tidak bisa ku terima sampai saat ini. Kenyataan untuk menerima tidak akan kembalinya sahabat dalam kehidupanku untuk selama-lamanya. Sahabat yang telah menemaniku selama 2 tahun masa studiku. Sampai saat ini aku tak percaya bahwa ia telah tiada. Ia pergi meninggalkan dunia ini tanpa berpamitan denganku, sahabat karibnya. Aku hanya bisa terdiam ketika aku mendengar sahabatku telah tiada untuk selama-lamanya.
Malam itu malam Kamis, malam yang biasanya umat Islam dianjurkan untuk melafazkan bacaan surat Yaasin. Aku tak merasa aneh dengan malam itu karena malam itu tidak berbeda dengan malam-malam sebelumnya. Disaat aku tidur pulas. Saat itulah sahabatku menghembuskan nafas terakhirnnya. Ia pergi menghadap Tuhannya dalam keadaan tak berdaya. Ia tak kuasa lagi menahan tubuh yang menderita penyakit mematikan. Setelah 1 bulan bertahan menahan perih yang ia rasa akhirnya ia tak kuasa juga melewati ujian itu.
Pagi hari yang harusnya dapat kurasakan begitu indah namun tidak untuk kali itu. Berita duka itu baru datang ke hadapanku 12 jam setelah ia telah pergi untuk selama-lamanya..
”Ri, teman riri yang bernama syahrul sudah berpulang ke rahmatullah”. Antara nyata dan mimpi, aku terdiam dan kembali bertanya, ”Siapa???”. Temanku kembali berusaha meyakinkanku. ”Ri, alul sudah tiada, rencananya ia dimakamkan siang ini”
”Ani bercanda aja khan!!!!”, ujarku yang sudah separuh tak berdaya.
”Ri, ikhlaskan dia, dia sudah dipanggil dan kewajiban kita untuk melepaskannya dengan ikhlas”
Aku tak percaya itu semua, namun selang beberapa menit Ani kembali meyakinkan aku. Alul sudah tiada. Aku tidak terima. Sahabatku….. kenapa sekarang????? Aku sungguh tak kuasa menerima kenyataan itu.
Mungkin aku bukanlah sahabat yang setia. Ketika ia berperang melawan penyakitnya pun aku tak pernah melihat kepedihan hatinya, kelumpuhan jiwanya, ketidakberdayaan dirinya.
Satu bulan yang lalu, adiknya menelponku dan katakan ”Kak, bang Alul sekarang di rumah sakit? Ia kena kanker darah! Sudah 3 hari disini?”
”Dimana?”
”Di rumah sakit Selasih Padang ruang IGD.”
Dengan alasan sibuk karena tugas sekolah aku mengundur jadwal besuk untuk sahabat tercinta. Dua minggu berselang, aku tak jua menampakkan ragaku menghadap sahabat lawasku itu. Untuk menyenangkan hatinya, aku hanya bisa menelponnya. Namun, sangatlah tak mungkin. Karena ia tak dapat bicara lagi. Ia tak mampu berucap sepatah kata pun. Untuk menyapa diriku saja tak sanggup. Aku tak percaya, ia bukanlah seorang yang betah berdiam diri tanpa berbuat apa-apa. Tapi kini ia sudah tak berdaya lagi. Ia benar-benar lumpuh. Lumpuh fisik dan bathin. Aku hanya bisa menangis, sahabatku tak bisa bercakap lagi denganku. Sempat ku berdoa pada Tuhan, aku ingin dia bisa bercakap lagi denganku karena aku sayang sahabatku itu. Aku ingin ia kembali dapat bercerita dan mengadu keluh kesahnya denganku. Namun, ia tetap tak kuasa. Makan disuapkan. Mandi tak bisa lagi karena telah lumpuh. Ia hanya berbaring dan duduk di kursi roda yang tidak pernah diimpikannya selama ini. Untuk pembuangan saja, ia tak lagi seperti manusia pada umumnya. Ia telah memakai alat bantu. Mungkin hanya hatinya saja yang dapat berpikir leluasa. Hati yang menginginkan kebebasan dan kedamaian.
Dua kali aku menelponnya, keadaannya tak jua membaik. Aku yakin, sebenarnya ia ingin bercakap denganku lebih lama karena aku adalah sahabatnya dan sudah beberapa bulan tidak bertemu karena terpisah kota. Ia studi di padangpanjang, sedangkan aku studi di padang.
Selang beberapa hari setelah telpon kedua dariku untuknya, aku mendengar kabar bahwa ia telah pulang ke kampung tempat orang tuanya tinggal. Kepulangannya ke rumah mungkin akan membuatnya senang dan bahagia karena di rumah ia dapat bertemu dengan orang tua dan saudaranya. Memang sebelumnya, ia sudah 3 tahun lebih tak tinggal bersama mereka. Aku turut bahagia mendengar kabar itu. Ia pulang berarti ia sudah membaik. Diriku bisa sedikitpun tenang, sahabatku sudah mulai membaik. Ketika ku telepon selanjutnya, ia sudah bisa menjawab salamku.
”Assalamualaikum”
”Waalaikum salam”
“Alul nya ada?
“Ya, ini siapa?
“Rini”
“Ooo… kak Rini, bang alul ada”
“Gimana kabar alul?”
“Sudah mulai bisa bergerak, walaupun diatas kasur”
“Makannya gimana?”
”Sudah bisa makan bubur nasi. Ne bang alul nya kak”
”Hallo…..gimana sekarang alul?”
”Ya…. beginilah, masih sakit.”
Eeh…. katanya ga’ mandi-mandi ya??? Dah berapa minggu?
Sudah sebulan.
Iiiihh bau………,
Hanya beberapa menit aku bisa bercakap dengannya. Di telepon itu ia bisa sedikit tertawa bersamaku. Namun, ia tak bisa berlama-lama untuk tertawa karena fisiknya masih terlalu lemah. Walaupun begitu, aku sudah cukup bahagia karena ia bisa kembali bicara padaku meskipun hanya beberapa untai kata.
3 hari sebelumnya………,
Aku bermimpi. Ia datang ke rumahku. Ia memintaku agar diajak keliling kota Padang karena ia belum begitu kenal dengan wilayah di kota padang. Menurutku permintaannya kali itu tidak wajar karena saat itu hari telah gelap pertanda malam menyapa. Aku tidak mengabulkan keinginannya itu. Bahkan aku sempat berkelakar, aku kan perempuan ga’ baik jalan malam begini. Lagian malam begini, mau cari apa? Lihat apa? Kamu aja ga’ kelihatan apalagi kota padang!!.
Ia tetap memaksa. Aku tetap tidak merespon inginnya. ”belum sembuh dah minta keluar malam. Gimana seh??? Mau cari mati”, ujarku.
Aku menyesal telah mengeluarkan ucapan itu. Ternyata sekarang ia telah tiada untuk selamanya. Aku tak bisa menerima semua ini. Ini terlalu berat bagiku. Kenyataan yang sulit untuk ku terima karena aku sangat sayang sahabatku.
Sejak kepergiannya, aku tak ceria seperti dulu lagi. Bagiku dia adalah bagian dari jiwaku. Jika ia hilang dariku maka jiwaku pun akan ikut hilang bersamanya.
Yang paling menyedihkan bagiku adalah sampai saat ini aku tidak tahu dimana ia dikuburkan karena saat pemakaman aku tak ikut mengantarnya. Sungguh sahabat yang tidak setia. Sahabat macam apa aku ini. Saat terakhir dia pun aku tak mengantarnya ke peristirahatan terakhir.
Sahabatku, walaupun sekarang engkau tiada aku akan tetap selalu mengenangmu sampai akhir hayatku. Kesalahan terbesarku padamu tak akan ku ulangi pada sahabat-sahabatku lainnya. Aku janji itu wahai sahabat. Selamat tinggal. Semoga engkau bisa hidup tenang disana. Aamiin.
Kau hadir menemani ruang kosong dalam hidupku, kau terangi sekuat engkau mampu meneranginya. Sahabat…., aku akan selalu mengenangmu. Sampai ujung usiaku.
Kepergian sahabat tidak akan pernah kulupakan. Indah kenangan yang tercipta bersamanya mampu mengalahkan semua rasa. Kini, engkau benar-benar telah menjauh dariku. Berpisah denganku menuju alam yang dinanti. Aku sayang engkau sahabat. Dalam heningku, aku hanya bisa berdoa semoga engkau bahagia disana. Kebersamaan denganmu akan menjadi penyemangat hidupku melanjutkan perjuangan dan impianmu. Janjiku padamu sahabat, akan ku torehkan prestasi untukmu, ku lahirkan karya untuk mengenangmu.
Ku hadiahkan kebanggaan pada dirimu. Aku berharap, engkau selalu menatapku di kejauhan dan tersenyum untuk aku, sahabat yang selalu mencintai dan menyayangimu walau di akhir hayatmu kesalahan besar telah kulakukan yakni tak menemani saat hembusan terakhirmu. Maaf dariku atas salahku padamu selama ini. Tataplah aku dari kejauhan dan tersenyumlah padaku