Ya Allah, sungguh Maha Kuasa dan Maha besarnya Engkau. Engkau tunjukkan kebesaran-Mu. Segala sesuatu yang berharga di mata makhluk-Mu menjadi tak berarti apa-apa, tiada berguna dan berharga dalam sekejap pandangan mata. Engkau jadikan bumi-Mu ini beruraian air mata, suara jerit tangis menggema, suara penuh harapan, kesedihan, duka lara dan kepedihan memenuhi jagad semesta milik-Mu. Bumi ini menjadi terbanjiri dengan air mata dan luapan kesedihan. Makhluk-Mu merintih, merana dan terluka.

Langit sore yang indah berubah menjadi rona hitam kepedihan. Asap membubung tinggi, bangunan yang semula kokoh menjadi bercerai berai, remuk dan luluh lantak. Sungguh Engkau tunjukkan Kuasa-Mu bahwa Engkau dapat menghancurkan usaha makhluk-Mu yang membangun bangunan tinggi dan megah menjadi terkoyak dan luluh lantak hanya dalam hitungan detik.

Sore itu sore yang kelabu bagiku, menatap dunia yang terguncang begitu dahsyatnya, merasa seakan saat itulah akhir kehidupan ini. Gemuruh dan hentakan yang kuat ku rasakan sore itu. Begitu juga dengan makhluk lainnya di bumi Padang tercinta.

Sore itu, aku baru sampai di rumah. Aku baru kembali dari kampus selesai mengurus pendaftaran ulang kuliah. Hari itu, ku membawa makanan pulang ke rumah karena aku yakin di rumah belum ada makanan karena belum ada yang memasak untuk adik-adikku.  Sore itu ku putuskan untuk membeli makanan kesukaan adikku, lele goreng dan telur dadar. Sesampai di rumah, aku langsung menghidangkan makanan itu. Tapi, hanya aku dan adikku saja yang makan karena ayah masih bekerja.

Ayahku pun meminta untuk memasak telur dadar untuk adikku yang belum pulang sekolah supaya nanti sepulang sekolah mereka bisa langsung makan tanpa harus menunggu sambal dimasak. Aku pun memenuhi permintaan Ayah tapi ku selesaikan dulu makan bersama dengan adik kecilku.

Seusai makan, aku pun mempersiapkan bahan-bahan yang akan dimasak. Setelah siap, aku pun berniat menyalakan kompor untuk memasaknya. Di saat itulah guncangan maha dahsyat itu datang. Ketika korek api telah di tangan dan bersiap menyalakan korek api tersebut. Gempa pun mengguncang. Api tak jadi hidup, semua bangunan bergoyang. Barang-barang peralatan di rumah berjatuhan dan pecah. Aku, Ayah, Iib, Uzi dan Uul adikku serta tamu ayah yang sedang mengurus pesanan cetakan saat itu berusaha segera berlari menjauhi bangunan. Tak semudah yang diperkirakan, ketika hendak menyelamatkan jiwa, badan telah berulang kali terjatuh dan terguncang tak bisa berdiri tegak. Aku dan ayah tertatih untuk berlari. Aku sempat melihat pertama kalinya tembok belakang rumah terjatuh dan menghantam peralatan mesin Ayah. Mesin Ayah yang terbuat dari besi dan baja pun jatuh, terbalik dari kedudukannya. Komputer, TV dan alat elektonik lainnya jatuh berserakan namun hanya ku biarkan karena aku lebih memilih menyelamatkan jiwaku.

Sesampai di depan rumah aku mencoba berdiri namun tak bisa, seketika itu pula motor yang diparkir di depan rumah jatuh hampir saja menimpa kaki kananku. Aku bersyukur masih punya kaki kanan ini karena sebuah keajaiban bagiku karena saat motor itu jatuh aku masih sempat menarik kaki kanan ku sambil ”ngesot”. Belum berakhir sampai disana, ruko lantai dua di depan rumah pun ambruk dengan tiga kali ketukan. Ruko itu bergoyang, ke kiri, ke kanan dan kembali lagi ke kiri untuk jatuh bercerai berai. Aku menyaksikan itu terjadi dengan mata kepalaku sendiri. Saat ruko itu terjatuh, aku hanya bisa mengucap puji pada-Mu. Kabut yang timbul karena runtuhan ruko itu pun terbang ke arah rumahku. Saat itu, banyak anak kecil yang berkumpul di depan rumah. Secara spontan aku pun berteriak, ”awas, abu….. balik arah dek….” teriakan itu cukup menyadarkan anak-anak yang ada disana saat itu. Aku dan mereka pun berbalik arah seketika untuk menghindari kabut reruntuhan itu agar tidak melukai mata.

Beberapa menit setelah itu, kami hanya bisa terdiam. Di tengah keheningan dan seruan memuji-Mu, ayah mengingatkan aku. ”Na, pakailah jilbab. Jan masuak ka rumah lai. Awak harus pai dari siko. Ayah takuik kalau tajadi sarupo kajadian di Aceh dulu. Ayah raso, gampo ko bapotensi tsunami. Marilah wak pai bagageh”.

Aku pun menuruti kata-kata Ayah. Dengan segera ku ambil dompet dan ku pasang jilbab. Aku pun bertanya, ”Yah, lewat kama? Jalan lah tatutuik. Awak takuruang disiko”. Karena satu-satunya jalan keluar adalah gang yang kini telah ditimpa oleh ruko lantai dua tadi.

Dengan kecemasan yang memenuhi fikir Ayah, Ayah pun menuntun anak-anaknya menuju jalan keluar. Tak lama kemudian, warga disana bersahutan dan menyampaikan bahwa ada jalan keluar lewat rumah warga yang runtuh. Namun, jalan keluar darurat itu tidaklah aman. Karena rumah yang dilalui itu telah dilalap api. Sungguh sebuah kemalangan yang nyata. Setelah rumah hancur, terbakar pula. Namun, tak ada yang dapat dibantu untuk mereka. Semua orang hanya bisa kepanikan dan pergi menyelamatkan jiwa. Aku, Ayah dan adikku pun pergi menjauh dari kobaran api itu dengan niat untuk menyelamatkan diri ini.

Baru ku sadari bahwa ketika aku, ayah dan adik-adik melewati rumah yang sedang dilalap api itu, saat itu kaca rumah tetangga itu terbakar dan pecah. Jika diingat kembali, sungguh sebuah keajaiban ketika kaca terbakar dan pecah kami masih bisa melewati jalan itu tanpa terkena pecahan kaca yang terbakar itu. Sungguh Maha Kuasa Engkau ya Allah.

Setelah melewati rumah itu, kami pun bersegera meninggalkan daerah itu dan berjalan menuju daerah yang aman. Di perjalanan itu, adikku Iib teringat akan Ibu. Bagaimanakah kabar Ibu? Adakah Ibu baik-baik saja? Iib pun meminta izin pada Ayah, ”Ayah, lai buliah ib pai mancaliak Ibu. Ib nio pai ka tampek Ibu Yah?” Ayah pun menjawab, ”pailah nak, kalau lah basuo jo Ibu turuik aya jo adiak-adiak ka rumah sakit tu. Awak bakumpua disitu”, ujar Ayah sembari menunjuk sebuah rumah sakit tingkat III di Kota Padang. ”Yo yah, Ib pai lu yah”, ucapnya. Adikku pun berlarian mencari tau keadaan Ibu.

Begitu adikku mengejar Ibu, Ayah terus menuntun anaknya. Tak pernah sedetikpun Ayah melepas pegangan tangan kami. Ayah memegang kami dengan erat seakan ia tidak ingin kehilangan kami. Suasana panik. Orang-orang berlarian kesana kemari. Ada yang  berlari dan menggunakan transportasi. Di suasana yang panik dengan ribuan orang berlarian menuju daerah yang tinggi untuk menyelamatkan diri jika terjadi tsunami aku hanya bisa pasrah dan berserah, jika ini adalah akhir dari hidupku aku hanya ingin meninggalkan ini dalam keadaan yang layak.

Perjalanan terus dilanjutkan sehingga sampailah kami di rumah sakit tingkat III Reksodiwiryo Kota Padang. Berhenti sejenak untuk melepas kegundahan. Disana mulailah kegundahan Maha dahsyat melanda diri. Ku coba pandangi langit yang telah berubah kelam karena asab yang membubung. Bunyi klakson yang memekakkan telinga, sahutan pujian pada Yang Maha Kuasa dan ribuan manusia berlarian. Aku lemah, lunglai, bibir kelu, ku coba ungkap pada Ayah bahwa aku khawatir dengan Ibu dan saudaraku yang lain. Mereka tak ada disini. Dimana mereka? Adakah mereka baik-baik saja? Namun, kata-kata itu begitu berat untuk terucap dari bibirku. Aku hanya bisa memandangi ayah yang tengah memeluk erat Uul adikku. Matanya berkaca. Rona wajahnya memancarkan kesedihan yang membara.

Detik demi detik berlalu, sampailah aku pada pandangan yang membuat tubuh ini kaku. Aku menyaksikan seorang gadis malang yang tak bernyawa karena kepalanya telah berlumuran darah karena pecah. Saat itulah air mata membanjiri pipi hingga membasahi jilbab hitamku.

Di tengah aliran air mata itu, aku berteriak dan menyahut pada Ayah, “Ayah, baa kaba Ibu, Iib yang manjapuik Ibu ndak datang juo. Marilah kito turik ka sinan Yah. Ndak lamak parasaan na do Yah. Asok mambubuang tinggi dari arah tampek kadai Ibu. Liek lah ayah.  Ayah…. ayah…. ayah….”, ujar ku sambil menitik air mata yang begitu banyak.

”ondeh nak, tanangkanlah hati na dulu. Ayah lai cameh pulo. Tapi, kito nantilah sabanta lai”, ucap ayah menenangkan diriku.

Aku pun melepas genggaman tangan ayah sembari berjalan menuju keluar pagar. Saat itu, bertemulah aku dengan teman sewaktu MTsN dulu. Ia bernama Rahmi. Sambil berpelukan dan menangis aku menumpahkan rasa gundah di tubuhnya. ”Mi, rumah dna hancur. Dna harus tingga dima? Kini rumah tetangga belakang sadang tabaka. Kalau rumah tu tabaka na ndak puyo apo-apo lai Mi”

”Na, jan itu yang dipikiaan. Yang penting kini na lah selamat alah tu. Keluarga na yang lain ma?”, tanya dia padaku.

”Keluarga Na tapisah Mi, hanya Dna adik dan ayah yang ado batamu kini. Adik yang lain, Uni, Ibu ndak tau dima kini. Entah baa keadaannyo? Na ndak kuek manjalaninyo do Mi. Kini yang ado raso takuik yang manyiso”, ucapku sambil terisak.

”na, jan lupo ngucap. Hanyo pado Allah yang punyo Kuaso. Minum lah dulu. Ami ado aia”.

Sesaat itu, linangan air mata tak dapat ku tahan. Aku begitu lemah. Hanya bisa menangis dan bersedih.

”Na, Ami nio pai dulu. Ami pulang dulu. Yang penting kini tanangan diri Na, baru cari Ibu jo saudara yang lain. Beko kalau ado apo-apo hubungi sajo Ami. Kalau ndak ado tampek lalok. Lalok se di tampek Ami”, ucapnya lalu memeluk erat tubuhku dan melepasnya.

Terdiam sejenak, melihat Ami perlahan pergi menghilang. Ku coba berjalan kembali menuju arah ayah yang tengah tertunduk dan bersedih. Ku ucapkan lagi pada Ayah, “Yah, marilah wak caliak Ibu”

Ayah pun bangkit dan berkata, “marilah”

Dalam perjalanan, detak jantung semakin kencang. Denyut nadi mengencang. Air mata semakin mengalir deras. Entah apa yang sebenarnya terjadi saat itu. Ketika sampai di depan pasar terandam aku mendengar suara Iib yang menjerit memanggil ayah, ”Ayah….. tolong Ibu”.

Aku yang mendengar suara itu lalu menengok ke arah sumber suara. Ku dapati pandangan yang teramat menyayat hati. Ku lihat Ibu, terkulai lemas tak berdaya. Itulah puncak/ klimaks kesedihan hatiku. Aku teriris, terluka. Ku dapati Ibu terluka bersimpah darah. Ia hanya bisa berbaring diatas sebuah becak seseorang yang rela membawa Ibu di tengah bencana seperti ini.

Air mataku semakin mengalir deras. Andai aku bisa memohon, biarlah aku yang merasakan sakit yang dialami Ibu. Biar aku yang tanggung  derita ini. Aku tidak ingin Ibu yang terluka seperti ini.

To be continued