Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah menjadikan kehidupan untuk manusia. Hidup yang dipenuhi dengan ragamnya. Hidup yang indah. Diwarnai dengan berbagai rasa, cerita dan peristiwa. Jikalah tiada lika-liku maka hidup di dunia tidak terasa nikmatnya. Allah pun menjadikan manusia dengan kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya sehingga menjadikan manusia itu menjadi pribadi yang mesti berpikir untuk kelangsungan kehidupannya sendiri. Allah jadikan dunia ini sebagai tempat atau ladang amal di hari akhir. Ibarat menanam di sebuah ladang, tentunya banyak proses yang dilalui, banyak aturan yang harus ditaati, banyak larangan yang harus dijauhi, banyak gangguan, hambatan, ancaman tantangan dan akhirnya pun merasakan hasil usaha yang telah dilakukan selama menanam di ladang. Apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen. Memanen sesuatu yang bermanfaat dengan cara yang diridhai niscaya akan membuahkan kebahagiaan. Memanen sesuatu yang buruk dengan cara apapun akan membuahkan kesengsaraan dan kesedihan.

Tidak terkecuali aku yang menjalani kehidupan dunia dengan penuh lika-liku. Suka, duka, tawa, tangis dan segala macam rasa telah dilalui dalam menjalani kehidupan. Satu pelajaran penting yang cukup menyadarkan aku dalam hidup ini. Bahwa sering manusia termasuk aku baru menyadari akan hadirnya sesuatu jika telah merasakan sesuatu itu hilang. Ataupun baru merasakan indahnya rahmat Allah ketika rahmat itu telah menghilang dari diri. Salah satunya yang terjadi pada hidupku, aku baru menyadari begitu berartinya sahabat ketika sahabat itu telah menghilang dariku. Baru menyadari arti penting sebuah benda ketika benda itu telah menghilang. Baru menyadari arti keberadaan orang lain ketika orang tersebut telah menghilang.

Sebelumnya, aku kurang memaknai arti penting segala sesuatu yang ada dalam hidupku namun sedikit demi sedikit kehilangan demi kehilangan yang terjadi pada diriku membuat aku sadar akan arti diriku hidup selama ini. Aku beruntung masih diberi kesempatan untuk memaknai arti hidupku yang telah banyak kehilangan.

Saat satu persatu yang kumiliki di dunia ini hilang dan berlalu, hanya air mata yang dapat ku jatuhkan ketika menyadari kehilangan itu. Begitu perihnya merasakan kehilangan sesuatu yang dimiliki selama ini. Tapi, karena agama aku disadarkan kembali bahwa harta ataupun sesuatu yang dimiliki di dunia ini hanyalah perhiasan semata. Bukanlah kepemilikan seutuhnya. Allahlah yang menjadikan segala sesuatu itu atas kita. Lalu kenapa kita merasa tidak terima ketika pemberian itu kembali pada Allah. Mengapa mesti bersedih? Mengapa berontak dan memaksa agar sesuatu itu kembali. Semua kepunyaan kita di dunia ini adalah milik Allah. Betapa Maha Pemurah sang Khaliq yang memberikan apa pun kebutuhan kita. Tapi, begitu jarang diantara kita yang bersyukur atas itu bahkan merasa sesuatu yang dimiliki saat ini adalah milik kita seutuhnya dari hasil jerih payah selama ini. Padahal itu bisa ada jika Allah menghendaki.

Selama ini aku telah lalai dan lupa. Aku menganggap bahwa yang ku miliki ini dapat kumiliki seutuhnya. Aku telah disadarkan dengan kehilangan sesuatu yang telah kumiliki tersebut. Terima kasih Ya Allah masih ada waktu bagiku untuk memperbaiki diri ini. Aku berharap, untuk masa yang akan datang kesalahan ini tak kan terulang lagi. Semoga Allah memperkenankan pintaku ini. Alhamdulillahirabbil alamiin ya Allah.