Di tengah Suasana malam yang hening, malam yang semakin gelap udara dingin semakin menusuk kulit hingga ke tulang. Suasana ribut datang menghampiri mewarnai penutupan KKN menjelang kepergian kami dari RT 02 RW II. Bukan karena kemarahan, kebencian ataupun ketidaksenangan pada kami akan tetapi karena buya yang selama ini menjadi imam di mushalla shautul bilad tiba-tiba sakit. Bukanlah sakit biasa. Ketika sang buya dipersilahkan berbicara di hadapan peserta pesantren untuk mengumumkan pemenang terbaik pada kegiatan pesantren ramadhan, buya pun segera berlari keluar mushalla. Bukan karena tidak ingin bicara. Namun, darah yang menggumpal besar keluar dari mulut sang buya. Darah pun tak berhenti keluar mengikis habis sisa kekuatan yang dimiliki sang buya. Mahyuddin Isnur, sang ketua kelompok pun tak kuasa menahan air mata. Air matanya menetes dikala melihat buya tersebut muntah darah. Muntah yang tak kunjung henti membuat panik, semua orang yang hadir dikala itu.

Suasana menjadi tak terkendali. Peserta pesantren yang hadir saat itu ricuh, guru-guru pusing tujuh keliling. Anggota kami pun hanya bisa diam tercengang, merasa iba namun apa daya tak ada yang bisa kami lakukan untuk menyelamatkan buya tersebut. Darah sudah begitu banyak keluar dari mulut sang buya. Buya pun tak kuasa menahan perihnya sakit yang ia alami. Kami tak kuasa untuk membantu buya saat itu. Akhirnya kami memutuskan untuk cancel jadwal pengumuman pemenang dan pembagian sertifikat pada siswa. Dengan begitu siswa pun dibolehkan pulang.

Masyarakat sekitar pun mulai mencari transportasi untuk mengantar buya ke rumah sakit. Diantara kepanikan itu, papa pun datang menjemput diriku untuk kembali pulang ke rumah yang telah lama ku tinggali karena kuliah yang harus ku jalani di kampung ini. Aku tak mungkin mengabaikan orang tua Q saat itu. Q pun berlari menghampiri mobil yang telah menunggu diriku. Tanpa pikir panjang ku langsung berlari ke rumah tempat tinggal q selama kuliah disana dan membawa barang-barang yang masih tertinggal saat itu. Di tengah hiruk pikuk malam mencekam, q terus melangkah ke mobil dan memasukkan barang-barang. Sebagian masyarakat pun mengantar kepulangan q dan kawan-kawan malam itu.

Q pun merasa, ternyata di tengah kepanikan ini masih ada masyarakat yang mau mengantar kepergian kami.

Setelah berpamitan, aq dan kawan-kawan memasuki mobil yang akan mengantar kami pada tempat bernaung semula.

Di tengah perjalanan pulang, ternyata pak mahyuzar salah seorang masyarakat di kampung itu menelponQ. Namun telponnya tak kuangkat karena dering HP Q diam. Tak lama setelah itu, wakil pesantren itu pun menelpon reni My kkn friend.

Hanya untuk bertanya keadaan buya dan ucapkan selamat berpisah dengan kami.

Di perjalanan pulang, papa q bertanya tentang apa yang terjadi dengan buya. Papa dan teman nya saat itu pun berdialog tentang sakit yang dialami buya tersebut. Di saat berdialog itulah q mulai percaya bahwa ternyata ”guna-guna” itu benar adanya. Cakrawala berpikir q pun terbuka lebar, sambil menanti sampai di rumah, q selalu menghubungkan ternyata apa yang di ceritakan oleh teman kkn q desriadi itu benar terjadi. Selama ini q tak pernah percaya karena q belum pernah melihat buktinya. Dan malam itu rasio q terpaksa harus menerima kenyataan bahwa itu benar adanya dengan bukti yang langsung tampak dihadapanq malam itu.

Akhirnya sampai jualah q di rumah yang telah lama q tinggali. Sesampai  dirumah q langsung bersiap untuk menuju pendaratan di tempat tidur kesayanganq. Tapi mata tak bisa kompromi dengan letihnya badan dan tulang menjalani aktivitas hari itu. Otak ini tak berhenti membayangkan kejadian yang menyertai kepulanganq  ke rumah. Kenapa itu bisa terjadi? Ada apa dengan buya yang sebelumnya sehat-sehat saja?

Sebelumnya sore itu, digelar acara buka bersama mahasiswa KKN dengan masyarakat sekitar dan lurah. Buka bersama pun berjalan dengan lancar dan terkendali tanpa ada hambatan. Sempat terekam dalam video q, buya yang dengan riang dan gembira berbuka bersama dengan kami dan anak2 pesantren. Sore itu adalah sore yang bahagia karena itulah momen kebersamaan yang dapat kami rasakan. Makan bersama dengan masyarakat sekitar. Sungguh membahagiakan. Begitu banyak momen bahagia yang terekam di dalam perjalam q dan kawan-kawan saat menjalani kuliah kerja nyata di kelurahan lubuk minturun.

Mulai dari awal kedatangan ke kelurahan ini, awalnya datang ke kantor lurah untuk mencari tau rumah yang akan kami tinggali. Datang ke kantor lurah namun pak lurahnya tidak berada di tempat. Perjalanan pun dilanjutkan melihat kawasan lubuk minturun. Akhirnya sampai di sebuah mesjid yang menjadi tempat bernaungnya salah seorang anggota KKN kami, desriadi. Disana pun kami menunaikan shalat zuhur. Sehabis shalat, perjalanan pun dilanjutkan dengan  mengitari kelurahan lubuk minturun. Ke miniatur ka’bah dan terakhir ke jalan belakang pertanian. Sesampai di sebuah mushalla yang bernama mushalla shautul bilad kami berhenti sejenak. Berhenti melihat keadaan sekitar mushalla. Mushalla yang tampak kosong dan tak berpenghuni. Dihiasi dengan kambing-kambing yang sedang asyik bersantai di teras mushalla. Pandangan pun dialihkan pada daerah sekitar mushalla, melihat rumah sekitar yang menurut perkiraan kami akan ditempatkan di kawasan itu. Rambutan bersemi di kampung ini. Kampung yang terkenal dengan daerah pembibitan tanaman. Q pun teringat akan teman lama ku yang bertempat tinggal di lubuk minturun. Antara ingat dan lupa, rasanya rumahnya berada tepat di balik jalan yang kami lewati saat itu. Tapi pikiran itu pun berlalu. Perjalanan pun dilanjutkan dengan meninggalkan kesan yang kurang bisa menerima bahwa akan ditempatkan di tempat yang sangat jauh dari keramaian, tak ada perhubungan, gelap dan sepi. Namun, teman yang lain malah menertawakan aq yang tak bisa menerima itu. Perjalanan mengitari lubuk minturun pun dianggap selesai untuk hari itu, kami pun kembali ke kampus tercinta yang rencananya ingin menghadiri perkumpulan dengan dosen DPL.

2 hari sebelum jadwal KKN di mulai, kami pun berangkat menuju lubuk minturun untuk kedua kalinya. Kami berencana untuk melihat rumah yang akan kami tempati selama KKN. Se sampai di lokasi yang sudah kesiangan kami pun mengikuti buya adi menuju rumah yang akan ditempati tersebut. Di tempat itu, kami mendapati seorang amak yang tengah asyik membersihkan ruangan kosong yang semulanya kedai sebagai tempat yang akan kami isi nantinya.