Berikan Aku Ketabahan

Siapa yang tidak menginginkan menjadi yang terbaik. Aku rasa tiada manusia yang menolak untuk menjadi yang terbaik. Begitu juga dengan aku yang menginginkan keberhasilan, kesempurnaan, menjadi yang pertama dan utama. Namun, betapa sedih dan pilunya hati ini ketika aku telah mencoba jadi yang terbaik dengan segenap usaha harapan itu tak kunjung menghampiri.

Selama ini, aku bangga dengan apa yang telah kumiliki. Merasa bahagia dengan prestasi yang ku torehkan. Namun, akhir-akhir ini, barulah aku mengerti bahwa keinginan dan ambisi untuk menjadi yang terbaik itu sebaiknya tidak menjadikan aku lupa. Lupa akan diriku yang lemah dan tak berdaya. Sehingga ketika keberhasilan itu tidak berpihak padaku aku menjadi seseorang yang tak kuat menerima kenyataan itu.

Aku menyadari, selama ini di setiap perlombaan, ujian, dan tes-tes kemampuan atau kegiatan yang menuntut keberhasilan aku selalu berdoa untuk menjadi nomor satu dan terbaik.  Tanpa pernah aku meminta pada Yang Maha Kuasa untuk menjadi orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi kenyataan apapun yang terjadi dalam setiap perlombaan dan ajang kreativitas yang menuntut keberhasilan itu. aku merasa, saat itu aku adalah seorang yang angkuh. Betapa tidak, aku selalu meminta jadi nomor satu (juara) tanpa memikirkan bahwa aku adalah ciptaan Allah yang berhak menentukan siapa yang pantas jadi yang terbaik.

Sepantasnya, sebagai makhluk Allah kita memohon agar diberi kelapangan hati untuk menerima kenyataan. Jika posisi terbaik itu diberikan kepada kita, alangkah indahnya jika kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menjadi orang yang bisa memanfaatkan dan menggunakan keberhasilan itu untuk sesuatu yang berguna. Jika Allah tidak menghendaki posisi terbaik itu pada kita, alangkah indahnya jika kita diberi ketabahan dan kesabaran dalam menerima kenyataan itu.

Aku teringat dengan kisah seorang anak yang mengikuti perlombaan balap. Sebelum pertandingan dimulai, ia menengadahkan tangannya untuk berdoa dan bermunajat pada sang Ilahi. Sungguh mulia dirinya, ketika sang Juri bertanya tentang doa apa yang ia pinta pada Ilahi sehingga ia menjadi sang juara dan dia pun menjawab ”aku hanya berdoa jika aku kalah nanti berikanlah aku ketabahan dan kekuatan untuk menerima kenyataan kekalahanku” sungguh bijaksananya anak ini. Ia tidak meminta untuk jadi sang juara pada Ilahi tapi ia memohon untuk diberi ketabahan, kesabaran dan kekuatan agar ia bisa menerima kenyataan jika ia kalah nanti.

Dari kisah itulah aku menyadari bahwa selama ini aku hanya bisa meminta untuk jadi yang terbaik tanpa meminta ketabahan menerima kenyataan yang akan terjadi sehingga ketika keberhasilan tidak ku peroleh, aku menjadi seseorang yang amat lemah untuk menerima kenyataan itu.

Lebih kurang lima bulan, aku menjalani masa praktek mengajar di sebuah madrasah di kota padang. Banyak pengalaman berharga yang aku temui di setiap langkah menjalani hari-hari praktek. Pengalaman yang tiada ternilai harganya dengan sebuah mata uang tertinggi sekalipun.

Mulai dari bertemu dengan jiwa-jiwa sang pendidik yang telah bertahun-tahun digaji oleh pemerintah. Mereka teramat ramah dan santun. Sungguh pribadi yang mengesankan. Sambutan yang ramah aku rasakan. Walau tanpa orang tertinggi di madrasah itu.

Hari pertama ku lalui dengan 20 orang rekan lainnya. Tidak banyak yang diperbuat selain melihat kondisi sekolah dan tata cara pergaulan sekolah sembari temu ramah dengan rekan praktek lainnya di perguruan tinggi lain yang telah lebih dahulu praktek di sekolah tersebut.

Bagiku, masa untuk beradaptasi itu tidaklah butuh waktu yang lama. Hal ini dikarenakan guru pembimbing di sekolah itu mempunyai rangkaian kegiatan yang padat di departemen agama. Sehingga, mulai hari pertama aku sudah masuk ke lokal untuk sekedar berkenalan dan bercerita pengalaman dengan siswa-siswa itu. Dan mulai berkenalan dengann guru-guru lain. Khusus bagiku, aku lebih mengenal guru lain terlebih dahulu daripada mengenali guru pembimbingku itu. walaupun begitu, aku dapat memahami posisi guru pembimbing itu karena ia cukup disibukkan dengan posisinya sebagai guru senior.

Jika dibandingkan dengan teman-temanku yang lain, aku dan 2 rekan sekelompok denganku lah yang pertama kali masuk lokal untuk praktek mengajar di madrasah ini.

Sempat aku merasakan sesuatu yang kurang dapat ku terima karena disaat semua rekan kelompok lain telah mendapatkan gambaran kegiatan pengajaran, silabus, jam mengajar dan job kerja yang mesti mereka lakukan, aku masih berkutit dengan guru pembimbingku yang sibuk. Aku harus mengisi jam mengajar beliau tanpa mengetahui dengan jelas kerangka kerja yang harus dilalui.

Namun, itu tidak ku permasalahkan. Aku tetap melalui hari-hari dengan mengisi jam pelajaran beliau sesuai dengan kemampuanku. Pertama kali aku mengajar di kelas VIII. 2 dengan materi tentang bersyukur kepada Allah dalam surat al-Maun dan al-Quraisy. 2 rekanku yang lain tak sanggup mengajar dadakan seperti ini. Sehingga di setiap pertemuan pertama di masing-masing lokal, akulah orang yang pertama kali berbicara dan mengajar.

Ini adalah pengalaman yang sangat  berharga bagiku, karena disaat penting dan mendadak seperti ini ternyata aku dapat melaluinya dengan baik. Aku bersyukur atas hal itu.

Pengalaman lain yang tak kalah penting adalah seringnya aku menggantikan guru yang tidak hadir mengaar di sekolah. Selama praktek, aku pernah mengajar Matematika, Biologi, B. Indonesia, PPKN, SKI, B. Inggris, TIK dan lain-lain. Sehingga murid pun bertanya, ”ibuk ini sebenarnya mengajar mata pelajaran apa?”

Namun, itu ku tanggapi dengan canda bersama murid-murid itu. Banyak tanggapan yang berbeda datang padaku, mulai dari teman PPL lain yang mengatakan bahwa aku punya jam terbang yang cukup banyak, jam ngajar yang padat dan bla bla bla yang mengisyaratkan bahwa akulah yang paling sibuk mengajar dibanding rekan lain. Tanggapan berbeda pun datang dari pegawai di sekolah itu, ia berpendapat bahwa akulah mahasiswa yang aktif di sekolah ini karena tak pilih-pilih pekerjaan yang ingin dilaksanakan.

Bagiku, apa pun pendapat mereka tentang diriku. Aku hanya ingin melaksanakan sesuatu dengan kesungguhan tanpa pilah pilih hal yang mau dikerjakan. Prinsipku, dimanapun berada tunjukkan bahwa dirimu benar-benar bekerja dan dapat bersosialisasi dengan baik. Prinsip ini telah menjadi bagian hidupku sejak usia sekolah dasar karena didikan orang tua. Jadi aku tidak merasakan asing lagi untuk dapat bersosialisasi dan bekerja dengan penuh kesungguhan. Aku teringat dengan pesan Ayah bahwa selagi kita dapat melakukan sesuatu lakukanlah dengan baik sampai tuntas karena dari itu timbulnya semangat. Jadikan sesuatu yang telah dilalui tersebut sebagai pengalaman yang sangat berharga.

Benar memang kiranya, apa yang telah disampaikan Ayah padaku. Buktinya, aku diminta untuk menjadi guru pengganti di madrasah tempat aku praktek mengajar. Saat itu masa PPL belum berakhir, Namun aku telah diminta menjadi guru pengganti disana. Sungguh suatu apresiasi yang baik bagiku. Karena di saat rekan-rekan lain masih berkutit dengan prakteknya. Aku bahkan telah menjadi tenaga pengajar disana. Sungguh pengalaman yang luar biasa bagiku. Karena untuk pertama kalinya bekerja di sebuah madrasah negeri dengan jam mengajar 24 jam per minggu. Sungguh kepercayaan yang teramat baik bagiku. Karena mempercayakan aku menggantikan guru mengajar dengan jumlah jam mengajar yang tergolong banyak bagi guru pemula seperti diriku. Ini berlaku bagiku sampai bulan mei mendatang. Mudah-mudahan aku berhasil dan dapat menjalani tugas ini dengan baik. Agar nantinya, setelah masa pengganti itu berakhir, aku tetap mendapat apresiasi yang baik dan tidak mengecewakan untukku, muridku, pihak sekolah dan rekan seperjuangan denganku. Semoga….

Ya allah….. berikanlah aku petunjuk. Aku elah begitu jauh darimu. Aku begitu lemah