Air Mata untuk Sahabat

Sahabat,

Dimana engkau?

Disaat aku terpuruk kedalam jurang yang gelap

Disaat aku terpukul dengan guncangan yang maha dahsyat

Disaat aku berlinangan air mata menatap kehidupanku

Disaat aku tak bisa memandang dunia dan tersenyum padanya

Disaat aku benar-benar lumpuh dengan keadaan seperti ini

Di heningnya malam, ku teringat padamu

Teringat akan kisah kebersamaan denganmu

Kisah canda tawa riang bersamamu

Kehangatan berkumpul, berbagi cerita denganmu

Tak bisa dilupakan

Tak bisa diabaikan

Tak bisa dianggap berlalu

Derasnya kucuran air mata setiap malam menjelang

Selalu menjadi pengantar tidurku di malam yang singkat

Kenangan indah bersamamu selalu menghampiri pikirku

Aku yang bahagia berada di sisimu selama ini

Tapi………

Benarkah sekarang engkau lupa akan hadirku

Benarkah sekarang engkau tak lagi mengingatku

Benarkah aku bukan lagi orang terpenting dalam hidupmu

Benarkah aku tak terlintas lagi dalam benakmu

Benarkah aku tak layak lagi berdampingan denganmu

Benarkah aku tak sejalan lagi denganmu

Betapa luluh lantaknya hati ini

Terkoyak begitu keras

Teriris perih

Ketika ku tau engkau tak lagi ingat padaku di saat penting

Ketika ku tau engkau telah meninggalkanku di saat berharga

Ketika ku tau engkau sangat bahagia, disaat air mataku mengalir tiada henti

Terdiam membisu tanpa ada komentar untukmu

Terhenti aliran darah ini mengetahui kabar darimu

Sedih yang kurasa, melunakkan tulang-tulang tubuhku

Sedih yang kurasa, melemahkan sekujur tubuhku

Sedih yang kurasa, tak dapat dilukiskan pasti dengan sebuah kata sendu

Yang ku tau, engkau telah berlari meninggalkan langkah kaki yang tertatih-tatih

Sekarang……

Maafkan aku…..

Luka ini begitu dalam

Hati ini begitu pilu

Tak mampu menatapmu lagi

Tak mampu bicara padamu lagi

Tak mampu membalas pesanmu lagi

Hanya air mata yang mampu ku perlihatkan padamu

Air mata yang mengalir dari bola mataku setiap malam

Karena itulah yang kulakukan setiap malam untuk mengingatmu

Sahabatku tercinta……..

SRD

Kehilangan Jiwa Yang Tenang

Tetesan air matamu tiada arti bagiku

Wajah memelasmu tak kan merubah pilihanku

Aku sudah terlalu terluka

Untuk bisa mengembalikan tawa

Memutar cerita dan bahagia

Kini……..

Jalanilah jalanmu

Wujudkan citamu

Tinggalkan aku dengan pilunya hatiku

Lupakan  aku dalam dukaku

Aku tak ingin kembali pada masa itu

Air mataku terlalu mahal untuk menangisimu

Tiada kata kembali untukmu

Tiada harapan untukmu

Aku sudah tak sanggup untuk berjumpa denganmu

Hati ini tak menerima dirimu

Disudut dunia kenangan

Tinggallah aku di persimpangan

Merintih meronta kehilangan

Kehilangan jiwa yang tenang

Dipandu dengan air mata yang berlinang

SRD

Jiwa yang Dinanti

Memandangmu menyejukkan kalbu

Menatapmu menguatkan hati

Berada di sampingmu membuat aku tegar

Getir langkah membuat aku tersungkur

Berjalan tertatih menggapai satu asa

Jauh…

Kian jauh meraba puncak itu

Menatap kosong pada seisi dunia

Dunia yang begitu angkuh menerima kehadiran ini

Apa gerangan yang terjadi?

Adakah dunia lupa akan arti diriku?

Diri yang telah lama berdiri tegak

Merangkai rajutan impian indah

Bergelimang keringat peluh yang telah beku

Dimanakah dia yang selama ini kucari?

Kemana ia bersembunyi?

Hai jiwa yang kucari….

Hadirkanlah ragamu pada aku yang telah lama menantimu..

SRD

Demi Sebuah Cita

Terik mentari iringi langkahmu

Tertatih melangkah maju

Tak sedikit pun engkau layu

Kau jadikan hati ini pilu memandangmu

Berlari mengejar putaran roda

Kau datangi ia

Kau bernyanyi untuknya

Kau hibur mereka

Tak banyak yang suka

Tak sedikit yang mencela

Ini bukan inginmu

Ini bukan tugasmu

Tak sepantasnya engkau begitu

Tak selayaknya kau lakukan itu

Tapi, Demi bertahan untuk tetap menatap dunia

Kau rela

Demi sebuah cita

Kau ikhlas terluka

Tinggalkanlah jalan itu

Ikutlah denganku

Yang ingin membahagiakanmu

Wahai penjajal suara di tepian rindu

SRD

Pelajaran Hidup

Tatapan kosongmu

Buatku sadar

Sadar akan arti hidup

Hidup yang penuh tantangan

Pikirmu yang panjang

Jauh menerawang

Sampai ke lubang terdalam

Buatku semangat menjalani hambatan hidup

Aku merasa kalah

Kalah dengan keteguhanmu

Kalah dengan kesungguhanmu

Di senja usiamu

Kau masih mampu berjuang

Masih mampu berdiri tegak

Dan masih mampu berjalan diatas kerikil tajam kehidupan

Aku malu dengan diriku yang lemah

Tak berdaya dan tak kuasa

Sekarang, kau masih mencoba untuk melangkah

Getir langkahmu buat air mata ku mengalir deras

Tiada kuasa untuk menghentikannya

Menatapmu membuatku rindu kenangan itu

Rindu akan hangatnya dekapanmu

Dekapan yang membuat diriku nyaman di sampingmu

Tak banyak bicara, tapi….

Di setiap untaian kata yang terlontar

Memberi makna terdalam bagiku

Engkau ajarkan padaku arti hidup

Hidup yang panjang

Aku lemah tanpa kehadiranmu

Engkau yang slalu menemaniku dalam meniti kehidupan ini

Dan aku pun terbiasa dengan itu

Namun kini, engkau tiada

Tiada candamu, tiada suka

Engkau tidak lagi mendekapku

Kemana akan ku cari dirimu

Aku benar-benar luka dengan keadaan ini

Yang tinggal hanyalah sepenggal kisah tentangmu

Tapi, aku mengerti kenapa engkau pergi

Engkau hendak menunaikan takdir TuhanMu

Selamat untuk ayahku yang telah berjuang keras demi hidupku

Dan selamat untuk ayah-ayah

Yang telah berjuang demi anaknya tercinta

SRD

Karena Aku Takut Kehilanganmu

Senyum indahmu

Getarkan jiwaku

Paras wajahmu

Pesonakan aku

Dikau sang penakluk hati

Hadirkan jiwamu yang suci disini

Aku ingin kembali

Tak sekalipun mata terpejam menatapmu

Tak sedikitpun pikiran gundah memikirmu

Akulah jiwa yang mendambamu

Menginginkan hadirmu

Jangan pernah engkau lupakan aku

Jangan kau buat hatiku sembilu

Jangan kau tinggalkan aku

Jangan kau buat air mataku

Untuk menangisi kepergianmu

Dari sisiku

Karena aku takut kehilanganmu

SRD

LANTUNAN ADZAN UNTUK ANI YANG HILANG

“Maaf aku tak bisa menemui dirimu hari ini”

”Aku juga tau, engkau takut akan hukuman itu kan?”

Berat hati mengungkapkan itu pada Ani tapi ia mengerti dengan keadaan saat ini. Minggu ini sedang gencar-gencarnya razia di pondokan. Santri laki-laki dan santri perempuan dilarang bertemu tatap muka dan berbincang berdua. Hal ini dikarenakan sebuah kasus pembina pondokan putra dan putri yang tertangkap mata jalan bareng di sebuah pusat perbelanjaan. Karena itu, disiplin pondok mulai diperketat. Santriwan dan santriwati pun dilarang tatap muka langsung.

Dengan peraturan baru itu, aku merasa hak hidupku terampas. Kenapa tidak, biasanya aku bisa berjumpa dengan Ani setiap hari, berbincang bersama melepaskan rasa rindu dan lelah beraktivitas seharian.  Aku terbebani dengan ini. Berbeda dengan Ani yang tenang dan mengerti dengan situasi saat ini. Itulah Ani, gadis manis yang sangat pengertian. Karena itu jua-lah ku tancapkan mata batinku padanya. Sikapnya yang pengertian dan lembut membuat jiwa ini tenang berada di sisinya.

Malam……..

Keheningan malam menyeret aku pada bingkai masa lalu ketika pertama kali aku bertemu dengan Ani. Satu tahun lalu,  disudut sekolah pandangan terhenti pada sosok gadis kecil yang manis dan lugu. Mataku tak beranjak dari pandangan pada dirinya. Jantung hati berkata, inilah dia yang ku cari. Jiwa yang dinanti selama ini. Aku pun bertekad dalam hati bisa mendekati gadis itu. Gadis impian yang kucari. Aku terlena dengan pandangan pada dirinya.

Assalamualaikum ya akhi, limadza anta? Ma dza tanzur ya akhi?tiba-tiba Ali mengejutkanku dengan pertanyaannya. Seketika itu juga sosok gadis itu hilang dari pandanganku.

”Ya……., hilang deh”.

”Apanya yang hilang, akhi?”

”O, anu…anu…”

”Anu apanya neh?”

”Aah…., ga’. ”Li, udah selesai tugas B.arab nya? Minggu depan kita ulangan B.arab khan?”

”Apa yang terjadi pada dirimu sob, aku tanyain malah komentar yang lain. Gimana sih? G’ nyambung”

Ga’ masalah nyambung atau ga’ nya sob tapi sekarang bel masuk udah bunyi mendingan sekarang ke lokal aja.”

”Ih, wedan. Tambah ga’ nyambung. Mesti periksa nih otakmu”.

”Biarin”, ungkapku sambil berlalu meninggalkan Ali.

Pelajaran B.Arab dimulai. Saat itu barulah aku teringat tugas yang diberikan ustadz minggu lalu belum selesai ku kerjakan. Aduh, pasti dihukum dech gara-gara tugas ini. Tapi biarlah dihukum hari ini, yang penting hatiku bahagia karena melihat gadis cantik tadi.

Ayyuhath thullab, al an nadrus lughatul arabiyyah” hayya naqra’ basmalah”

Lidahku berat untuk mengucap basmalah. Yang ada hanyalah ingatan pada gadis tadi yang telah menyiksa batinku dengan wajahnya yang menghanyutkan setiap mata yang memandangnya. Aku ber-angan bisa berjumpa dengannya dan mengajak dia jalan berdua. Dan aku pun akhirnya mendapatkan cinta gadis itu. Gadis itu tak menolak dan menerima ajakanku. Aku pun kegirangan dan berteriak gembira.

Tapi, apa yang terjadi, ternyata itu hanya lamunanku. Seisi lokal terdiam karena teriakan kegiranganku. Akhirnya ustadz pun mendekati tempat dudukku dan berkata, ”Ahmad, limadza anta?

Dengan gugup aku pun menjawab, ”afwan ya ustadz, Ana berangan mendapat keberuntungan ya ustadz. Makanya Ana teriak. Sekali lagi afwan ya ustadz

”Kali ini ustadz maafkan tapi lain kali jangan diulangi Ahmad”

”Ya ustadz”

”Selamat, selamat”, ungkapku dalam hati.

Pelajaran B.Arab kali ini tak bisa ku terima dengan baik. Pikiranku tak henti pada gadis tadi. Aku pun tersadar bahwa aku sedang menuntut ilmu. Jadi aku harus fokus pada pelajaran karena jauh dari luar daerah aku datang ke desa ini untuk menuntut ilmu agar menjadi santri yang berprestasi.

Aku pun berjalan mendekati ustadz yang sedang duduk di mejanya.

Ismahli ya ustadz, uridu an aghsilu wajh

Tafadhdhal’”, jawab Ustadz

Dengan sigap ku langkahkan kaki keluar kelas menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahku dan berwudhu. Dengan niat, menghilangkan bayang wajah gadis tadi dari pikiran saat aku belajar.

Namun, di tikungan jalan menuju kamar mandi aku bertemu dengan gadis yang ku impikan. Niat menghilangkan bayangan gadis impian ternyata harus ku singkirkan karena sekarang ia ada di hadapanku. Dengan ucapan penuh harap, ku latih lidahku untuk mengungkapkan ajakan  pada gadis yang ku damba. Tak ada penolakan, sang pujaan hati pun setuju dengan ajakan itu. Hatiku semakin girang, jiwaku bahagia. Aku pun melompat kegirangan, ku ayunkan langkah dengan girang dan tak henti tersenyum. Jikalau orang tuaku disini, akan kuceritakan hal ini padanya. Karena inilah kali pertama aku merasa bahagia dengan seorang gadis yang mempesona hatiku.

Untuk Ani……….

Senja menjelang,  mentari beranjak pergi, kicauan burung menghilang. Semua insan di komplek pendidikan itu kembali bersiap untuk bermunajat pada Ilahi. Lantunan adzan menggema. Memenuhi angkasa raya.

Minggu ini, aku lebih sering melantunkan adzan dan menjadi imam. Tak biasanya ini terjadi padaku. Sebelumnya, aku hanya bisa mempersilahkan seniorku untuk melakukan itu. Entah kenapa, hatiku menjadi berani untuk memimpin peribadatan itu. Tak hanya sekali namun sering dalam minggu ini.

”Ya akhi…….”, seruan lembut terdengar di telingaku ketika hendak melangkah keluar dari mushalla asrama, seketika itu juga aku menoleh ke arah  sumber  suara.

”Ani…., ada apa?”, ucapku.

”Akhi, Ana mau pulang minggu depan.”

“Lalu?”, tanyaku dengan sedikit kebingungan.

”Minggu depan Ana dijemput Abi, rencananya mau berobat. Jadi, Ana ingin pamit sekarang. Ana takut kalau saja nanti ketika akan berangkat tidak bisa pamitan dengan akhi”, ucap bibir lembutnya padaku.

“O, gitu ya…”, ujar ku sambil menggeser hijab mushalla itu dan melangkah mendekati Ani. Sekarang aku telah berada tepat di depan Ani dengan harapan bisa bercerita lebih banyak dengannya karena minggu depan ia akan pulang ke kampungnya. Hatiku sedikit cemas karena peraturan baru di asrama itu, siswa dan siswi dilarang bertemu dan berbincang berdua. Namun, ku kuatkan hati melawan kecemasan itu karena rinduku pada Ani. Aku pun duduk di shaf putri yang pertama kemudian diikuti oleh Ani yang duduk di shaf kedua.

”Emangnya siapa yang sakit Ni?”, tanyaku pada gadis yang kusayang itu.

Ana”, jawabnya singkat

”Benarkah? Sakit apa ya habibi?”

Ana tak tau dengan pasti tapi, ketahuilah bahwa jauh sebelum akhi mengenal Ana, Ana sudah merasakan sakit ini.”

Aku pun terkejut, sakit apa gerangan sang penakluk hatiku. Aku tak melihat ciri sakit tampak di wajah indahnya. Aku pun tak pernah mendengar ia merintih dan mengeluh sakit. Lalu, tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia merasakan sakit. Separuh tak percaya dengan ucapan itu.

Akhi……..”

”Ya,”

Ya akhi, Dengarkan Ana. Ana ingin satu minggu ini mendengar akhi adzan dan  menjadi imam.”

”Kenapa begitu?”

”Bukankah satu minggu ini engkau telah mendengarku adzan dan imam? lalu kenapa engkau memintaku untuk menjadi muadzin dan imam untuk satu minggu yang akan datang? Limadza ya habibi?”, tanyaku padanya.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir manisnya. Ia hanya duduk terdiam tanpa kata dan membisu. Keingintahuanku  semakin memuncak, tatapan mataku tak lepas dari pandangan terhadap Ani. Aku menanti jawaban yang dapat memuaskan hatiku. 5 menit ku tunggu tak ada suara, 10 menit, 15 menit. Dan sampailah akhirnya, pembina pondok lewat di depan mushalla dan melihat ke dalam mushalla.

Hatiku semakin galau dan risau, adakah aku dan Ani pujaan hatiku akan dihukum karena pertemuan ini? Tanya itu semakin menyesak dadaku. Ku beranikan diri untuk menyapa pembina pondok itu. ”Assalamu’alaikum ya Ummi”, ucapku dengan sedikit gemetar.

Wa ’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh”, Ummi pun menjawab dengan nada lembut tanpa ada tersirat bahwa ia akan marah kepada kami.

”Ani, sudah malam wahai anakku. Kembalilah ke asrama”, ungkap Ummi pada Ani sembari mendekati kami berdua.

Ani pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai berdiri tegak berjalan mendekap Ummi. ”Syukran katsiran ya akhi, mudah-mudahan permintaan Ana dikabulkan. Ana pamit dulu, assalamu’alaikum”, ucap Ani dengan nada yang menyentuh hatiku. Dan dengan itu, hatiku menjadi tenang walau pertanyaanku belum sempat dijawab olehnya.

Ani pun berlalu bersama Ummi, tiada ungkapan marah dari Ummi padaku maupun pada Ani pujaan hati, lentera jiwaku.

Tiba-tiba Ummi berbalik dan berkata, “Oya, jangan lupa belajar ya  Ahmad!”

Na’am ummi”, ungkapku sambil berdiri.

Selepas hilang dari pandangan Ani dan Ummi, aku pun berbalik arah dan mengayunkan langkah dengan ringannya menuju asramaku.

Minggu itu…..

Seminggu yang lalu, aku telah menepati janjiku pada Ani. Akulah yang menjadi mu’adzin dan imam di mushalla asrama. Aku lakukan itu bukan semata karena Ani, Namun, itu ku lakukan karena aku merasa inilah saatnya aku beribadah dengan baik dan benar. Karena semula sebelum ku mengenal Ani, aku tergolong siswa yang berlangganan jadi masbuq dalam beribadah. Ani menjadi inspirasi dan penyemangat jiwaku.

Masih lekat di ingatanku bahwa Ani akan pulang untuk berobat minggu ini. Namun, sejak subuh tadi aku tak melihatnya. Kemanakah ia gerangan pujaan hatiku itu? Aku menunggu ia turun dari asrama lantai II, karena disanalah ia beristirahat dan menjalani aktivitas belajar  sepulang sekolah.

5 menit ku tunggu ia belum juga keluar dari asrama itu. Sembari menunggu kedatangannya itu, aku sempat berbincang dengan kepala asrama. Aku sedikit bertanya dengan paras tidak tahu sama sekali dan keingintahuan yang besar perihal kepulangan Ani hari ini. ”Bunda, benarkah ada santri putri yang pulang hari ini?”

”Ada”, jawab Bunda singkat.

“Siapa ya Bunda?”, tanyaku dengan nada merayu.

“Ani, santri di lantai II, ia pulang untuk berobat.”

“Ani.., Ani, oo Ani yang manis itu Bun?”

“Ya”, jawab Bunda sambil menepuk pundakku.

Aku tergolong santri yang dekat dengan Bunda, karena itu aku berani bertanya tentang Ani pada Bunda.

”Ani itu sakit apa ya Bun?”, tanyaku lebih lanjut.

”Kenapa ingin tahu tentang Ani? Ada apa dengan engkau dan dia?”, ucap Bunda dengan nada menyelidik.

Aku pun tersenyum dan mendekat pada Bunda, “Setauku Ani itu sehat Bun, lalu kalau tiba-tiba ia dikatakan sakit. Aku kurang percaya Bunda. Bunda kan tau, aku santri Bunda yang besar rasa keingintahuannya”, ungkapku dengan pe de-nya.

”Benarkah, Bunda balik bertanya padaku”

”Ya donk, ungkapku sambil tertawa.”

Tiba-tiba Bunda diam, aku pun heran dengan sikap Bunda. Aku tertawa Bunda terdiam. Ada apa dengan Bunda? Tanyaku semakin melejit jauh ke langit.

Bunda pun berkata, ”Ani itu anak yang pintar dan punya banyak kelebihan namun, dibalik kelebihannya itu ia punya kekurangan. Ia seperti sehat namun sebenarnya ia merasakan sakit yang teramat perih. Ia menderita paru-paru 1 tahun yang lalu. Dia telah berjuang sekuat hatinya untuk dapat membahagiakan orang tua dan orang-orang yang  dikasihinya dengan belajar dan menghadiahkan prestasi. Namun sekarang, ia tak kuasa lagi. Ia harus berobat kembali karena penyakit yang dideritanya semakin menyiksa jiwanya”. Bunda pun lirih dan matanya pun berkaca-kaca.

Begitu juga dengan aku, yang semula hatiku bahagia sekarang berubah jadi duka. Seakan turut merasakan sakit yang dialami Ani. Benarkah yang dikatakan Bunda itu? Kenapa Ani tak pernah cerita denganku? Kenapa ia merahasiakannya padaku? Tidakkah ia merasa aku ada untuknya untuk berbagi suka dan duka?. Air mata ku pun menitik dengan pelannya.

Tak lama setelah itu, Ani pun muncul dari asrama lantai dua. Dengan segera ku hapus air mata dan beranjak mendekatinya. ”Assalamu’alaikum ya akhi, kata pertama dari Ani padaku minggu itu.

Wa ’alaikumussalam”. Apakah engkau benar-benar akan pulang hari ini An?

”Ya, Abi dan Ummi sudah datang menjemputku. Akankah engkau mengantarku?”, ungkap Ani padaku dengan beraninya padahal disana ada aku, dia dan Bunda pimpinan asrama.

Aku pun menatap Bunda, dengan harapan Bunda mengizinkan aku mengantar Ani. Bunda pun mengangguk. Hatiku pun lega, tanpa pikir panjang ku raih tas bawaan Ani dan ku langkahkan kaki mengantar Ani pada Ummi dan Abi-nya.

Di perjalanan menuju tempat parkir kendaraan orang tua Ani, aku pun berujar pada Ani, ”Adakah engkau akan lama meninggalkan aku?”

Ani pun menempatkan pandangannya padaku, dan itulah pertama kalinya Ani berani menatapku.

Lho, kenapa An? Ada yang salah dengan pertanyaanku” , tanyaku heran.

”Aku akan segera kembali dan menemuimu,  aku hanya rindu dengan kedua orang tua dan keluargaku. Setelah berobat nanti, aku akan kembali menemuimu. Besar inginku untuk dapat lagi berjumpa denganmu dan sama-sama menjadi pencari ilmu di pondok ini. Jadi aku akan secepatnya kembali ke asrama untuk menuntut ilmu kembali bersama denganmu.”

Ku pandangi Ani, hatiku pun kembali berkata. Ani berbohong padaku, ia berucap hanya rindu pada keluarganya padahal ia merasakan sakit yang begitu menyiksa batinnya.

Sampai di lapangan parkir, aku melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam. Hanya itu kendaraan yang parkir di lapangan yang luas itu. ”Itukah mobil orang tuamu An?”, tanyaku.

”Ya”, jawabnya singkat.

Sebelum sampai di mobil itu aku sempat berkata pada Ani, ”Ani, janganlah engkau rahasiakan sesuatu padaku. Aku akan selalu ada untukmu. Engkau bahagia, aku pun bahagia. Engkau sedih aku pun teramat sedih”.

”Kepulanganku, selain aku rindu pada keluargaku aku juga ingin berobat wahai pemilik hatiku”, ucap Ani dengan pelan.

”Ya, aku tau itu. Aku berharap tidak ada rahasia lagi untukku. Aku masih menanti cerita darimu. Sesampai di rumah nanti jika engkau merasa masih ada sesuatu yang tersimpan rapi di hatimu, ungkapkanlah padaku. Aku menunggu kisah darimu.”

Seketika itu juga, orang tua Ani telah  menunggu dan membukakan pintu untuk anaknya. ”Ani”, ucap seorang perempuan padanya. Perempuan itu pun keluar.

Batinku berkata, inilah orang tua Ani. Ternyata benar. ”Terima kasih ya nak sudah mengantar Ani, ngomong-ngomong namanya siapa?”

”Ahmad ya Ummi”, ungkapku dengan sopan.

”O, Ahmad” ia berkata seakan ia sudah mengenalku padahal inilah kali pertama aku berjumpa dengan Umminya Ani.

Ani pun masuk ke dalam mobil itu. Kemudian tiba-tiba ia keluar dengan sebuah bungkusan plastik yang agak besar.

”Ummi, ini untuk Ahmad kan?”, tanyanya pada Ummi.

”Ya sayang”, jawab Ummi kemudian mendekapnya.

Akhi, terimalah ini”

”Apa ini An?”

Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku pulang dulu ya”

Ku terima bingkisan itu dan ku tatap wajahnya sambil berkata, “Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa baca do’a dan selalu dzikir”, ucapku.

“Baiklah kalau begitu nak Ahmad, kami pamit dulu. Assalamu’alaikum”

“Wa ‘alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh”, ucapku sambil memberi tempat agar mobilnya bisa berputar arah.

Mobil pun berbalik arah dan meninggalkan aku di lapangan yang luas ini. Masih sempat ku lihat Ani tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Kemudian ia pun berlalu.

Ani ku yang hilang………

Seminggu sudah Ani tak berada di asrama. Aktivitasku menjadi mu’adzin dan imam di mushalla asrama tetap ku lakukan. Dengan itu, penduduk asrama semakin mengenalku dan berlaku ramah.

Lama ku menanti kedatangan Ani. Namun, ia tak kunjung datang. Di sekolah, aku semakin giat belajar dan beribadah dengan harapan setibanya Ani nanti, aku akan menunjukkan padanya bahwa aku selalu berjuang untuk hidupku. Ku ingin perjuanganku ini juga menjadi motivasi untuk Ani agar ia tetap berjuang keras demi hidupnya, walau terkadang ia merintih.

Hari demi hari ku lalui, puluhan prestasi telah ku raih. Namun, Ani ku tak kunjung datang. Perasaan gundah melanda hati. Semakin hari semakin gundah menantinya. Tiadakah kabar untukku tentang keadaannya?

Pagi itu, aku mandi lebih awal dari biasanya. 1 jam sebelum pelajaran di sekolah dimulai aku telah siap dengan perlengkapanku. Tentunya aku juga sudah sarapan pagi walau tanpa melihat Ani dalam minggu-minggu terakhir ini.

Karena pelajaran di sekolah belum dimulai, aku pun menemui Bunda pimpinan asrama. Setelah mengucap salam aku masuk ke ruangan utama tempat Bunda biasa beraktivitas. Aku pun mulai berbasa basi untuk memulai percakapan dengan Bunda. Kemudian sampailah pada pertanyaan itu. “Bunda, adakah kabar dari Ani?”, tanyaku singkat.

Bunda menatapku seraya menjawab, “Belum ada kabar darinya. Ada apa denganmu sampai engkau bertanya demikian  wahai Ahmad?”

Terdiam sejenak lalu aku menjawab dengan berani, “Ani itu adalah teman terbaikku wahai Bunda. Jadi aku ingin tau bagaimana kabarnya saat ini”

“Bunda belum tau nak, sampai saat ini tiada kabar dari temanmu itu. Sekarang berangkatlah menuju kelasmu. Bersiaplah untuk pelajaran hari ini, perintah Bunda padaku.

Dengan gerakan lambat dan malas ku langkahkan kaki meninggalkan Bunda. 10 langkah dari pintu ruangan Bunda, terdengarlah bunyi deringan telepon. Aku pun terhenti. Berharap itulah Ani yang akan menyapaku pagi ini. Namun, tiba-tiba Bunda keluar dari ruangan itu dan berujar, ”Ahmad, ada kiriman surat untukmu dari Ani di kantor sekolah”

Aku pun girang, semula aliran darah di tubuh tidak terasa sekarang aliran darah itu terasa cepat dan kencang. Aku pun berlari tanpa lupa mengucap terima kasih pada Bunda menuju kantor sekolah. Puluhan tangga ku lalui dengan cepatnya karena aku yakin ada pesan penting dari Ani melalui surat itu. Aku berpikir, mungkin Ani ingin mengungkapkan rahasia yang selama ini ia sembunyikan dariku. Atau mungkin Ani ingin menyapaku lewat surat karena takut menghubungiku lewat telepon.

Ya, ternyata ada. Seorang lelaki mengantar surat itu padanya. Lelaki itu mengaku adalah sopir keluarga Ani dan aku percaya itu karena selintas dahulu aku pernah melihatnya sewaktu aku mengantar Ani pulang.

”Surat ini untukmu nak Ahmad”, ujar lelaki itu padaku. Kemudian ia menjauh dan membiarkan aku membuka amplop surat yang indah itu. Ku baca surat itu, namun mataku tak berkedip ketika membaca pesan bertuliskan, Aku tak kuat lagi, aku tak bisa menahan derita ini, karena itu aku ingin memenuhi panggilan Ilahi di lembaran terakhir surat itu membuat aliran darahku berhenti seketika itu, linangan air mata tak terbendung, tubuh layu dan tertunduk jatuh. Dunia seakan gelap bagiku. Aku tak kuasa, aku tak berdaya. Ternyata, Ani yang ku tunggu selama ini telah hilang. Ia menutup matanya untuk memandang indahnya dunia. Jantungnya berhenti berdetak dan tiada nafas lagi. Ia tak sanggup lagi berdiri dan menatap dunia dengan indahnya.

Suatu kenyataan yang tak bisa ku terima saat itu, bagaikan mendapat pukulan keras di hati. Aku layu dan lemah. Ia telah berlalu meninggalkan aku. Mengapa ini terjadi begitu cepat? Mengapa ia tinggalkan aku dengan seribu kebingungan tentang dirinya? Aku tak percaya.

Berkali-kali ku baca lembaran demi lembaran kisah darinya. Hatiku membeku, begitu dingin tak sanggup untuk bergerak lagi. Yang ada hanya derasnya air yang mengucur dari bola mataku dan perasaan sedih yang mendalam.

Entah berapa lama aku berada di kantor membaca surat dari Ani pujaan hatiku. Aku tak mengerti dan tak tau. Yang ku tau aku telah terbaring di sofa kantor dengan puluhan bola mata memandangiku saat itu.

Menangisi kehilangannya….

Siang itu, sang pengantar surat masih ada di sekolah. Aku pun memohon dengan harap pada Bunda agar diizinkan pulang ke rumah Ani bersama lelaki pengantar surat tadi. Bunda tak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku dengan matanya yang telah sembab sembari membukakan mobil mewah yang dahulu digunakan Ani untuk pulang ke rumahnya. Seakan dia mengerti perasaanku. Tanpa ragu ku cium tangan Bunda dan langsung masuk ke dalam mobil.

Di perjalanan, tak ada yang dapat ku ucap. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Ani, Ani dan Ani. Kenapa ia begitu cepat berlalu. Kenapa ia pergi menghilang dengan kebingungan yang besar di benakku. Ribuan pertanyaan tentang Ani memenuhi pikiranku.

Sore itu juga, aku sampai di rumah Ani. Dari halaman depan rumah sudah berjejer insan berupaya masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Aku pun tak percaya, keluarga Ani bisa memiliki mobil mewah namun, rumah tempat tinggalnya hanya terlihat sederhana. Tak semewah mobil yang dimilikinya. Pertanyaan kembali menghampiri otakku, benarkah ini rumah Ani? Tapi, pikiran itu segera berlalu. Seketika masuk ke dalam rumah itu, aku masih diliputi kebingungan. Tiada tangisan, yang ada hanyalah keheningan yang begitu dalam. Tiada suara. Tiada isak tangis. Ku Langkahkan kaki menuju ruang tengah, disitulah kebingunganku terjawab. Benar ini adalah rumah Ani karena ku lihat perempuan yang dulu pernah ku temui sewaktu mengantar Ani. Ya, dialah Umminya Ani. Disana, Ummi tengah memeluk erat tubuh yang tiada lagi menghembuskan nafas. Terbujur kaku, ditutupi dengan kain panjang dan kain transparan di bagian mukanya. Aku pun mendekat. Jantung pun berdetak semakin kencang, tak terkendali. Perlahan ku buka kain transparan penutup wajah yang terbujur kaku itu. Seketika itu pula aku merintih. Semua kebingunganku terjawab. Dialah Ani yang telah lama ingin ku temui. Tuhan berkehendak aku bertemu dengannya disaat tiada lagi nafas yang terhembus dari tubuhnya.

Aku terdiam, tak dapat berkata dan tak mengeluarkan rintihan suara. Air mata begitu besar membanjiri pipiku. Tiada yang menghalangi jatuhnya tetesan air mata itu. Perasaan hati ikut mendorong mengalirnya air mata yang begitu banyak tanpa iringan suara rintihan.  Tiada yang bisa ku perbuat selain menangisi kehilangannya.

Prosesi demi prosesi ku lalui dengan khidmat. Tak banyak berkata. Ku lakukan apa yang dapat ku lakukan dengan kondisi tubuh yang melemah dan tiada semangat.

3 hari aku di rumah Ani, barulah keluarga Ani bicara padaku. “Nak Ahmad, seminggu yang lalu Ani berpesan pada Ummi, jika dia tak bisa lagi membuka mata dia meminta Ummi untuk memberikan bingkisan ini pada nak Ahmad, ucap Ummi dengan raut kesedihan sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Ahmad.

Hati pun semakin berduka. Ani yang telah hilang ternyata menyediakan bingkisan untukku seakan ia sudah bersiap dengan kepergiannya. Dengan gerakan lemah dan lambat, ku buka bingkisan itu dan ternyata sebuah lampu meja kecil yang indah dan berwarna. Apakah maksud Ani? Kenapa ia meninggalkan itu untukku?

Ku keluarkan lampu meja mungil itu dan dibawahnya terselip sebuah surat bertuliskan :

wahai penggugah hatiku

inilah aku yang sendu

kau dapati aku dengan nada pilu

tanpa kau tahu mulanya begitu

aku begitu lemah dan tak berdaya

telah ku coba bertahan untuk tetap menatap dunia

perjuanganku  begitu besar dan tak terhingga

kini saatnya aku menemui sang Maha Kuasa

maafkan aku yang telah menyimpan rahasia padamu

aku tak berniat menyakitimu

tapi menyimpannya darimu menjadi pilihan utama bagiku

karena aku masih ingin menatapmu

ketahuilah, aku mencintamu karena keikhlasanmu

karena ibadahmu

dan karena imanmu

terima kasih telah menjadi penjaga hatiku

walau seribu duka telah ku tinggalkan untukmu

andaikan aku masih bisa menatap dunia

aku ingin hidup denganmu bersama

menjalani hari indah dengan sempurna

tak kan ku biarkan sedikitpun air mata

karena aku cinta……..

tetaplah lantunkan adzan

akan ku dengar di kejauhan

dan tetaplah menjadi imam

akan ku ku ikuti jauh di dalam

Tertanda

Fadhilah Farliani

Semua diam, tanpa kata. Air mataku terus mengalir tiada hentinya. Ummi hanya bisa menatapku dengan pilu. Ia membiarkan aku memaknai kehilangan Ani dari hidupku.

”Ahmad”, tiba-tiba Ummi berkata.

”Ani adalah kekuatan Ummi, ia segalanya bagi Ummi tapi Ummi sadar bahwa ia hanya titipan Ilahi. Jadi kapan pun Sang Penitip ingin mengambil titipan-Nya Ummi harus rela. Ummi harap engkau juga begitu. Dia telah banyak membahagiakan Ummi. Engkau lihat mobil yang ada di depan rumah itu?”, tanya Ummi.

Aku pun menoleh ke luar. Mobil yang Ummi maksud itu adalah mobil yang ku tumpangi sampai ke rumah ini. Lalu aku pun menjawab pertanyaan Ummi, ”Ya, Ummi”.

”Itu adalah hasil jerih payahnya, dia memenangkan perlombaan musabaqah tilawatil quran tahun lalu”, ucap Ummi sambil menitikkan air mata.

Aku terkejut. Sungguh Ani yang hebat. Dia telah membuat hati orang yang menyayanginya bahagia. Andai saja ia masih disini, akan ku buat ia bahagia dan tersenyum indah pada dunia.

Ummi pun berdiri dan berjalan menuju kamar. Aku mengira Ummi tak kuat lagi menahan derita di hadapanku namun tidak, ia kembali lagi datang dan duduk di hadapanku sambil memberikan sebuah amplop padaku.

“Apa ini Ummi?”, tanyaku lebih lanjut.

”Beasiswa studi di Libya milik Ani, ambillah dan lanjutkanlah perjuangan Ani walau ia sudah tiada”, ucap Ummi kembali lirih.

Bagaimana mungkin Ani bisa mendapatkan beasiswa itu? Kapan ia mengurusnya? Apa lagi prestasi yang diraihnya? Hatiku kembali bertanya. Sungguh membingungkan bagiku.

Beasiswa itu didapat Ani ketika ia tak kuasa lagi bertahan dengan kondisi yang ia rasa. Ia tak ingin membuat orang yang ia sayangi bersedih. Dan ia pun mengurus beasiswa pendidikan di Libya dengan alasan ia tak kan membuat orang yang ia sayangi menangisi dirinya. Ia ingin pergi jauh agar kita tidak terluka. Tapi sekarang ia benar-benar pergi jauh menghilang dari kehidupan ini. Ummi, Abi, aku dan keluarganya dapat merasa betapa perihnya sakit yang ia rasa.

Ia masih berniat membahagiakan orang lain disaat ia tak berdaya. Sungguh wanita yang membanggakan, di tengah kekurangan dan penderitaannya ia masih bisa membuat bahagia orang tua,keluarga dan orang yang disayanginya. Jikalau ia masih menghembuskan nafas, aku akan sangat bangga dengan prestasinya itu.  Dan aku akan selalu setia berada di sampingnya untuk membuat dia bahagia.

Jadilah aku jiwa yang sepi………..

Seminggu setelah kehilangan Ani, aku menjadi insan yang begitu lemah. Bahkan lantunan azanku pun tak lantang seperti ketika dulu Ani masih disini.

Jiwaku terasa lemah, tak ada yang dapat ku pikirkan selain kesedihan mendalam atas kehilangan Ani. Tubuhku layu, jiwaku sepi. Tak ada Ani yang menyemangatiku lagi. Hari-hari ku lalui dengan duka mendalam atas kepergian Ani yang melepas perih.

Dikesunyian malam, aku teringat pada perbincanganku dengan Ummi Ani ketika di rumah dulu. Ummi berucap, ”Ani adalah kekuatan Ummi, ia segalanya bagi Ummi tapi Ummi sadar bahwa ia hanya titipan Ilahi. Jadi kapan pun Sang Penitip ingin mengambil titipan-Nya Ummi harus rela. Ummi harap engkau juga begitu”.

Malam itu aku merenungkan ucapan Ummi. Benar yang dikatakan Ummi. Aku harus rela menerima kepergian Ani karena ia adalah titipan sang Ilahi. Jika saat itu telah tiba, segala yang menjadi titipan-Nya akan kembali dengan sendirinya karena Dia-lah penguasa semesta.

Lambat laun, aku mencoba melepas kepergian Ani dengan ikhlas. Aku bertekad akan melanjutkan perjuangan dan cita-cita Ani. Untuk itu, aku akan berjanji di hadapan makam Ani.

Hari kian berganti, tanah tempat Ani beristirahat kini tidak merah lagi. Aku pun duduk dekat batu nisan Ani. Walau hati masih terselimuti kesedihan yang mendalam, ku ungkapkan ikrar itu pada Sang Ilahi dihadapan makam Ani. Aku berjanji akan selalu mengumandangkan adzan dan menjadi imam untuk ibadahku dan untukmu Fadhilah Farliani.

Kepergianku ke Libya

Berhari-hari setelah ikrarku dihadapan makam Ani, aku telah siap untuk meninggalkan madrasah tempat aku melewati hari indah dengan Ani. Aku telah memantapkan hati untuk melanjutkan studi dengan beasiswa yang telah di urus oleh Ani. Aku yakin dia akan sangat bahagia jika aku melanjutkan perjuangan yang belum tuntas dijalaninya.

Sedikit sulit dan sempat putus asa ketika aku mengurus pemindahan nama beasiswa ke Libya ini. Namun, aku terus berupaya agar aku bisa berangkat ke Libya. Pihak penyelenggara beasiswa pun membolehkan melanjutkan studi itu dengan syarat penggantinya harus diuji terlebih dahulu kompetensinya.  Aku pun menyetujui persyaratan itu. Walau perjuangan sempat terkendala namun, setelah melewati beberapa tes yang diujikan  akhirnya  sampailah aku pada penentuan persetujuan pemindahan nama beasiswa tersebut.

Menanti penuh harap akan pengumuman itu. Di kantor kedutaan, aku hanya bisa duduk terdiam dan berdoa sembari memandangi foto Ani.  Dalam hati kecil aku berkata, ”Aku akan tetap pergi ke Libya melanjutkan studi walau tidak melalui program beasiswa ini. Akan ku torehkan berbagai prestasi sebagai bukti cintaku padamu Ani”

Dari sebuah ruangan keluarlah pria berstelan jas yang rapi dan memanggil nama Ahmad Faruqi dengan lantang. Aku pun segera mendekati pria itu dan berkata, ”Saya pak”

Pria itu pun mengajakku masuk ke dalam ruangan itu dan mempersilakan duduk. Dengan basmalah ia bacakan sebuah surat kepadaku.

”Jakarta, 10 Juni 2002. berdasarkan tes seleksi atas pemindahan nama beasiswa studi ke Libya yang telah diadakan tanggal 8 Juni 2002. maka kami pihak penyelenggara beasiswa studi ke Libya menyatakan bahwa yang tersebut dibawah ini :

Nama                  : Ahmad Faruqi

Tempat/ Tgl Lahir: Padangpanjang/ 10 Juni 1988

Orang tua            : Muhammad Natsir

Dinyatakan lulus dan berhak melanjutkan studi ke Libya dengan program beasiswa ini.”

Belum selesai pria itu membacakan surat keputusan tersebut, langsung saja dengan spontan aku bersujud atas rahmat yang telah diberikan Sang Khaliq padaku. Aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk mewujudkan cita Ani.

Seminggu setelah pengumuman itu, aku telah siap dengan keberangkatanku ke Libya. Ku berharap keberangkatan ini merupakan suatu ibadah yang mesti aku tunaikan secepatnya. Aku pun diantar oleh keluarga dan Bunda pimpinan asrama dulu. Butiran air mata pun mengiringi keberangkatanku.

Sebelum memasuki pesawat menuju Libya, aku berpesan pada keluargaku dan Bunda, “Janganlah engkau iringi keberangkatanku dengan  tangis. Lepaslah aku dengan senyum karena aku telah cukup bergelimang air mata sebelum keberangkatan ini”.

Ku akhiri perbincangan itu dan berbalik arah meninggalkan orang yang kucintai itu sembari meneteskan air mata yang begitu deras. Aku berniat, akan ku lepas kesedihan ini untuk jutaan kebahagiaan bagi semua orang yang ku sayangi seperti Fadhilah Farliani yang selalu menebar kebahagian untuk orang yang ia sayangi.

SRD

PANTASLAH ENGKAU MENJADI ORANG YANG DIMULIAKAN

Tiada penghargaan yang diberikan pada seorang yang telah mampu mencerdaskan ribuan orang melainkan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu besar pengorbanannya, namun ia diberi gelar seperti itu. Tidakkah terlalu pelit, memberikan apresiasi untuk jiwa yang telah mampu mendewasakan jiwa seseorang? Jiwa yang telah mampu mengisi kekosongan jiwa insan lainnya? Jiwa yang telah mampu merubah sesuatu ke arah yang lebih baik.

Begitu besar pengorbanannya. Mulai dari pengorbanan waktu yang sangat berharga. Ia rela menghabiskan waktunya untuk menjadikan jiwa-jiwa yang kosong menjadi penuh dengan niat kebaikan. Menjadikan jiwa-jiwa mampu berdiri sendiri menjalani hidup yang teramat semu.  Bangun lebih cepat dengan tujuan agar dapat melakukan perannya dengan baik di sebuah lembaga yang sarat akan kedisiplinan. Merasa bersalah jika “sang pencari” tidak ia temui secepat mungkin. Merasa berdosa jika “sang pencari” tidak menemukan apa yang dicarinya.

Tak hanya itu, seusai menunaikan kewajibannya merubah jiwa “sang pencari” ia masih disibukkan dengan seabrek persyaratan administrasi yang membuat kepala berputar tak keruan. Membuat ia jungkir balik menyelesaikan administrasi itu.

Pengorbanan tak hanya sampai disana. Tanggung jawab yang berat masih diemban di pundak. Meski lelah, letih dan tak berdaya. Ia mesti melaksanakan tugas yang telah digariskan padanya. Penguasaan materi, penguasaan lokal,  hasil akhir itulah secuil indikator yang mesti diperhatikan dan dijaganya dalam tugas sebagai seorang pendidik.

Tapi, adakah ”sang pencari” menghargai jerihnya itu? Adakah ”sang pencari” memikirkan betapa lelahnya ia? Adakah ”sang pencari” mengerti keadaannya? Adakah ia diperlakukan dengan adil?

………………………………………………………..

Sulit untuk menjawab hal ini. Susah untuk menjawabnya.

Sedikit dari mereka (sang pencari) yang menghargainya, sedikit dari mereka yang memikirkan betapa lelahnya ia. Sedikit dari mereka yang mengerti keadaannya. Sedikit dari mereka yang memperlakukan ia dengan adil.

Betapa tidak, di saat ia telah lelah berbagi ilmunya sang pencari anggap itu sebagai hal yang sepele. Disaat ia telah lelah berbakti tidak sedikit dari mereka (sang pencari yang tidak menghargainya menganggap remeh dirinya. Dimanakah letak nurani mereka sebagai seseorang yang mempunyai perasaan? Dengan tidak merasa bersalah mencakar sang guru yang menyita hp-nya saat jam pelajaran berlangsung. Merasa bangga ketika berani melawan sang guru. Merasa hebat ketika berhasil meloloskan diri dari jam pelajaran.

Apa yang salah padamu wahai sang pencari kebenaran? Telah lelah gurumu mendidik, membimbing dan mengarahkan dirimu. Telah ia tampilkan keteladanan padamu. Lalu apa yang kurang darinya? Kenapa tak kau hargai dia? Adakah karena ia masih muda dan belum layak engkau hargai? Adakah karena badannya terlalu kecil darimu?

Ketahuilah dia tak lebih buruk darimu. Dia tak lebih kecil dari dirimu yang mengkerdilkan jiwanya. Dia lebih berpengalaman dari dirimu yang hidup lebih muda karena untuk bisa berdiri di hadapanmu itu butuh 16 tahun belajar.

Mengapa kau tak menghargainya? Mengapa kau buat ia meneteskan air mata karena sikapmu? Mengapa kau biarkan hatinya terluka?

Seketika engkau membuat hatinya terluka, engkau tak hanya membuat ia bersedih namun kau telah menorehkan dosa di catatan amalmu. Tidakkah engkau sadari itu?  Tidakkah engkau takut akan balasan Yang Maha Kuasa atas sikapmu pada orang yang telah berusaha mendewasakan dirimu? Tidakkah engkau mengerti apa yang ia harapkan darimu?

Mengertilah akan dirinya wahai jiwa “sang pencari” karena ia lebih mulia dan malaikat akan senantiasa mengepakkan sayap bagi orang yang berilmu. It’s promise.

Oleh : SRD

srirahmadhena.wordpress.com

rahmadhena_06@yahoo.co.id

KISAH SEEKOR BELALANG

Seeekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang yang lain, namun ia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang tersebut dan bertanya,”Hey…… mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh? Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Hmm, selama ini kamu tinggal dimana? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.

Saat itu, si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak jauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

“Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar pernah pula mengalami hal  yang sama dengan belalang tadi. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun. Perkataan teman atau pendapat tetangga seolah membuat kita terkurung dalam sebuah kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan pada kita. Tanpa pernah berpikir benarkah apa yang mereka katakan. Bahkan lebih buruk lagi kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah kita pernah mempertanyakan kepada nurani sendiri bahwa kita bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh kalau kita mau menyingkirkan kotak tersebut. Tidakkah kita ingin membebaskan diri kita untuk bisa mencapai sesuatu yang selama ini kita anggap di luar batas kemampuan.

Sangat beruntung, sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teruslah berusaha mencapai apapun yang  ingin dicapai.

Memang sakit dan  melelahkan tapi bila kita telah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Kehidupan kita akan lebih baik, kalau hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk kita.

Tidaklah dapat merasakan nikmatnya hidup jika kita melewti kehidupan dengan cara-cara yang mereka pilihkan untuk kita. Setiap kita memiliki kehidupan sendiri dan menjadi pilihan kitalah untuk menjalani masing-masing kehidupan itu. Tidakkah lebih baik hidup di dunia ini dengan jalan hidup sendiri agar lebih dapat mengapresiasikan diri dan berkarya untuk sebuah kemajuan yang membahagiakan.

Jika kita tidak mencoba untuk keluar dari kungkungan yang membatasi ruang gerak hidup maka selamanya kita akan menjadi ibarat belalang yang tidak dapat melompat lebih tinggi dan jauh seperti belalang lain.

Diilhami dari sebuah program”Resonansi Jiwa di radio Classy FM tanggal 13 Juni 2004”

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, “Siapakah kamu ini?”

Jawab kami, “Kami adalah orang beriman.” Kemudian baginda bertanya, “Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu?” Jawab kami, “Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami biasakan sejak zaman jahiliyyah ?”

Tanya Nabi s.a.w, “Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu?” Jawab mereka, “Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.”

Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, “Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu?” Jawab mereka, “Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu”.

Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, “Apakah lima perkara yang kamu masih biasakan sejak zaman jahiliyyah?” Jawab mereka, “Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh.”

Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, “Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama maupun dalam tatacara berbicara, hampir saja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi.”

Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, “Maukah kamu aku tunjukkan pada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlomba-lomba dalam sesuatu yang akan kamu tinggalkan, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat.”

(Ingat surat at-Takaatsur dan al-Humazah). Dalam surat al-Humazah diceritakan bahwa orang-orang yang mengumpat dan mencela kehidupan sederhana Nabi Muhammad SAW mengira kekayaan adalah sesuatu yang dapat mengekalkannya. Namun, pada akhirnya mereka memperoleh neraka Hutamah.

Begitu juga dengan surat at-Takaatsur. Dalam surat AT-Takaatsur diceritakan orang yang selalu bermegah-megahan dan membanggakan hartanya telah lalai dengan kewajibannya beribadah sampai ia masuk ke dalam kubur. Mereka kira dengan harta dunia menjadi miliknya. Sekali-kali tidak, justru mereka akan memperoleh neraka Jahim sebagai balasan atas perilaku mereka yang selalu membanggakan harta dan bermegahan yang membuat ia lupa beribadah pada-Nya.  Ketahuilah bahwa harta adalah milik Allah dan Allah akan mempertanyakan kembali harta yang telah ia titipkan selama kita hidup di dunia ini.

Sekarang tinggal pilihan bagi kita semua, apakah akan menjadikan harta yang dititipkan itu menjadi sebuah kemegahan yang melupakan kewajiban kita beribadah kepada-Nya sehingga kita dibalasi dengan neraka atau menjadikan harta itu sebagai rahmat yang membuat kita semakin dekat dan cinta pada Sang Khaliq?

Tidak ada kesalahan, tidak ada kebetulan. Seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan agar kita belajar darinya (Elizabeth Kubler-Ross)

Tepuk tangan dan pujian adalah tujuan dan hasil akhir yang ingin didapat oleh orang yang berpikiran pendek (C.C. Lacon)

Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang yang selalu baik (Alyssa Milano)

Orang yang mencari teman yang tidak memiliki kesalahan, tidak akan memiliki teman

(Peribahasa Turki)

Jadilah dermawan, tetapi jangan menjadi pemboros. Jadilah seorang yang sederhana, tetapi jangan menjadi seorang yang bakhil

(Ali bin Abi Thalib)

Tidak ada pertanyaan yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang bodoh yang tidak bertanya karena takut dikira bodoh (Answer Fella)

Gagal dalam kemuliaan adalah lebih baik daripada menang dalam kehinaan. Orang yang gagal sekali-kali tidak rugi, selagi dia belum berputus asa (Lord Efebry)

Kekuatan tidak datang dari kapasitas fisik tetapi dari kehendak yang pantang menyerah (Mohandas Ghandi)

AIR MATA KEJUJURAN

Maafkan kali ini aku harus jujur. Sebuah kejujuran yang mungkin akan menyakitkanmu. Tak ada niat dalam hatiku untuk menyakitimu. Tapi, aku berada dalam pilihan yang berat. Aku harus menjalani pernikahan yang telah digariskan padaku. Namun, aku tak bisa meninggalkan cintamu yang tulus padaku. Ku tinggalkan engkau disaat engkau terluka. Ku biarkan saat engkau menangis. Tapi, aku tak bisa menahan air mata berpisah denganmu yang telah mencintaiku 2 tahun lalu. Begitu banyak kenangan indah yang tercipta bersamamu. Tak mudah di lupa. Tak dapat dihapus dalam waktu sekejap. Bagaimanapun juga, aku pernah menyayangimu. Aku pernah mencintaimu. Dan aku sangat mengasihimu. Tak mudah bagiku untuk menjalani pernikahan ini. Hidupku selalu dibayangi keberadaanmu yang telah kusakiti selama ini.

Kau harus tau siapa aku sebenarnya karena aku bukanlah orang yang tepat dan terbaik bagimu. Engkau begitu sempurna. Sedangkan aku bukanlah siapa-siapa. Engkau punya tujuan hidup yang terarah sedangkan aku lebih suka dengan kebebasan diri. Aku bukanlah orang yang baik dalam pandanganmu selama ini. Aku adalah orang yang telah pernah menjalani cinta dalam ikatan keluarga. Aku tak mampu mempertahankan ikatan itu. Ikatan yang telah rapuh. Ku kenali dirimu disaat ikatan itu sudah mulai menguat. Namun, itulah salah yang telah ku perbuat padamu. Aku bukan orang terbaik, bahkan aku tak bisa mempertahankan keluargaku sendiri. Sebenarnya, tak ada yang dapat dibanggakan dari diriku ini. Aku telah menjalani hidup dalam masalah yang mungkin tak bisa engkau terima. Karena engkau punya cita-cita dan harapan hidup yang lebih indah jika tidak bersamaku. Ku sadari, aku hanya insan luka dan tak berdaya.

Terpikir dalam benakku tentang cinta terlarang. Aku menanam benih cinta denganmu di saat aku punya ikatan cinta yang resmi dengan orang lain. Tak seharusnya itu ku lakukan. Aku pun tidak bisa mengingkari cintaku padamu. Sebuah cinta terlarang yang selama ini ku pendam. Tak bisa ku ungkap kebenaran ini padamu karena aku juga sangat menyayangimu. Tak ingin engkau lepas dari hidupku. Engkau hadir di saat aku membutuhkanmu.

Jangan salahkan keadaan ini sayang. Tak ada gunanya menyalahkan keadaan atau siapapun. Karena ini semata-mata kesalahanku yang terlalu mencintaimu dan tak ingin engkau pergi jauh dari hidupku. Salah diriku yang terlalu ego dengan keinginanku sendiri tanpa ku pikirkan hatimu yang akan terluka nantinya saat engkau tau siapa aku sebenarnya. Mungkin engkau akan terluka dalam saat engkau tau bahwa aku telah terikat cinta dengan yang lain.

Semua adalah keterbatasanku saja. Keterbatasanku sebagai insan yang lemah tak berdaya. Tak mampu melepas dirimu yang terlarang  bagiku. Tak mampu menjadi yang kau mau. Engkau terlalu sempurna bagiku sehingga aku tak sebanding jika berada di sisimu. Telah ku coba untuk menggapai impian sepertimu. Aku mencoba dan aku tak mampu. Aku memang lemah dengan keterbatasanku. Bagiku engkau hanya akan terbebani jika aku yang setia menemanimu. Baiknya engkau bersama orang yang sama seperti dirimu dan punya kekuatan untuk berjuang meraih impian sepertimu.

Tak  bisa lagi mencintaimu karena itu. Tak sanggup aku melihat engkau menahan sakit yang akan engkau rasa jika hidup bersamaku. Tak bisa lagi mencintaimu dengan sisi lainku. Engkau akan semakin terluka dengan itu. Sedangkan aku tau engkau tak sanggup menjadi biasa. Sungguh aku tak sanggup. Karena aku sangat menyangimu. Dan aku tidak ingin melihat engkau terluka dan tersiksa sedikitpun apalagi dengan sisi kehidupanku yang tak searah denganmu.

Tak ada satupun yang mungkin bisa terima kau seperti aku. Mereka akan mencelaku jika tetap bersikukuh denganmu. Mereka akan memakiku karena aku tak pantas untukmu. Berada disisimu saja tak layak, apalagi memilikimu. Ku mohon jangan salahkan aku lagi. Jika nantinya mereka akan memisahkan kita. Lebih baik ku akui siapa diriku sebenarnya. Aku bukanlah orang yang baik bagimu. Setelah kau tau siapa aku. Ku mohon jangan salahkan mereka yang telah merahasiakan diriku selama ini. Karena semua ini terjadi atas pintaku. Dan sekarang kau pun tau, ini aku yang sebenarnya. Aku tak sanggup buat engkau semakin terluka. Sekali lagi,  maafkan kali ini aku harus jujur. Kejujuran yang membuahkan penyesalan mendalam karena mengenalku.

Jiwa yang Bertahta di Ragaku

Demi jiwa yang bertahta di ragaku, ku ingin desiran angin malam menyampaikan pesan kasih sayang pada orang yang ku kasihi selama ini. Berharap ia mengerti dengan apa yang merasuk ke dalam batinku di setiap langkah gerak hidupku yang teramat kelabu.

Mengerti dengan apa yang menjalar ke dalam aliran darahku yang mulai membeku.  Mengertilah bahwa engkau telah menggoyahkan tiang pembatas rasa dihatiku. Merobohkan tembok penghalang cinta. Dan menanam setumpuk benih cinta yang menumbuhkan pohon kerinduan yang merindangkan hati pemiliknya. Harapan yang menggelayuti pikirku dalam 1 tahun mengenalmu. Harapan yang membawa aku ke dalam mimpi terindah dalam hidupku.

Pagi pun menjelang, mentari beranjak dari peraduannya. Menyapa insan yang tak berhenti mencari. Demi menggapai sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang tiada ternilai dengan sebuah materi. Tak terbayar oleh sejumlah kemewahan. Kebahagiaan hakiki. Aku pun terbangun dari mimpi indah dan panjang. Berusaha menapaki jalan kehidupan yang nyata. Ku dapati engkau begitu mengasihiku teramat tulus. Mengasihi layaknya aku yang teristimewa dalam hidupmu.

Mengenalmu sebuah keberuntungan bagiku. Berjuang denganmu menambah semangat hidupku. Menjalani hari denganmu sebuah kebahagian yang mendalam bagiku. Sungguh engkau membuat semangat hidupku. Menjadikan aku sebagai orang yang beruntung. Orang yang mendapat segala kebahagian. Namun, apakah ini benar2 kebahagiaan? Tidakkah ini fatamorgana? Ku harap tidak karena engkau lah yang bertahta di ragaku.

Berikan Aku Ketabahan

Siapa yang tidak menginginkan menjadi yang terbaik. Aku rasa tiada manusia yang menolak untuk menjadi yang terbaik. Begitu juga dengan aku yang menginginkan keberhasilan, kesempurnaan, menjadi yang pertama dan utama. Namun, betapa sedih dan pilunya hati ini ketika aku telah mencoba jadi yang terbaik dengan segenap usaha harapan itu tak kunjung menghampiri.

Selama ini, aku bangga dengan apa yang telah kumiliki. Merasa bahagia dengan prestasi yang ku torehkan. Namun, akhir-akhir ini, barulah aku mengerti bahwa keinginan dan ambisi untuk menjadi yang terbaik itu sebaiknya tidak menjadikan aku lupa. Lupa akan diriku yang lemah dan tak berdaya. Sehingga ketika keberhasilan itu tidak berpihak padaku aku menjadi seseorang yang tak kuat menerima kenyataan itu.

Aku menyadari, selama ini di setiap perlombaan, ujian, dan tes-tes kemampuan atau kegiatan yang menuntut keberhasilan aku selalu berdoa untuk menjadi nomor satu dan terbaik.  Tanpa pernah aku meminta pada Yang Maha Kuasa untuk menjadi orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi kenyataan apapun yang terjadi dalam setiap perlombaan dan ajang kreativitas yang menuntut keberhasilan itu. aku merasa, saat itu aku adalah seorang yang angkuh. Betapa tidak, aku selalu meminta jadi nomor satu (juara) tanpa memikirkan bahwa aku adalah ciptaan Allah yang berhak menentukan siapa yang pantas jadi yang terbaik.

Sepantasnya, sebagai makhluk Allah kita memohon agar diberi kelapangan hati untuk menerima kenyataan. Jika posisi terbaik itu diberikan kepada kita, alangkah indahnya jika kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menjadi orang yang bisa memanfaatkan dan menggunakan keberhasilan itu untuk sesuatu yang berguna. Jika Allah tidak menghendaki posisi terbaik itu pada kita, alangkah indahnya jika kita diberi ketabahan dan kesabaran dalam menerima kenyataan itu.

Aku teringat dengan kisah seorang anak yang mengikuti perlombaan balap. Sebelum pertandingan dimulai, ia menengadahkan tangannya untuk berdoa dan bermunajat pada sang Ilahi. Sungguh mulia dirinya, ketika sang Juri bertanya tentang doa apa yang ia pinta pada Ilahi sehingga ia menjadi sang juara dan dia pun menjawab ”aku hanya berdoa jika aku kalah nanti berikanlah aku ketabahan dan kekuatan untuk menerima kenyataan kekalahanku” sungguh bijaksananya anak ini. Ia tidak meminta untuk jadi sang juara pada Ilahi tapi ia memohon untuk diberi ketabahan, kesabaran dan kekuatan agar ia bisa menerima kenyataan jika ia kalah nanti.

Dari kisah itulah aku menyadari bahwa selama ini aku hanya bisa meminta untuk jadi yang terbaik tanpa meminta ketabahan menerima kenyataan yang akan terjadi sehingga ketika keberhasilan tidak ku peroleh, aku menjadi seseorang yang amat lemah untuk menerima kenyataan itu.

Arti kehilangan

Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah menjadikan kehidupan untuk manusia. Hidup yang dipenuhi dengan ragamnya. Hidup yang indah. Diwarnai dengan berbagai rasa, cerita dan peristiwa. Jikalah tiada lika-liku maka hidup di dunia tidak terasa nikmatnya. Allah pun menjadikan manusia dengan kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya sehingga menjadikan manusia itu menjadi pribadi yang mesti berpikir untuk kelangsungan kehidupannya sendiri. Allah jadikan dunia ini sebagai tempat atau ladang amal di hari akhir. Ibarat menanam di sebuah ladang, tentunya banyak proses yang dilalui, banyak aturan yang harus ditaati, banyak larangan yang harus dijauhi, banyak gangguan, hambatan, ancaman, tantangan dan akhirnya pun merasakan hasil usaha yang telah dilakukan selama menanam di ladang. Apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen. Menanam sesuatu yang bermanfaat dengan cara yang diridhai niscaya akan membuahkan kebahagiaan. Menanam sesuatu yang buruk dengan cara apapun akan membuahkan kesengsaraan dan kesedihan.

Tidak terkecuali aku yang menjalani kehidupan dunia dengan penuh lika-liku. Suka, duka, tawa, tangis dan segala macam rasa telah dilalui dalam menjalani kehidupan. Satu pelajaran penting yang cukup menyadarkan aku dalam hidup ini. Bahwa sering manusia termasuk aku baru menyadari akan hadirnya sesuatu jika telah merasakan sesuatu itu hilang. Ataupun baru merasakan indahnya rahmat Allah ketika rahmat itu telah menghilang dari diri. Salah satunya yang terjadi pada hidupku, aku baru menyadari begitu berartinya sahabat ketika sahabat itu telah menghilang dariku. Baru menyadari arti penting sebuah benda ketika benda itu telah menghilang. Baru menyadari arti keberadaan orang lain ketika orang tersebut telah menghilang.

Sebelumnya, aku kurang memaknai arti penting segala sesuatu yang ada dalam hidupku namun sedikit demi sedikit kehilangan demi kehilangan yang terjadi pada diriku membuat aku sadar akan arti diriku hidup selama ini. Aku beruntung masih diberi kesempatan untuk memaknai arti hidupku yang telah banyak kehilangan.

Saat satu persatu yang kumiliki di dunia ini hilang dan berlalu, hanya air mata yang dapat ku jatuhkan ketika menyadari kehilangan itu. Begitu perihnya merasakan kehilangan sesuatu yang dimiliki selama ini. Tapi, karena agama aku disadarkan kembali bahwa harta ataupun sesuatu yang dimiliki di dunia ini hanyalah perhiasan semata. Bukanlah kepemilikan seutuhnya. Allahlah yang menjadikan segala sesuatu itu atas kita. Lalu kenapa kita merasa tidak terima ketika pemberian itu kembali pada Allah. Mengapa mesti bersedih? Mengapa berontak dan memaksa agar sesuatu itu kembali. Semua kepunyaan kita di dunia ini adalah milik Allah. Betapa Maha Pemurah sang Khaliq yang memberikan apa pun kebutuhan kita. Tapi, begitu jarang diantara kita yang bersyukur atas itu bahkan merasa sesuatu yang dimiliki saat ini adalah milik kita seutuhnya dari hasil jerih payah selama ini. Padahal itu bisa ada jika Allah menghendaki.

Selama ini aku telah lalai dan lupa. Aku menganggap bahwa yang ku miliki ini dapat kumiliki seutuhnya. Aku telah disadarkan dengan kehilangan sesuatu yang telah kumiliki tersebut. Terima kasih Ya Allah masih ada waktu bagiku untuk memperbaiki diri ini. Aku berharap, untuk masa yang akan datang kesalahan ini tak kan terulang lagi. Semoga Allah memperkenankan pintaku ini. Alhamdulillahirabbil alamiin ya Allah.

CINTA KELIMA

Cinta…………….

Rasa itu sungguh mendera batinku. Cinta yang membuat hari-hariku menjadi bahagia karena indahnya. Namun, jika cinta tidak diungkapkan sungguh menjadi penyakit yang menyusahkan. Membuat tak berdaya, menjadikan orang lemah bahkan  kehilangan arah. Karena cinta, adalah rasa yang mesti ada.

Semua orang memiliki cinta dan bebas mengapresiasikan cintanya pada apapun, siapapun, kapanpun dan dimanapun. Seseorang yang dilanda cinta akan menjadi orang yang teramat bahagia karena itu tak ada seorang pun yang membenci dan menolak rasa itu.

Begitu juga denganku, yang memiliki cinta. Tapi, sungguh sedihnya hati ini saat orang yang dicinta perlahan pergi jauh. Ketika cinta pertama pergi untuk selama-lamanya. Cinta kedua telah bersama orang lain. Cinta ketiga, dimakan api cemburu. Cinta keempat mendua. Sampailah aku pada cinta kelima sepanjang usiaku.

Adi, begitu ia disapa. Pelantun adzan terindah menurutku. Karena itulah cinta ini ada padanya. Kesetiaannya, ketaatannya, ketekunannya dan kecintaannya pada Sang Khaliq membuat aku menancapkan mata batinku padanya.

Hari-hari ku lewati bersama dengannya tanpa ia tahu bahwa aku mencintainya. Ia tak pernah menolak kehadiranku. Bahkan ia selalu ramah dan berlaku baik. Keakraban membuat aku senang berada disisinya. Terlebih karena ia orang yang ku cinta.

Ketika keakraban sangat melekat di jiwa, sampailah ia pada pertanyaan tentang cinta. Aku hanya bisa diam. Aku berharap, dia yang akan mengungkap rasanya padaku. Namun, sebuah pertanyaan mendarat di hadapanku ”Sebenarnya kamu menganggap aku sebagai apa selama ini?” Pertanyaan itu membuat detak jantungku mengencang. Hati kecil berkata ”Kenapa pertanyaan ini yang diajukannya padaku”

Aku berharap dialah yang mengungkapkan kata cinta itu padaku. Namun, pertanyaannya itu membuat akulah yang mengungkap cinta itu padanya. Ku ungkap padanya bahwa aku mencintai dirinya karena ketaatan dan cintanya pada Ilahi. Berada di sisinya menjadi ketenangan bagiku. Berbincang dengannya menyejukkan kalbuku karena di setiap ucapannya menyentuh mata batinku. Setelah itu ku biarkan dirinya merespon ucapan dan pengakuan dariku tentang rasa cinta padanya.

Sejenak terdiam, aku berharap ucapan dari bibirnya sama dengan apa yang ku rasa namun sungguh kecewa diriku ketika ia menjawab ”kita hanyalah sebuah tim yang harus selalu bekerja sama agar tercapai tujuan yang diinginkan, jika kita selalu kompak maka apa yang dicita-citakan akan terwujud”. Jawaban ini tak memihak padaku. Seketika itu aku berpikir bahwa ia tak berani mengungkapkan dengan jujur apa yang ia rasa terhadapku. Apakah ia juga memiliki cinta seperti cintaku padanya? Sampai detik ini pun aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu.

Hari-hari berlalu, masa keakraban dan kebersamaan itu pun berakhir. 2 bulan sudah menjalani hari-hari bersamanya dengan tim pengabdi masyarakat lainnya. Banyak kisah yang telah tercipta bersamanya. Tak akan mungkin mudah dilupa.

Awal mula berjumpa dengannya, aku mengenal ia sebagai seseorang yang teramat taat pada Allah. Ketaatannya mampu menggoyahkan hatiku. Kebersamaan dalam menjalani sebuah tugas dalam satu tim membuat hatiku nyaman berada di sisinya. Saat mengenali dirinya, aku juga sudah punya cinta. Tapi, entah kenapa bagai sebuah keajaiban. Disaat aku mengenalinya sebagai seorang tim, cintaku pun mendua dengan rekan tim lainnya. Kesedihan yang membara menghanguskan hatiku. Namun karena dirinya, api kesedihan itu dapat dipadamkan dengan kesejukan yang ia berikan selama bersamaku. Ia datang sebagai obat penawar luka hatiku.

Dengan keadaan demikian, luka akibat dimadu pun tak terasa begitu perih karena ia telah hadir disampingku untuk mengobati luka itu. Ia ada di sampingku untuk membuat aku bahagia, ia ada untuk menghentikan air mataku karena luka dimadu.

2 bulan bersamanya cukup meyakinkan aku, bahwa ia adalah yang terbaik. Tapi, disepanjang perjalanan tugas tim itu, ia tak pernah mengungkapkan apa yang ia rasa padaku. Sedikit kecewa tapi biarlah bagiku dia ada untukku itu sudah cukup.

Sekarang saat dia sudah jauh dari pandangan, aku hanya bisa mengingat masa indah bersahabat dengannya. Karena kalaupun aku menginginkan cintanya itu tak mungkin karena saat ini dia juga punya cinta yang lain. Terima kasih atas kebaikan dan kebersamaan yang telah engkau ciptakan bersamaku selama ini. Cinta kelima bagiku cukup berada di dalam ingatan dan perasaan.

Air Mata untuk Sahabat

Sahabat,

Dimana engkau?

Disaat aku terpuruk kedalam jurang yang gelap

Disaat aku terpukul dengan guncangan yang maha dahsyat

Disaat aku berlinangan air mata menatap kehidupanku

Disaat aku tak bisa memandang dunia dan tersenyum padanya

Disaat aku benar-benar lumpuh dengan keadaan seperti ini

Di heningnya malam, ku teringat padamu

Teringat akan kisah kebersamaan denganmu

Kisah canda tawa riang bersamamu

Kehangatan berkumpul, berbagi cerita denganmu

Tak bisa dilupakan

Tak bisa diabaikan

Tak bisa dianggap berlalu

Derasnya kucuran air mata setiap malam menjelang

Selalu menjadi pengantar tidurku di malam yang singkat

Kenangan indah bersamamu selalu menghampiri pikirku

Aku yang bahagia berada di sisimu selama ini

Tapi………

Benarkah sekarang engkau lupa akan hadirku

Benarkah sekarang engkau tak lagi mengingatku

Benarkah aku bukan lagi orang terpenting dalam hidupmu

Benarkah aku tak terlintas lagi dalam benakmu

Benarkah aku tak layak lagi berdampingan denganmu

Benarkah aku tak sejalan lagi denganmu

Betapa luluh lantaknya hati ini

Terkoyak begitu keras

Teriris perih

Ketika ku tau engkau tak lagi ingat padaku di saat penting

Ketika ku tau engkau telah meninggalkanku di saat berharga

Ketika ku tau engkau sangat bahagia, disaat air mataku mengalir tiada henti

Terdiam membisu tanpa ada komentar untukmu

Terhenti aliran darah ini mengetahui kabar darimu

Sedih yang kurasa, melunakkan tulang-tulang tubuhku

Sedih yang kurasa, melemahkan sekujur tubuhku

Sedih yang kurasa, tak dapat dilukiskan pasti dengan sebuah kata sendu

Yang ku tau, engkau telah berlari meninggalkan langkah kaki yang tertatih-tatih

Sekarang……

Maafkan aku…..

Luka ini begitu dalam

Hati ini begitu pilu

Tak mampu menatapmu lagi

Tak mampu bicara padamu lagi

Tak mampu membalas pesanmu lagi

Hanya air mata yang mampu ku perlihatkan padamu

Air mata yang mengalir dari bola mataku setiap malam

Karena itulah yang kulakukan setiap malam untuk mengingatmu

Sahabatku tercinta……..

SRD

Kehilangan Jiwa Yang Tenang

Tetesan air matamu tiada arti bagiku

Wajah memelasmu tak kan merubah pilihanku

Aku sudah terlalu terluka

Untuk bisa mengembalikan tawa

Memutar cerita dan bahagia

Kini……..

Jalanilah jalanmu

Wujudkan citamu

Tinggalkan aku dengan pilunya hatiku

Lupakan  aku dalam dukaku

Aku tak ingin kembali pada masa itu

Air mataku terlalu mahal untuk menangisimu

Tiada kata kembali untukmu

Tiada harapan untukmu

Aku sudah tak sanggup untuk berjumpa denganmu

Hati ini tak menerima dirimu

Disudut dunia kenangan

Tinggallah aku di persimpangan

Merintih meronta kehilangan

Kehilangan jiwa yang tenang

Dipandu dengan air mata yang berlinang

SRD

Jiwa yang Dinanti

Memandangmu menyejukkan kalbu

Menatapmu menguatkan hati

Berada di sampingmu membuat aku tegar

Getir langkah membuat aku tersungkur

Berjalan tertatih menggapai satu asa

Jauh…

Kian jauh meraba puncak itu

Menatap kosong pada seisi dunia

Dunia yang begitu angkuh menerima kehadiran ini

Apa gerangan yang terjadi?

Adakah dunia lupa akan arti diriku?

Diri yang telah lama berdiri tegak

Merangkai rajutan impian indah

Bergelimang keringat peluh yang telah beku

Dimanakah dia yang selama ini kucari?

Kemana ia bersembunyi?

Hai jiwa yang kucari….

Hadirkanlah ragamu pada aku yang telah lama menantimu..

SRD

Demi Sebuah Cita

Terik mentari iringi langkahmu

Tertatih melangkah maju

Tak sedikit pun engkau layu

Kau jadikan hati ini pilu memandangmu

Berlari mengejar putaran roda

Kau datangi ia

Kau bernyanyi untuknya

Kau hibur mereka

Tak banyak yang suka

Tak sedikit yang mencela

Ini bukan inginmu

Ini bukan tugasmu

Tak sepantasnya engkau begitu

Tak selayaknya kau lakukan itu

Tapi, Demi bertahan untuk tetap menatap dunia

Kau rela

Demi sebuah cita

Kau ikhlas terluka

Tinggalkanlah jalan itu

Ikutlah denganku

Yang ingin membahagiakanmu

Wahai penjajal suara di tepian rindu

SRD

Pelajaran Hidup

Tatapan kosongmu

Buatku sadar

Sadar akan arti hidup

Hidup yang penuh tantangan

Pikirmu yang panjang

Jauh menerawang

Sampai ke lubang terdalam

Buatku semangat menjalani hambatan hidup

Aku merasa kalah

Kalah dengan keteguhanmu

Kalah dengan kesungguhanmu

Di senja usiamu

Kau masih mampu berjuang

Masih mampu berdiri tegak

Dan masih mampu berjalan diatas kerikil tajam kehidupan

Aku malu dengan diriku yang lemah

Tak berdaya dan tak kuasa

Sekarang, kau masih mencoba untuk melangkah

Getir langkahmu buat air mata ku mengalir deras

Tiada kuasa untuk menghentikannya

Menatapmu membuatku rindu kenangan itu

Rindu akan hangatnya dekapanmu

Dekapan yang membuat diriku nyaman di sampingmu

Tak banyak bicara, tapi….

Di setiap untaian kata yang terlontar

Memberi makna terdalam bagiku

Engkau ajarkan padaku arti hidup

Hidup yang panjang

Aku lemah tanpa kehadiranmu

Engkau yang slalu menemaniku dalam meniti kehidupan ini

Dan aku pun terbiasa dengan itu

Namun kini, engkau tiada

Tiada candamu, tiada suka

Engkau tidak lagi mendekapku

Kemana akan ku cari dirimu

Aku benar-benar luka dengan keadaan ini

Yang tinggal hanyalah sepenggal kisah tentangmu

Tapi, aku mengerti kenapa engkau pergi

Engkau hendak menunaikan takdir TuhanMu

Selamat untuk ayahku yang telah berjuang keras demi hidupku

Dan selamat untuk ayah-ayah

Yang telah berjuang demi anaknya tercinta

SRD

Karena Aku Takut Kehilanganmu

Senyum indahmu

Getarkan jiwaku

Paras wajahmu

Pesonakan aku

Dikau sang penakluk hati

Hadirkan jiwamu yang suci disini

Aku ingin kembali

Tak sekalipun mata terpejam menatapmu

Tak sedikitpun pikiran gundah memikirmu

Akulah jiwa yang mendambamu

Menginginkan hadirmu

Jangan pernah engkau lupakan aku

Jangan kau buat hatiku sembilu

Jangan kau tinggalkan aku

Jangan kau buat air mataku

Untuk menangisi kepergianmu

Dari sisiku

Karena aku takut kehilanganmu

SRD

LANTUNAN ADZAN UNTUK ANI YANG HILANG

“Maaf aku tak bisa menemui dirimu hari ini”

”Aku juga tau, engkau takut akan hukuman itu kan?”

Berat hati mengungkapkan itu pada Ani tapi ia mengerti dengan keadaan saat ini. Minggu ini sedang gencar-gencarnya razia di pondokan. Santri laki-laki dan santri perempuan dilarang bertemu tatap muka dan berbincang berdua. Hal ini dikarenakan sebuah kasus pembina pondokan putra dan putri yang tertangkap mata jalan bareng di sebuah pusat perbelanjaan. Karena itu, disiplin pondok mulai diperketat. Santriwan dan santriwati pun dilarang tatap muka langsung.

Dengan peraturan baru itu, aku merasa hak hidupku terampas. Kenapa tidak, biasanya aku bisa berjumpa dengan Ani setiap hari, berbincang bersama melepaskan rasa rindu dan lelah beraktivitas seharian.  Aku terbebani dengan ini. Berbeda dengan Ani yang tenang dan mengerti dengan situasi saat ini. Itulah Ani, gadis manis yang sangat pengertian. Karena itu jua-lah ku tancapkan mata batinku padanya. Sikapnya yang pengertian dan lembut membuat jiwa ini tenang berada di sisinya.

Malam……..

Keheningan malam menyeret aku pada bingkai masa lalu ketika pertama kali aku bertemu dengan Ani. Satu tahun lalu,  disudut sekolah pandangan terhenti pada sosok gadis kecil yang manis dan lugu. Mataku tak beranjak dari pandangan pada dirinya. Jantung hati berkata, inilah dia yang ku cari. Jiwa yang dinanti selama ini. Aku pun bertekad dalam hati bisa mendekati gadis itu. Gadis impian yang kucari. Aku terlena dengan pandangan pada dirinya.

Assalamualaikum ya akhi, limadza anta? Ma dza tanzur ya akhi?tiba-tiba Ali mengejutkanku dengan pertanyaannya. Seketika itu juga sosok gadis itu hilang dari pandanganku.

”Ya……., hilang deh”.

”Apanya yang hilang, akhi?”

”O, anu…anu…”

”Anu apanya neh?”

”Aah…., ga’. ”Li, udah selesai tugas B.arab nya? Minggu depan kita ulangan B.arab khan?”

”Apa yang terjadi pada dirimu sob, aku tanyain malah komentar yang lain. Gimana sih? G’ nyambung”

Ga’ masalah nyambung atau ga’ nya sob tapi sekarang bel masuk udah bunyi mendingan sekarang ke lokal aja.”

”Ih, wedan. Tambah ga’ nyambung. Mesti periksa nih otakmu”.

”Biarin”, ungkapku sambil berlalu meninggalkan Ali.

Pelajaran B.Arab dimulai. Saat itu barulah aku teringat tugas yang diberikan ustadz minggu lalu belum selesai ku kerjakan. Aduh, pasti dihukum dech gara-gara tugas ini. Tapi biarlah dihukum hari ini, yang penting hatiku bahagia karena melihat gadis cantik tadi.

Ayyuhath thullab, al an nadrus lughatul arabiyyah” hayya naqra’ basmalah”

Lidahku berat untuk mengucap basmalah. Yang ada hanyalah ingatan pada gadis tadi yang telah menyiksa batinku dengan wajahnya yang menghanyutkan setiap mata yang memandangnya. Aku ber-angan bisa berjumpa dengannya dan mengajak dia jalan berdua. Dan aku pun akhirnya mendapatkan cinta gadis itu. Gadis itu tak menolak dan menerima ajakanku. Aku pun kegirangan dan berteriak gembira.

Tapi, apa yang terjadi, ternyata itu hanya lamunanku. Seisi lokal terdiam karena teriakan kegiranganku. Akhirnya ustadz pun mendekati tempat dudukku dan berkata, ”Ahmad, limadza anta?

Dengan gugup aku pun menjawab, ”afwan ya ustadz, Ana berangan mendapat keberuntungan ya ustadz. Makanya Ana teriak. Sekali lagi afwan ya ustadz

”Kali ini ustadz maafkan tapi lain kali jangan diulangi Ahmad”

”Ya ustadz”

”Selamat, selamat”, ungkapku dalam hati.

Pelajaran B.Arab kali ini tak bisa ku terima dengan baik. Pikiranku tak henti pada gadis tadi. Aku pun tersadar bahwa aku sedang menuntut ilmu. Jadi aku harus fokus pada pelajaran karena jauh dari luar daerah aku datang ke desa ini untuk menuntut ilmu agar menjadi santri yang berprestasi.

Aku pun berjalan mendekati ustadz yang sedang duduk di mejanya.

Ismahli ya ustadz, uridu an aghsilu wajh

Tafadhdhal’”, jawab Ustadz

Dengan sigap ku langkahkan kaki keluar kelas menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahku dan berwudhu. Dengan niat, menghilangkan bayang wajah gadis tadi dari pikiran saat aku belajar.

Namun, di tikungan jalan menuju kamar mandi aku bertemu dengan gadis yang ku impikan. Niat menghilangkan bayangan gadis impian ternyata harus ku singkirkan karena sekarang ia ada di hadapanku. Dengan ucapan penuh harap, ku latih lidahku untuk mengungkapkan ajakan  pada gadis yang ku damba. Tak ada penolakan, sang pujaan hati pun setuju dengan ajakan itu. Hatiku semakin girang, jiwaku bahagia. Aku pun melompat kegirangan, ku ayunkan langkah dengan girang dan tak henti tersenyum. Jikalau orang tuaku disini, akan kuceritakan hal ini padanya. Karena inilah kali pertama aku merasa bahagia dengan seorang gadis yang mempesona hatiku.

Untuk Ani……….

Senja menjelang,  mentari beranjak pergi, kicauan burung menghilang. Semua insan di komplek pendidikan itu kembali bersiap untuk bermunajat pada Ilahi. Lantunan adzan menggema. Memenuhi angkasa raya.

Minggu ini, aku lebih sering melantunkan adzan dan menjadi imam. Tak biasanya ini terjadi padaku. Sebelumnya, aku hanya bisa mempersilahkan seniorku untuk melakukan itu. Entah kenapa, hatiku menjadi berani untuk memimpin peribadatan itu. Tak hanya sekali namun sering dalam minggu ini.

”Ya akhi…….”, seruan lembut terdengar di telingaku ketika hendak melangkah keluar dari mushalla asrama, seketika itu juga aku menoleh ke arah  sumber  suara.

”Ani…., ada apa?”, ucapku.

”Akhi, Ana mau pulang minggu depan.”

“Lalu?”, tanyaku dengan sedikit kebingungan.

”Minggu depan Ana dijemput Abi, rencananya mau berobat. Jadi, Ana ingin pamit sekarang. Ana takut kalau saja nanti ketika akan berangkat tidak bisa pamitan dengan akhi”, ucap bibir lembutnya padaku.

“O, gitu ya…”, ujar ku sambil menggeser hijab mushalla itu dan melangkah mendekati Ani. Sekarang aku telah berada tepat di depan Ani dengan harapan bisa bercerita lebih banyak dengannya karena minggu depan ia akan pulang ke kampungnya. Hatiku sedikit cemas karena peraturan baru di asrama itu, siswa dan siswi dilarang bertemu dan berbincang berdua. Namun, ku kuatkan hati melawan kecemasan itu karena rinduku pada Ani. Aku pun duduk di shaf putri yang pertama kemudian diikuti oleh Ani yang duduk di shaf kedua.

”Emangnya siapa yang sakit Ni?”, tanyaku pada gadis yang kusayang itu.

Ana”, jawabnya singkat

”Benarkah? Sakit apa ya habibi?”

Ana tak tau dengan pasti tapi, ketahuilah bahwa jauh sebelum akhi mengenal Ana, Ana sudah merasakan sakit ini.”

Aku pun terkejut, sakit apa gerangan sang penakluk hatiku. Aku tak melihat ciri sakit tampak di wajah indahnya. Aku pun tak pernah mendengar ia merintih dan mengeluh sakit. Lalu, tiba-tiba ia mengatakan bahwa ia merasakan sakit. Separuh tak percaya dengan ucapan itu.

Akhi……..”

”Ya,”

Ya akhi, Dengarkan Ana. Ana ingin satu minggu ini mendengar akhi adzan dan  menjadi imam.”

”Kenapa begitu?”

”Bukankah satu minggu ini engkau telah mendengarku adzan dan imam? lalu kenapa engkau memintaku untuk menjadi muadzin dan imam untuk satu minggu yang akan datang? Limadza ya habibi?”, tanyaku padanya.

Tak ada jawaban yang keluar dari bibir manisnya. Ia hanya duduk terdiam tanpa kata dan membisu. Keingintahuanku  semakin memuncak, tatapan mataku tak lepas dari pandangan terhadap Ani. Aku menanti jawaban yang dapat memuaskan hatiku. 5 menit ku tunggu tak ada suara, 10 menit, 15 menit. Dan sampailah akhirnya, pembina pondok lewat di depan mushalla dan melihat ke dalam mushalla.

Hatiku semakin galau dan risau, adakah aku dan Ani pujaan hatiku akan dihukum karena pertemuan ini? Tanya itu semakin menyesak dadaku. Ku beranikan diri untuk menyapa pembina pondok itu. ”Assalamu’alaikum ya Ummi”, ucapku dengan sedikit gemetar.

Wa ’alaikumussalam warahmatullahi wabarakaatuh”, Ummi pun menjawab dengan nada lembut tanpa ada tersirat bahwa ia akan marah kepada kami.

”Ani, sudah malam wahai anakku. Kembalilah ke asrama”, ungkap Ummi pada Ani sembari mendekati kami berdua.

Ani pun beranjak dari tempat duduknya dan mulai berdiri tegak berjalan mendekap Ummi. ”Syukran katsiran ya akhi, mudah-mudahan permintaan Ana dikabulkan. Ana pamit dulu, assalamu’alaikum”, ucap Ani dengan nada yang menyentuh hatiku. Dan dengan itu, hatiku menjadi tenang walau pertanyaanku belum sempat dijawab olehnya.

Ani pun berlalu bersama Ummi, tiada ungkapan marah dari Ummi padaku maupun pada Ani pujaan hati, lentera jiwaku.

Tiba-tiba Ummi berbalik dan berkata, “Oya, jangan lupa belajar ya  Ahmad!”

Na’am ummi”, ungkapku sambil berdiri.

Selepas hilang dari pandangan Ani dan Ummi, aku pun berbalik arah dan mengayunkan langkah dengan ringannya menuju asramaku.

Minggu itu…..

Seminggu yang lalu, aku telah menepati janjiku pada Ani. Akulah yang menjadi mu’adzin dan imam di mushalla asrama. Aku lakukan itu bukan semata karena Ani, Namun, itu ku lakukan karena aku merasa inilah saatnya aku beribadah dengan baik dan benar. Karena semula sebelum ku mengenal Ani, aku tergolong siswa yang berlangganan jadi masbuq dalam beribadah. Ani menjadi inspirasi dan penyemangat jiwaku.

Masih lekat di ingatanku bahwa Ani akan pulang untuk berobat minggu ini. Namun, sejak subuh tadi aku tak melihatnya. Kemanakah ia gerangan pujaan hatiku itu? Aku menunggu ia turun dari asrama lantai II, karena disanalah ia beristirahat dan menjalani aktivitas belajar  sepulang sekolah.

5 menit ku tunggu ia belum juga keluar dari asrama itu. Sembari menunggu kedatangannya itu, aku sempat berbincang dengan kepala asrama. Aku sedikit bertanya dengan paras tidak tahu sama sekali dan keingintahuan yang besar perihal kepulangan Ani hari ini. ”Bunda, benarkah ada santri putri yang pulang hari ini?”

”Ada”, jawab Bunda singkat.

“Siapa ya Bunda?”, tanyaku dengan nada merayu.

“Ani, santri di lantai II, ia pulang untuk berobat.”

“Ani.., Ani, oo Ani yang manis itu Bun?”

“Ya”, jawab Bunda sambil menepuk pundakku.

Aku tergolong santri yang dekat dengan Bunda, karena itu aku berani bertanya tentang Ani pada Bunda.

”Ani itu sakit apa ya Bun?”, tanyaku lebih lanjut.

”Kenapa ingin tahu tentang Ani? Ada apa dengan engkau dan dia?”, ucap Bunda dengan nada menyelidik.

Aku pun tersenyum dan mendekat pada Bunda, “Setauku Ani itu sehat Bun, lalu kalau tiba-tiba ia dikatakan sakit. Aku kurang percaya Bunda. Bunda kan tau, aku santri Bunda yang besar rasa keingintahuannya”, ungkapku dengan pe de-nya.

”Benarkah, Bunda balik bertanya padaku”

”Ya donk, ungkapku sambil tertawa.”

Tiba-tiba Bunda diam, aku pun heran dengan sikap Bunda. Aku tertawa Bunda terdiam. Ada apa dengan Bunda? Tanyaku semakin melejit jauh ke langit.

Bunda pun berkata, ”Ani itu anak yang pintar dan punya banyak kelebihan namun, dibalik kelebihannya itu ia punya kekurangan. Ia seperti sehat namun sebenarnya ia merasakan sakit yang teramat perih. Ia menderita paru-paru 1 tahun yang lalu. Dia telah berjuang sekuat hatinya untuk dapat membahagiakan orang tua dan orang-orang yang  dikasihinya dengan belajar dan menghadiahkan prestasi. Namun sekarang, ia tak kuasa lagi. Ia harus berobat kembali karena penyakit yang dideritanya semakin menyiksa jiwanya”. Bunda pun lirih dan matanya pun berkaca-kaca.

Begitu juga dengan aku, yang semula hatiku bahagia sekarang berubah jadi duka. Seakan turut merasakan sakit yang dialami Ani. Benarkah yang dikatakan Bunda itu? Kenapa Ani tak pernah cerita denganku? Kenapa ia merahasiakannya padaku? Tidakkah ia merasa aku ada untuknya untuk berbagi suka dan duka?. Air mata ku pun menitik dengan pelannya.

Tak lama setelah itu, Ani pun muncul dari asrama lantai dua. Dengan segera ku hapus air mata dan beranjak mendekatinya. ”Assalamu’alaikum ya akhi, kata pertama dari Ani padaku minggu itu.

Wa ’alaikumussalam”. Apakah engkau benar-benar akan pulang hari ini An?

”Ya, Abi dan Ummi sudah datang menjemputku. Akankah engkau mengantarku?”, ungkap Ani padaku dengan beraninya padahal disana ada aku, dia dan Bunda pimpinan asrama.

Aku pun menatap Bunda, dengan harapan Bunda mengizinkan aku mengantar Ani. Bunda pun mengangguk. Hatiku pun lega, tanpa pikir panjang ku raih tas bawaan Ani dan ku langkahkan kaki mengantar Ani pada Ummi dan Abi-nya.

Di perjalanan menuju tempat parkir kendaraan orang tua Ani, aku pun berujar pada Ani, ”Adakah engkau akan lama meninggalkan aku?”

Ani pun menempatkan pandangannya padaku, dan itulah pertama kalinya Ani berani menatapku.

Lho, kenapa An? Ada yang salah dengan pertanyaanku” , tanyaku heran.

”Aku akan segera kembali dan menemuimu,  aku hanya rindu dengan kedua orang tua dan keluargaku. Setelah berobat nanti, aku akan kembali menemuimu. Besar inginku untuk dapat lagi berjumpa denganmu dan sama-sama menjadi pencari ilmu di pondok ini. Jadi aku akan secepatnya kembali ke asrama untuk menuntut ilmu kembali bersama denganmu.”

Ku pandangi Ani, hatiku pun kembali berkata. Ani berbohong padaku, ia berucap hanya rindu pada keluarganya padahal ia merasakan sakit yang begitu menyiksa batinnya.

Sampai di lapangan parkir, aku melihat sebuah mobil mewah berwarna hitam. Hanya itu kendaraan yang parkir di lapangan yang luas itu. ”Itukah mobil orang tuamu An?”, tanyaku.

”Ya”, jawabnya singkat.

Sebelum sampai di mobil itu aku sempat berkata pada Ani, ”Ani, janganlah engkau rahasiakan sesuatu padaku. Aku akan selalu ada untukmu. Engkau bahagia, aku pun bahagia. Engkau sedih aku pun teramat sedih”.

”Kepulanganku, selain aku rindu pada keluargaku aku juga ingin berobat wahai pemilik hatiku”, ucap Ani dengan pelan.

”Ya, aku tau itu. Aku berharap tidak ada rahasia lagi untukku. Aku masih menanti cerita darimu. Sesampai di rumah nanti jika engkau merasa masih ada sesuatu yang tersimpan rapi di hatimu, ungkapkanlah padaku. Aku menunggu kisah darimu.”

Seketika itu juga, orang tua Ani telah  menunggu dan membukakan pintu untuk anaknya. ”Ani”, ucap seorang perempuan padanya. Perempuan itu pun keluar.

Batinku berkata, inilah orang tua Ani. Ternyata benar. ”Terima kasih ya nak sudah mengantar Ani, ngomong-ngomong namanya siapa?”

”Ahmad ya Ummi”, ungkapku dengan sopan.

”O, Ahmad” ia berkata seakan ia sudah mengenalku padahal inilah kali pertama aku berjumpa dengan Umminya Ani.

Ani pun masuk ke dalam mobil itu. Kemudian tiba-tiba ia keluar dengan sebuah bungkusan plastik yang agak besar.

”Ummi, ini untuk Ahmad kan?”, tanyanya pada Ummi.

”Ya sayang”, jawab Ummi kemudian mendekapnya.

Akhi, terimalah ini”

”Apa ini An?”

Ia hanya tersenyum dan berkata, “Aku pulang dulu ya”

Ku terima bingkisan itu dan ku tatap wajahnya sambil berkata, “Hati-hati di jalan ya. Jangan lupa baca do’a dan selalu dzikir”, ucapku.

“Baiklah kalau begitu nak Ahmad, kami pamit dulu. Assalamu’alaikum”

“Wa ‘alaikumussalam warahmatullaahi wabarakaatuh”, ucapku sambil memberi tempat agar mobilnya bisa berputar arah.

Mobil pun berbalik arah dan meninggalkan aku di lapangan yang luas ini. Masih sempat ku lihat Ani tersenyum dan melambaikan tangannya padaku. Kemudian ia pun berlalu.

Ani ku yang hilang………

Seminggu sudah Ani tak berada di asrama. Aktivitasku menjadi mu’adzin dan imam di mushalla asrama tetap ku lakukan. Dengan itu, penduduk asrama semakin mengenalku dan berlaku ramah.

Lama ku menanti kedatangan Ani. Namun, ia tak kunjung datang. Di sekolah, aku semakin giat belajar dan beribadah dengan harapan setibanya Ani nanti, aku akan menunjukkan padanya bahwa aku selalu berjuang untuk hidupku. Ku ingin perjuanganku ini juga menjadi motivasi untuk Ani agar ia tetap berjuang keras demi hidupnya, walau terkadang ia merintih.

Hari demi hari ku lalui, puluhan prestasi telah ku raih. Namun, Ani ku tak kunjung datang. Perasaan gundah melanda hati. Semakin hari semakin gundah menantinya. Tiadakah kabar untukku tentang keadaannya?

Pagi itu, aku mandi lebih awal dari biasanya. 1 jam sebelum pelajaran di sekolah dimulai aku telah siap dengan perlengkapanku. Tentunya aku juga sudah sarapan pagi walau tanpa melihat Ani dalam minggu-minggu terakhir ini.

Karena pelajaran di sekolah belum dimulai, aku pun menemui Bunda pimpinan asrama. Setelah mengucap salam aku masuk ke ruangan utama tempat Bunda biasa beraktivitas. Aku pun mulai berbasa basi untuk memulai percakapan dengan Bunda. Kemudian sampailah pada pertanyaan itu. “Bunda, adakah kabar dari Ani?”, tanyaku singkat.

Bunda menatapku seraya menjawab, “Belum ada kabar darinya. Ada apa denganmu sampai engkau bertanya demikian  wahai Ahmad?”

Terdiam sejenak lalu aku menjawab dengan berani, “Ani itu adalah teman terbaikku wahai Bunda. Jadi aku ingin tau bagaimana kabarnya saat ini”

“Bunda belum tau nak, sampai saat ini tiada kabar dari temanmu itu. Sekarang berangkatlah menuju kelasmu. Bersiaplah untuk pelajaran hari ini, perintah Bunda padaku.

Dengan gerakan lambat dan malas ku langkahkan kaki meninggalkan Bunda. 10 langkah dari pintu ruangan Bunda, terdengarlah bunyi deringan telepon. Aku pun terhenti. Berharap itulah Ani yang akan menyapaku pagi ini. Namun, tiba-tiba Bunda keluar dari ruangan itu dan berujar, ”Ahmad, ada kiriman surat untukmu dari Ani di kantor sekolah”

Aku pun girang, semula aliran darah di tubuh tidak terasa sekarang aliran darah itu terasa cepat dan kencang. Aku pun berlari tanpa lupa mengucap terima kasih pada Bunda menuju kantor sekolah. Puluhan tangga ku lalui dengan cepatnya karena aku yakin ada pesan penting dari Ani melalui surat itu. Aku berpikir, mungkin Ani ingin mengungkapkan rahasia yang selama ini ia sembunyikan dariku. Atau mungkin Ani ingin menyapaku lewat surat karena takut menghubungiku lewat telepon.

Ya, ternyata ada. Seorang lelaki mengantar surat itu padanya. Lelaki itu mengaku adalah sopir keluarga Ani dan aku percaya itu karena selintas dahulu aku pernah melihatnya sewaktu aku mengantar Ani pulang.

”Surat ini untukmu nak Ahmad”, ujar lelaki itu padaku. Kemudian ia menjauh dan membiarkan aku membuka amplop surat yang indah itu. Ku baca surat itu, namun mataku tak berkedip ketika membaca pesan bertuliskan, Aku tak kuat lagi, aku tak bisa menahan derita ini, karena itu aku ingin memenuhi panggilan Ilahi di lembaran terakhir surat itu membuat aliran darahku berhenti seketika itu, linangan air mata tak terbendung, tubuh layu dan tertunduk jatuh. Dunia seakan gelap bagiku. Aku tak kuasa, aku tak berdaya. Ternyata, Ani yang ku tunggu selama ini telah hilang. Ia menutup matanya untuk memandang indahnya dunia. Jantungnya berhenti berdetak dan tiada nafas lagi. Ia tak sanggup lagi berdiri dan menatap dunia dengan indahnya.

Suatu kenyataan yang tak bisa ku terima saat itu, bagaikan mendapat pukulan keras di hati. Aku layu dan lemah. Ia telah berlalu meninggalkan aku. Mengapa ini terjadi begitu cepat? Mengapa ia tinggalkan aku dengan seribu kebingungan tentang dirinya? Aku tak percaya.

Berkali-kali ku baca lembaran demi lembaran kisah darinya. Hatiku membeku, begitu dingin tak sanggup untuk bergerak lagi. Yang ada hanya derasnya air yang mengucur dari bola mataku dan perasaan sedih yang mendalam.

Entah berapa lama aku berada di kantor membaca surat dari Ani pujaan hatiku. Aku tak mengerti dan tak tau. Yang ku tau aku telah terbaring di sofa kantor dengan puluhan bola mata memandangiku saat itu.

Menangisi kehilangannya….

Siang itu, sang pengantar surat masih ada di sekolah. Aku pun memohon dengan harap pada Bunda agar diizinkan pulang ke rumah Ani bersama lelaki pengantar surat tadi. Bunda tak berkata apa-apa. Ia hanya menatapku dengan matanya yang telah sembab sembari membukakan mobil mewah yang dahulu digunakan Ani untuk pulang ke rumahnya. Seakan dia mengerti perasaanku. Tanpa ragu ku cium tangan Bunda dan langsung masuk ke dalam mobil.

Di perjalanan, tak ada yang dapat ku ucap. Yang ada dalam pikiranku hanyalah Ani, Ani dan Ani. Kenapa ia begitu cepat berlalu. Kenapa ia pergi menghilang dengan kebingungan yang besar di benakku. Ribuan pertanyaan tentang Ani memenuhi pikiranku.

Sore itu juga, aku sampai di rumah Ani. Dari halaman depan rumah sudah berjejer insan berupaya masuk ke dalam rumah yang sederhana itu. Aku pun tak percaya, keluarga Ani bisa memiliki mobil mewah namun, rumah tempat tinggalnya hanya terlihat sederhana. Tak semewah mobil yang dimilikinya. Pertanyaan kembali menghampiri otakku, benarkah ini rumah Ani? Tapi, pikiran itu segera berlalu. Seketika masuk ke dalam rumah itu, aku masih diliputi kebingungan. Tiada tangisan, yang ada hanyalah keheningan yang begitu dalam. Tiada suara. Tiada isak tangis. Ku Langkahkan kaki menuju ruang tengah, disitulah kebingunganku terjawab. Benar ini adalah rumah Ani karena ku lihat perempuan yang dulu pernah ku temui sewaktu mengantar Ani. Ya, dialah Umminya Ani. Disana, Ummi tengah memeluk erat tubuh yang tiada lagi menghembuskan nafas. Terbujur kaku, ditutupi dengan kain panjang dan kain transparan di bagian mukanya. Aku pun mendekat. Jantung pun berdetak semakin kencang, tak terkendali. Perlahan ku buka kain transparan penutup wajah yang terbujur kaku itu. Seketika itu pula aku merintih. Semua kebingunganku terjawab. Dialah Ani yang telah lama ingin ku temui. Tuhan berkehendak aku bertemu dengannya disaat tiada lagi nafas yang terhembus dari tubuhnya.

Aku terdiam, tak dapat berkata dan tak mengeluarkan rintihan suara. Air mata begitu besar membanjiri pipiku. Tiada yang menghalangi jatuhnya tetesan air mata itu. Perasaan hati ikut mendorong mengalirnya air mata yang begitu banyak tanpa iringan suara rintihan.  Tiada yang bisa ku perbuat selain menangisi kehilangannya.

Prosesi demi prosesi ku lalui dengan khidmat. Tak banyak berkata. Ku lakukan apa yang dapat ku lakukan dengan kondisi tubuh yang melemah dan tiada semangat.

3 hari aku di rumah Ani, barulah keluarga Ani bicara padaku. “Nak Ahmad, seminggu yang lalu Ani berpesan pada Ummi, jika dia tak bisa lagi membuka mata dia meminta Ummi untuk memberikan bingkisan ini pada nak Ahmad, ucap Ummi dengan raut kesedihan sembari memberikan sebuah kotak kecil pada Ahmad.

Hati pun semakin berduka. Ani yang telah hilang ternyata menyediakan bingkisan untukku seakan ia sudah bersiap dengan kepergiannya. Dengan gerakan lemah dan lambat, ku buka bingkisan itu dan ternyata sebuah lampu meja kecil yang indah dan berwarna. Apakah maksud Ani? Kenapa ia meninggalkan itu untukku?

Ku keluarkan lampu meja mungil itu dan dibawahnya terselip sebuah surat bertuliskan :

wahai penggugah hatiku

inilah aku yang sendu

kau dapati aku dengan nada pilu

tanpa kau tahu mulanya begitu

aku begitu lemah dan tak berdaya

telah ku coba bertahan untuk tetap menatap dunia

perjuanganku  begitu besar dan tak terhingga

kini saatnya aku menemui sang Maha Kuasa

maafkan aku yang telah menyimpan rahasia padamu

aku tak berniat menyakitimu

tapi menyimpannya darimu menjadi pilihan utama bagiku

karena aku masih ingin menatapmu

ketahuilah, aku mencintamu karena keikhlasanmu

karena ibadahmu

dan karena imanmu

terima kasih telah menjadi penjaga hatiku

walau seribu duka telah ku tinggalkan untukmu

andaikan aku masih bisa menatap dunia

aku ingin hidup denganmu bersama

menjalani hari indah dengan sempurna

tak kan ku biarkan sedikitpun air mata

karena aku cinta……..

tetaplah lantunkan adzan

akan ku dengar di kejauhan

dan tetaplah menjadi imam

akan ku ku ikuti jauh di dalam

Tertanda

Fadhilah Farliani

Semua diam, tanpa kata. Air mataku terus mengalir tiada hentinya. Ummi hanya bisa menatapku dengan pilu. Ia membiarkan aku memaknai kehilangan Ani dari hidupku.

”Ahmad”, tiba-tiba Ummi berkata.

”Ani adalah kekuatan Ummi, ia segalanya bagi Ummi tapi Ummi sadar bahwa ia hanya titipan Ilahi. Jadi kapan pun Sang Penitip ingin mengambil titipan-Nya Ummi harus rela. Ummi harap engkau juga begitu. Dia telah banyak membahagiakan Ummi. Engkau lihat mobil yang ada di depan rumah itu?”, tanya Ummi.

Aku pun menoleh ke luar. Mobil yang Ummi maksud itu adalah mobil yang ku tumpangi sampai ke rumah ini. Lalu aku pun menjawab pertanyaan Ummi, ”Ya, Ummi”.

”Itu adalah hasil jerih payahnya, dia memenangkan perlombaan musabaqah tilawatil quran tahun lalu”, ucap Ummi sambil menitikkan air mata.

Aku terkejut. Sungguh Ani yang hebat. Dia telah membuat hati orang yang menyayanginya bahagia. Andai saja ia masih disini, akan ku buat ia bahagia dan tersenyum indah pada dunia.

Ummi pun berdiri dan berjalan menuju kamar. Aku mengira Ummi tak kuat lagi menahan derita di hadapanku namun tidak, ia kembali lagi datang dan duduk di hadapanku sambil memberikan sebuah amplop padaku.

“Apa ini Ummi?”, tanyaku lebih lanjut.

”Beasiswa studi di Libya milik Ani, ambillah dan lanjutkanlah perjuangan Ani walau ia sudah tiada”, ucap Ummi kembali lirih.

Bagaimana mungkin Ani bisa mendapatkan beasiswa itu? Kapan ia mengurusnya? Apa lagi prestasi yang diraihnya? Hatiku kembali bertanya. Sungguh membingungkan bagiku.

Beasiswa itu didapat Ani ketika ia tak kuasa lagi bertahan dengan kondisi yang ia rasa. Ia tak ingin membuat orang yang ia sayangi bersedih. Dan ia pun mengurus beasiswa pendidikan di Libya dengan alasan ia tak kan membuat orang yang ia sayangi menangisi dirinya. Ia ingin pergi jauh agar kita tidak terluka. Tapi sekarang ia benar-benar pergi jauh menghilang dari kehidupan ini. Ummi, Abi, aku dan keluarganya dapat merasa betapa perihnya sakit yang ia rasa.

Ia masih berniat membahagiakan orang lain disaat ia tak berdaya. Sungguh wanita yang membanggakan, di tengah kekurangan dan penderitaannya ia masih bisa membuat bahagia orang tua,keluarga dan orang yang disayanginya. Jikalau ia masih menghembuskan nafas, aku akan sangat bangga dengan prestasinya itu.  Dan aku akan selalu setia berada di sampingnya untuk membuat dia bahagia.

Jadilah aku jiwa yang sepi………..

Seminggu setelah kehilangan Ani, aku menjadi insan yang begitu lemah. Bahkan lantunan azanku pun tak lantang seperti ketika dulu Ani masih disini.

Jiwaku terasa lemah, tak ada yang dapat ku pikirkan selain kesedihan mendalam atas kehilangan Ani. Tubuhku layu, jiwaku sepi. Tak ada Ani yang menyemangatiku lagi. Hari-hari ku lalui dengan duka mendalam atas kepergian Ani yang melepas perih.

Dikesunyian malam, aku teringat pada perbincanganku dengan Ummi Ani ketika di rumah dulu. Ummi berucap, ”Ani adalah kekuatan Ummi, ia segalanya bagi Ummi tapi Ummi sadar bahwa ia hanya titipan Ilahi. Jadi kapan pun Sang Penitip ingin mengambil titipan-Nya Ummi harus rela. Ummi harap engkau juga begitu”.

Malam itu aku merenungkan ucapan Ummi. Benar yang dikatakan Ummi. Aku harus rela menerima kepergian Ani karena ia adalah titipan sang Ilahi. Jika saat itu telah tiba, segala yang menjadi titipan-Nya akan kembali dengan sendirinya karena Dia-lah penguasa semesta.

Lambat laun, aku mencoba melepas kepergian Ani dengan ikhlas. Aku bertekad akan melanjutkan perjuangan dan cita-cita Ani. Untuk itu, aku akan berjanji di hadapan makam Ani.

Hari kian berganti, tanah tempat Ani beristirahat kini tidak merah lagi. Aku pun duduk dekat batu nisan Ani. Walau hati masih terselimuti kesedihan yang mendalam, ku ungkapkan ikrar itu pada Sang Ilahi dihadapan makam Ani. Aku berjanji akan selalu mengumandangkan adzan dan menjadi imam untuk ibadahku dan untukmu Fadhilah Farliani.

Kepergianku ke Libya

Berhari-hari setelah ikrarku dihadapan makam Ani, aku telah siap untuk meninggalkan madrasah tempat aku melewati hari indah dengan Ani. Aku telah memantapkan hati untuk melanjutkan studi dengan beasiswa yang telah di urus oleh Ani. Aku yakin dia akan sangat bahagia jika aku melanjutkan perjuangan yang belum tuntas dijalaninya.

Sedikit sulit dan sempat putus asa ketika aku mengurus pemindahan nama beasiswa ke Libya ini. Namun, aku terus berupaya agar aku bisa berangkat ke Libya. Pihak penyelenggara beasiswa pun membolehkan melanjutkan studi itu dengan syarat penggantinya harus diuji terlebih dahulu kompetensinya.  Aku pun menyetujui persyaratan itu. Walau perjuangan sempat terkendala namun, setelah melewati beberapa tes yang diujikan  akhirnya  sampailah aku pada penentuan persetujuan pemindahan nama beasiswa tersebut.

Menanti penuh harap akan pengumuman itu. Di kantor kedutaan, aku hanya bisa duduk terdiam dan berdoa sembari memandangi foto Ani.  Dalam hati kecil aku berkata, ”Aku akan tetap pergi ke Libya melanjutkan studi walau tidak melalui program beasiswa ini. Akan ku torehkan berbagai prestasi sebagai bukti cintaku padamu Ani”

Dari sebuah ruangan keluarlah pria berstelan jas yang rapi dan memanggil nama Ahmad Faruqi dengan lantang. Aku pun segera mendekati pria itu dan berkata, ”Saya pak”

Pria itu pun mengajakku masuk ke dalam ruangan itu dan mempersilakan duduk. Dengan basmalah ia bacakan sebuah surat kepadaku.

”Jakarta, 10 Juni 2002. berdasarkan tes seleksi atas pemindahan nama beasiswa studi ke Libya yang telah diadakan tanggal 8 Juni 2002. maka kami pihak penyelenggara beasiswa studi ke Libya menyatakan bahwa yang tersebut dibawah ini :

Nama                  : Ahmad Faruqi

Tempat/ Tgl Lahir: Padangpanjang/ 10 Juni 1988

Orang tua            : Muhammad Natsir

Dinyatakan lulus dan berhak melanjutkan studi ke Libya dengan program beasiswa ini.”

Belum selesai pria itu membacakan surat keputusan tersebut, langsung saja dengan spontan aku bersujud atas rahmat yang telah diberikan Sang Khaliq padaku. Aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk mewujudkan cita Ani.

Seminggu setelah pengumuman itu, aku telah siap dengan keberangkatanku ke Libya. Ku berharap keberangkatan ini merupakan suatu ibadah yang mesti aku tunaikan secepatnya. Aku pun diantar oleh keluarga dan Bunda pimpinan asrama dulu. Butiran air mata pun mengiringi keberangkatanku.

Sebelum memasuki pesawat menuju Libya, aku berpesan pada keluargaku dan Bunda, “Janganlah engkau iringi keberangkatanku dengan  tangis. Lepaslah aku dengan senyum karena aku telah cukup bergelimang air mata sebelum keberangkatan ini”.

Ku akhiri perbincangan itu dan berbalik arah meninggalkan orang yang kucintai itu sembari meneteskan air mata yang begitu deras. Aku berniat, akan ku lepas kesedihan ini untuk jutaan kebahagiaan bagi semua orang yang ku sayangi seperti Fadhilah Farliani yang selalu menebar kebahagian untuk orang yang ia sayangi.

SRD

PANTASLAH ENGKAU MENJADI ORANG YANG DIMULIAKAN

Tiada penghargaan yang diberikan pada seorang yang telah mampu mencerdaskan ribuan orang melainkan dengan sebutan pahlawan tanpa tanda jasa. Begitu besar pengorbanannya, namun ia diberi gelar seperti itu. Tidakkah terlalu pelit, memberikan apresiasi untuk jiwa yang telah mampu mendewasakan jiwa seseorang? Jiwa yang telah mampu mengisi kekosongan jiwa insan lainnya? Jiwa yang telah mampu merubah sesuatu ke arah yang lebih baik.

Begitu besar pengorbanannya. Mulai dari pengorbanan waktu yang sangat berharga. Ia rela menghabiskan waktunya untuk menjadikan jiwa-jiwa yang kosong menjadi penuh dengan niat kebaikan. Menjadikan jiwa-jiwa mampu berdiri sendiri menjalani hidup yang teramat semu.  Bangun lebih cepat dengan tujuan agar dapat melakukan perannya dengan baik di sebuah lembaga yang sarat akan kedisiplinan. Merasa bersalah jika “sang pencari” tidak ia temui secepat mungkin. Merasa berdosa jika “sang pencari” tidak menemukan apa yang dicarinya.

Tak hanya itu, seusai menunaikan kewajibannya merubah jiwa “sang pencari” ia masih disibukkan dengan seabrek persyaratan administrasi yang membuat kepala berputar tak keruan. Membuat ia jungkir balik menyelesaikan administrasi itu.

Pengorbanan tak hanya sampai disana. Tanggung jawab yang berat masih diemban di pundak. Meski lelah, letih dan tak berdaya. Ia mesti melaksanakan tugas yang telah digariskan padanya. Penguasaan materi, penguasaan lokal,  hasil akhir itulah secuil indikator yang mesti diperhatikan dan dijaganya dalam tugas sebagai seorang pendidik.

Tapi, adakah ”sang pencari” menghargai jerihnya itu? Adakah ”sang pencari” memikirkan betapa lelahnya ia? Adakah ”sang pencari” mengerti keadaannya? Adakah ia diperlakukan dengan adil?

………………………………………………………..

Sulit untuk menjawab hal ini. Susah untuk menjawabnya.

Sedikit dari mereka (sang pencari) yang menghargainya, sedikit dari mereka yang memikirkan betapa lelahnya ia. Sedikit dari mereka yang mengerti keadaannya. Sedikit dari mereka yang memperlakukan ia dengan adil.

Betapa tidak, di saat ia telah lelah berbagi ilmunya sang pencari anggap itu sebagai hal yang sepele. Disaat ia telah lelah berbakti tidak sedikit dari mereka (sang pencari yang tidak menghargainya menganggap remeh dirinya. Dimanakah letak nurani mereka sebagai seseorang yang mempunyai perasaan? Dengan tidak merasa bersalah mencakar sang guru yang menyita hp-nya saat jam pelajaran berlangsung. Merasa bangga ketika berani melawan sang guru. Merasa hebat ketika berhasil meloloskan diri dari jam pelajaran.

Apa yang salah padamu wahai sang pencari kebenaran? Telah lelah gurumu mendidik, membimbing dan mengarahkan dirimu. Telah ia tampilkan keteladanan padamu. Lalu apa yang kurang darinya? Kenapa tak kau hargai dia? Adakah karena ia masih muda dan belum layak engkau hargai? Adakah karena badannya terlalu kecil darimu?

Ketahuilah dia tak lebih buruk darimu. Dia tak lebih kecil dari dirimu yang mengkerdilkan jiwanya. Dia lebih berpengalaman dari dirimu yang hidup lebih muda karena untuk bisa berdiri di hadapanmu itu butuh 16 tahun belajar.

Mengapa kau tak menghargainya? Mengapa kau buat ia meneteskan air mata karena sikapmu? Mengapa kau biarkan hatinya terluka?

Seketika engkau membuat hatinya terluka, engkau tak hanya membuat ia bersedih namun kau telah menorehkan dosa di catatan amalmu. Tidakkah engkau sadari itu?  Tidakkah engkau takut akan balasan Yang Maha Kuasa atas sikapmu pada orang yang telah berusaha mendewasakan dirimu? Tidakkah engkau mengerti apa yang ia harapkan darimu?

Mengertilah akan dirinya wahai jiwa “sang pencari” karena ia lebih mulia dan malaikat akan senantiasa mengepakkan sayap bagi orang yang berilmu. It’s promise.

Oleh : SRD

srirahmadhena.wordpress.com

rahmadhena_06@yahoo.co.id

KISAH SEEKOR BELALANG

Seeekor belalang telah lama terkurung dalam sebuah kotak. Suatu hari ia berhasil keluar dari kotak yang mengurungnya tersebut. Dengan gembira ia melompat-lompat menikmati kebebasannya. Di perjalanan ia bertemu dengan seekor belalang yang lain, namun ia keheranan mengapa belalang itu bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh darinya. Dengan penasaran ia menghampiri belalang tersebut dan bertanya,”Hey…… mengapa kau bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh, padahal kita tidak jauh berbeda dari usia ataupun bentuk tubuh? Belalang itu pun menjawabnya dengan pertanyaan, “Hmm, selama ini kamu tinggal dimana? Karena semua belalang yang hidup di alam bebas pasti bisa melakukan seperti yang aku lakukan.

Saat itu, si belalang baru tersadar bahwa selama ini kotak itulah yang membuat lompatannya tidak jauh dan setinggi belalang lain yang hidup di alam bebas.

“Kadang-kadang kita sebagai manusia, tanpa sadar pernah pula mengalami hal  yang sama dengan belalang tadi. Lingkungan yang buruk, hinaan, trauma masa lalu, kegagalan yang beruntun. Perkataan teman atau pendapat tetangga seolah membuat kita terkurung dalam sebuah kotak semu yang membatasi semua kelebihan kita. Lebih sering kita mempercayai mentah-mentah apapun yang mereka voniskan pada kita. Tanpa pernah berpikir benarkah apa yang mereka katakan. Bahkan lebih buruk lagi kita lebih memilih mempercayai mereka daripada mempercayai diri sendiri.

Tidakkah kita pernah mempertanyakan kepada nurani sendiri bahwa kita bisa melompat lebih tinggi dan lebih jauh kalau kita mau menyingkirkan kotak tersebut. Tidakkah kita ingin membebaskan diri kita untuk bisa mencapai sesuatu yang selama ini kita anggap di luar batas kemampuan.

Sangat beruntung, sebagai manusia kita dibekali Tuhan kemampuan untuk berjuang tidak hanya menyerah begitu saja pada apa yang kita alami. Karena itu teruslah berusaha mencapai apapun yang  ingin dicapai.

Memang sakit dan  melelahkan tapi bila kita telah sampai di puncak, semua pengorbanan itu pasti akan terbayar. Kehidupan kita akan lebih baik, kalau hidup dengan cara hidup pilihan kita sendiri. Bukan cara hidup seperti yang mereka pilihkan untuk kita.

Tidaklah dapat merasakan nikmatnya hidup jika kita melewti kehidupan dengan cara-cara yang mereka pilihkan untuk kita. Setiap kita memiliki kehidupan sendiri dan menjadi pilihan kitalah untuk menjalani masing-masing kehidupan itu. Tidakkah lebih baik hidup di dunia ini dengan jalan hidup sendiri agar lebih dapat mengapresiasikan diri dan berkarya untuk sebuah kemajuan yang membahagiakan.

Jika kita tidak mencoba untuk keluar dari kungkungan yang membatasi ruang gerak hidup maka selamanya kita akan menjadi ibarat belalang yang tidak dapat melompat lebih tinggi dan jauh seperti belalang lain.

Diilhami dari sebuah program”Resonansi Jiwa di radio Classy FM tanggal 13 Juni 2004”

LIMA BELAS BUKTI KEIMANAN

Al-Hakim meriwayatkan Alqamah bin Haris r.a berkata, aku datang kepada Rasulullah s.a.w dengan tujuh orang dari kaumku. Kemudian setelah kami beri salam dan beliau tertarik sehingga beliau bertanya, “Siapakah kamu ini?”

Jawab kami, “Kami adalah orang beriman.” Kemudian baginda bertanya, “Setiap perkataan ada buktinya, apakah bukti keimanan kamu?” Jawab kami, “Buktinya ada lima belas perkara. Lima perkara yang engkau perintahkan kepada kami, lima perkara yang diperintahkan oleh utusanmu kepada kami dan lima perkara yang kami biasakan sejak zaman jahiliyyah ?”

Tanya Nabi s.a.w, “Apakah lima perkara yang aku perintahkan kepada kamu itu?” Jawab mereka, “Kamu telah perintahkan kami untuk beriman kepada Allah, percaya kepada Malaikat-Nya, Kitab-kitab-Nya, Rasul-rasul-Nya, percaya kepada takdir Allah yang baik maupun yang buruk.”

Selanjutnya tanya Nabi s.a.w, “Apakah lima perkara yang diperintahkan oleh para utusanku itu?” Jawab mereka, “Kami diperintahkan oleh para utusanmu untuk bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah dan engkau adalah utusan Allah, hendaknya kami mendirikan solat wajib, mengerjakan puasa di bulan Ramadhan, menunaikan zakat dan berhaji bila mampu”.

Tanya Nabi s.a.w selanjutnya, “Apakah lima perkara yang kamu masih biasakan sejak zaman jahiliyyah?” Jawab mereka, “Bersyukur di waktu senang, bersabar di waktu kesusahan, berani di waktu perang, redha pada waktu kena ujian dan tidak merasa gembira dengan sesuatu musibah yang menimpa pada musuh.”

Mendengar ucapan mereka yang amat menarik ini, maka Nabi s.a.w berkata, “Sungguh kamu ini termasuk di dalam kaum yang amat pandai sekali dalam agama maupun dalam tatacara berbicara, hampir saja kamu ini serupa dengan para Nabi dengan segala macam yang kamu katakan tadi.”

Kemudian Nabi s.a.w selanjutnya, “Maukah kamu aku tunjukkan pada lima perkara amalan yang akan menyempurnakan dari yang kamu punyai? Janganlah kamu mengumpulkan sesuatu yang tidak akan kamu makan. Janganlah kamu mendirikan rumah yang tidak akan kamu tempati, janganlah kamu berlomba-lomba dalam sesuatu yang akan kamu tinggalkan, berusahalah untuk mencari bekal ke dalam akhirat.”

(Ingat surat at-Takaatsur dan al-Humazah). Dalam surat al-Humazah diceritakan bahwa orang-orang yang mengumpat dan mencela kehidupan sederhana Nabi Muhammad SAW mengira kekayaan adalah sesuatu yang dapat mengekalkannya. Namun, pada akhirnya mereka memperoleh neraka Hutamah.

Begitu juga dengan surat at-Takaatsur. Dalam surat AT-Takaatsur diceritakan orang yang selalu bermegah-megahan dan membanggakan hartanya telah lalai dengan kewajibannya beribadah sampai ia masuk ke dalam kubur. Mereka kira dengan harta dunia menjadi miliknya. Sekali-kali tidak, justru mereka akan memperoleh neraka Jahim sebagai balasan atas perilaku mereka yang selalu membanggakan harta dan bermegahan yang membuat ia lupa beribadah pada-Nya.  Ketahuilah bahwa harta adalah milik Allah dan Allah akan mempertanyakan kembali harta yang telah ia titipkan selama kita hidup di dunia ini.

Sekarang tinggal pilihan bagi kita semua, apakah akan menjadikan harta yang dititipkan itu menjadi sebuah kemegahan yang melupakan kewajiban kita beribadah kepada-Nya sehingga kita dibalasi dengan neraka atau menjadikan harta itu sebagai rahmat yang membuat kita semakin dekat dan cinta pada Sang Khaliq?

Tidak ada kesalahan, tidak ada kebetulan. Seluruh peristiwa adalah rahmat yang diberikan agar kita belajar darinya (Elizabeth Kubler-Ross)

Tepuk tangan dan pujian adalah tujuan dan hasil akhir yang ingin didapat oleh orang yang berpikiran pendek (C.C. Lacon)

Memang baik menjadi orang penting, tetapi lebih penting menjadi orang yang selalu baik (Alyssa Milano)

Orang yang mencari teman yang tidak memiliki kesalahan, tidak akan memiliki teman

(Peribahasa Turki)

Jadilah dermawan, tetapi jangan menjadi pemboros. Jadilah seorang yang sederhana, tetapi jangan menjadi seorang yang bakhil

(Ali bin Abi Thalib)

Tidak ada pertanyaan yang bodoh, yang ada hanyalah orang yang bodoh yang tidak bertanya karena takut dikira bodoh (Answer Fella)

Gagal dalam kemuliaan adalah lebih baik daripada menang dalam kehinaan. Orang yang gagal sekali-kali tidak rugi, selagi dia belum berputus asa (Lord Efebry)

Kekuatan tidak datang dari kapasitas fisik tetapi dari kehendak yang pantang menyerah (Mohandas Ghandi)

AIR MATA KEJUJURAN

Maafkan kali ini aku harus jujur. Sebuah kejujuran yang mungkin akan menyakitkanmu. Tak ada niat dalam hatiku untuk menyakitimu. Tapi, aku berada dalam pilihan yang berat. Aku harus menjalani pernikahan yang telah digariskan padaku. Namun, aku tak bisa meninggalkan cintamu yang tulus padaku. Ku tinggalkan engkau disaat engkau terluka. Ku biarkan saat engkau menangis. Tapi, aku tak bisa menahan air mata berpisah denganmu yang telah mencintaiku 2 tahun lalu. Begitu banyak kenangan indah yang tercipta bersamamu. Tak mudah di lupa. Tak dapat dihapus dalam waktu sekejap. Bagaimanapun juga, aku pernah menyayangimu. Aku pernah mencintaimu. Dan aku sangat mengasihimu. Tak mudah bagiku untuk menjalani pernikahan ini. Hidupku selalu dibayangi keberadaanmu yang telah kusakiti selama ini.

Kau harus tau siapa aku sebenarnya karena aku bukanlah orang yang tepat dan terbaik bagimu. Engkau begitu sempurna. Sedangkan aku bukanlah siapa-siapa. Engkau punya tujuan hidup yang terarah sedangkan aku lebih suka dengan kebebasan diri. Aku bukanlah orang yang baik dalam pandanganmu selama ini. Aku adalah orang yang telah pernah menjalani cinta dalam ikatan keluarga. Aku tak mampu mempertahankan ikatan itu. Ikatan yang telah rapuh. Ku kenali dirimu disaat ikatan itu sudah mulai menguat. Namun, itulah salah yang telah ku perbuat padamu. Aku bukan orang terbaik, bahkan aku tak bisa mempertahankan keluargaku sendiri. Sebenarnya, tak ada yang dapat dibanggakan dari diriku ini. Aku telah menjalani hidup dalam masalah yang mungkin tak bisa engkau terima. Karena engkau punya cita-cita dan harapan hidup yang lebih indah jika tidak bersamaku. Ku sadari, aku hanya insan luka dan tak berdaya.

Terpikir dalam benakku tentang cinta terlarang. Aku menanam benih cinta denganmu di saat aku punya ikatan cinta yang resmi dengan orang lain. Tak seharusnya itu ku lakukan. Aku pun tidak bisa mengingkari cintaku padamu. Sebuah cinta terlarang yang selama ini ku pendam. Tak bisa ku ungkap kebenaran ini padamu karena aku juga sangat menyayangimu. Tak ingin engkau lepas dari hidupku. Engkau hadir di saat aku membutuhkanmu.

Jangan salahkan keadaan ini sayang. Tak ada gunanya menyalahkan keadaan atau siapapun. Karena ini semata-mata kesalahanku yang terlalu mencintaimu dan tak ingin engkau pergi jauh dari hidupku. Salah diriku yang terlalu ego dengan keinginanku sendiri tanpa ku pikirkan hatimu yang akan terluka nantinya saat engkau tau siapa aku sebenarnya. Mungkin engkau akan terluka dalam saat engkau tau bahwa aku telah terikat cinta dengan yang lain.

Semua adalah keterbatasanku saja. Keterbatasanku sebagai insan yang lemah tak berdaya. Tak mampu melepas dirimu yang terlarang  bagiku. Tak mampu menjadi yang kau mau. Engkau terlalu sempurna bagiku sehingga aku tak sebanding jika berada di sisimu. Telah ku coba untuk menggapai impian sepertimu. Aku mencoba dan aku tak mampu. Aku memang lemah dengan keterbatasanku. Bagiku engkau hanya akan terbebani jika aku yang setia menemanimu. Baiknya engkau bersama orang yang sama seperti dirimu dan punya kekuatan untuk berjuang meraih impian sepertimu.

Tak  bisa lagi mencintaimu karena itu. Tak sanggup aku melihat engkau menahan sakit yang akan engkau rasa jika hidup bersamaku. Tak bisa lagi mencintaimu dengan sisi lainku. Engkau akan semakin terluka dengan itu. Sedangkan aku tau engkau tak sanggup menjadi biasa. Sungguh aku tak sanggup. Karena aku sangat menyangimu. Dan aku tidak ingin melihat engkau terluka dan tersiksa sedikitpun apalagi dengan sisi kehidupanku yang tak searah denganmu.

Tak ada satupun yang mungkin bisa terima kau seperti aku. Mereka akan mencelaku jika tetap bersikukuh denganmu. Mereka akan memakiku karena aku tak pantas untukmu. Berada disisimu saja tak layak, apalagi memilikimu. Ku mohon jangan salahkan aku lagi. Jika nantinya mereka akan memisahkan kita. Lebih baik ku akui siapa diriku sebenarnya. Aku bukanlah orang yang baik bagimu. Setelah kau tau siapa aku. Ku mohon jangan salahkan mereka yang telah merahasiakan diriku selama ini. Karena semua ini terjadi atas pintaku. Dan sekarang kau pun tau, ini aku yang sebenarnya. Aku tak sanggup buat engkau semakin terluka. Sekali lagi,  maafkan kali ini aku harus jujur. Kejujuran yang membuahkan penyesalan mendalam karena mengenalku.

Jiwa yang Bertahta di Ragaku

Demi jiwa yang bertahta di ragaku, ku ingin desiran angin malam menyampaikan pesan kasih sayang pada orang yang ku kasihi selama ini. Berharap ia mengerti dengan apa yang merasuk ke dalam batinku di setiap langkah gerak hidupku yang teramat kelabu.

Mengerti dengan apa yang menjalar ke dalam aliran darahku yang mulai membeku.  Mengertilah bahwa engkau telah menggoyahkan tiang pembatas rasa dihatiku. Merobohkan tembok penghalang cinta. Dan menanam setumpuk benih cinta yang menumbuhkan pohon kerinduan yang merindangkan hati pemiliknya. Harapan yang menggelayuti pikirku dalam 1 tahun mengenalmu. Harapan yang membawa aku ke dalam mimpi terindah dalam hidupku.

Pagi pun menjelang, mentari beranjak dari peraduannya. Menyapa insan yang tak berhenti mencari. Demi menggapai sebuah kebahagiaan. Kebahagiaan yang tiada ternilai dengan sebuah materi. Tak terbayar oleh sejumlah kemewahan. Kebahagiaan hakiki. Aku pun terbangun dari mimpi indah dan panjang. Berusaha menapaki jalan kehidupan yang nyata. Ku dapati engkau begitu mengasihiku teramat tulus. Mengasihi layaknya aku yang teristimewa dalam hidupmu.

Mengenalmu sebuah keberuntungan bagiku. Berjuang denganmu menambah semangat hidupku. Menjalani hari denganmu sebuah kebahagian yang mendalam bagiku. Sungguh engkau membuat semangat hidupku. Menjadikan aku sebagai orang yang beruntung. Orang yang mendapat segala kebahagian. Namun, apakah ini benar2 kebahagiaan? Tidakkah ini fatamorgana? Ku harap tidak karena engkau lah yang bertahta di ragaku.

Berikan Aku Ketabahan

Siapa yang tidak menginginkan menjadi yang terbaik. Aku rasa tiada manusia yang menolak untuk menjadi yang terbaik. Begitu juga dengan aku yang menginginkan keberhasilan, kesempurnaan, menjadi yang pertama dan utama. Namun, betapa sedih dan pilunya hati ini ketika aku telah mencoba jadi yang terbaik dengan segenap usaha harapan itu tak kunjung menghampiri.

Selama ini, aku bangga dengan apa yang telah kumiliki. Merasa bahagia dengan prestasi yang ku torehkan. Namun, akhir-akhir ini, barulah aku mengerti bahwa keinginan dan ambisi untuk menjadi yang terbaik itu sebaiknya tidak menjadikan aku lupa. Lupa akan diriku yang lemah dan tak berdaya. Sehingga ketika keberhasilan itu tidak berpihak padaku aku menjadi seseorang yang tak kuat menerima kenyataan itu.

Aku menyadari, selama ini di setiap perlombaan, ujian, dan tes-tes kemampuan atau kegiatan yang menuntut keberhasilan aku selalu berdoa untuk menjadi nomor satu dan terbaik.  Tanpa pernah aku meminta pada Yang Maha Kuasa untuk menjadi orang yang sabar dan tabah dalam menghadapi kenyataan apapun yang terjadi dalam setiap perlombaan dan ajang kreativitas yang menuntut keberhasilan itu. aku merasa, saat itu aku adalah seorang yang angkuh. Betapa tidak, aku selalu meminta jadi nomor satu (juara) tanpa memikirkan bahwa aku adalah ciptaan Allah yang berhak menentukan siapa yang pantas jadi yang terbaik.

Sepantasnya, sebagai makhluk Allah kita memohon agar diberi kelapangan hati untuk menerima kenyataan. Jika posisi terbaik itu diberikan kepada kita, alangkah indahnya jika kita diberi kekuatan dan kesabaran untuk menjadi orang yang bisa memanfaatkan dan menggunakan keberhasilan itu untuk sesuatu yang berguna. Jika Allah tidak menghendaki posisi terbaik itu pada kita, alangkah indahnya jika kita diberi ketabahan dan kesabaran dalam menerima kenyataan itu.

Aku teringat dengan kisah seorang anak yang mengikuti perlombaan balap. Sebelum pertandingan dimulai, ia menengadahkan tangannya untuk berdoa dan bermunajat pada sang Ilahi. Sungguh mulia dirinya, ketika sang Juri bertanya tentang doa apa yang ia pinta pada Ilahi sehingga ia menjadi sang juara dan dia pun menjawab ”aku hanya berdoa jika aku kalah nanti berikanlah aku ketabahan dan kekuatan untuk menerima kenyataan kekalahanku” sungguh bijaksananya anak ini. Ia tidak meminta untuk jadi sang juara pada Ilahi tapi ia memohon untuk diberi ketabahan, kesabaran dan kekuatan agar ia bisa menerima kenyataan jika ia kalah nanti.

Dari kisah itulah aku menyadari bahwa selama ini aku hanya bisa meminta untuk jadi yang terbaik tanpa meminta ketabahan menerima kenyataan yang akan terjadi sehingga ketika keberhasilan tidak ku peroleh, aku menjadi seseorang yang amat lemah untuk menerima kenyataan itu.

Arti kehilangan

Sungguh Maha Kuasa Allah yang telah menjadikan kehidupan untuk manusia. Hidup yang dipenuhi dengan ragamnya. Hidup yang indah. Diwarnai dengan berbagai rasa, cerita dan peristiwa. Jikalah tiada lika-liku maka hidup di dunia tidak terasa nikmatnya. Allah pun menjadikan manusia dengan kekuatan dan kelemahannya, kelebihan dan kekurangannya sehingga menjadikan manusia itu menjadi pribadi yang mesti berpikir untuk kelangsungan kehidupannya sendiri. Allah jadikan dunia ini sebagai tempat atau ladang amal di hari akhir. Ibarat menanam di sebuah ladang, tentunya banyak proses yang dilalui, banyak aturan yang harus ditaati, banyak larangan yang harus dijauhi, banyak gangguan, hambatan, ancaman, tantangan dan akhirnya pun merasakan hasil usaha yang telah dilakukan selama menanam di ladang. Apa yang ditanam, itulah yang akan dipanen. Menanam sesuatu yang bermanfaat dengan cara yang diridhai niscaya akan membuahkan kebahagiaan. Menanam sesuatu yang buruk dengan cara apapun akan membuahkan kesengsaraan dan kesedihan.

Tidak terkecuali aku yang menjalani kehidupan dunia dengan penuh lika-liku. Suka, duka, tawa, tangis dan segala macam rasa telah dilalui dalam menjalani kehidupan. Satu pelajaran penting yang cukup menyadarkan aku dalam hidup ini. Bahwa sering manusia termasuk aku baru menyadari akan hadirnya sesuatu jika telah merasakan sesuatu itu hilang. Ataupun baru merasakan indahnya rahmat Allah ketika rahmat itu telah menghilang dari diri. Salah satunya yang terjadi pada hidupku, aku baru menyadari begitu berartinya sahabat ketika sahabat itu telah menghilang dariku. Baru menyadari arti penting sebuah benda ketika benda itu telah menghilang. Baru menyadari arti keberadaan orang lain ketika orang tersebut telah menghilang.

Sebelumnya, aku kurang memaknai arti penting segala sesuatu yang ada dalam hidupku namun sedikit demi sedikit kehilangan demi kehilangan yang terjadi pada diriku membuat aku sadar akan arti diriku hidup selama ini. Aku beruntung masih diberi kesempatan untuk memaknai arti hidupku yang telah banyak kehilangan.

Saat satu persatu yang kumiliki di dunia ini hilang dan berlalu, hanya air mata yang dapat ku jatuhkan ketika menyadari kehilangan itu. Begitu perihnya merasakan kehilangan sesuatu yang dimiliki selama ini. Tapi, karena agama aku disadarkan kembali bahwa harta ataupun sesuatu yang dimiliki di dunia ini hanyalah perhiasan semata. Bukanlah kepemilikan seutuhnya. Allahlah yang menjadikan segala sesuatu itu atas kita. Lalu kenapa kita merasa tidak terima ketika pemberian itu kembali pada Allah. Mengapa mesti bersedih? Mengapa berontak dan memaksa agar sesuatu itu kembali. Semua kepunyaan kita di dunia ini adalah milik Allah. Betapa Maha Pemurah sang Khaliq yang memberikan apa pun kebutuhan kita. Tapi, begitu jarang diantara kita yang bersyukur atas itu bahkan merasa sesuatu yang dimiliki saat ini adalah milik kita seutuhnya dari hasil jerih payah selama ini. Padahal itu bisa ada jika Allah menghendaki.

Selama ini aku telah lalai dan lupa. Aku menganggap bahwa yang ku miliki ini dapat kumiliki seutuhnya. Aku telah disadarkan dengan kehilangan sesuatu yang telah kumiliki tersebut. Terima kasih Ya Allah masih ada waktu bagiku untuk memperbaiki diri ini. Aku berharap, untuk masa yang akan datang kesalahan ini tak kan terulang lagi. Semoga Allah memperkenankan pintaku ini. Alhamdulillahirabbil alamiin ya Allah.

CINTA KELIMA

Cinta…………….

Rasa itu sungguh mendera batinku. Cinta yang membuat hari-hariku menjadi bahagia karena indahnya. Namun, jika cinta tidak diungkapkan sungguh menjadi penyakit yang menyusahkan. Membuat tak berdaya, menjadikan orang lemah bahkan  kehilangan arah. Karena cinta, adalah rasa yang mesti ada.

Semua orang memiliki cinta dan bebas mengapresiasikan cintanya pada apapun, siapapun, kapanpun dan dimanapun. Seseorang yang dilanda cinta akan menjadi orang yang teramat bahagia karena itu tak ada seorang pun yang membenci dan menolak rasa itu.

Begitu juga denganku, yang memiliki cinta. Tapi, sungguh sedihnya hati ini saat orang yang dicinta perlahan pergi jauh. Ketika cinta pertama pergi untuk selama-lamanya. Cinta kedua telah bersama orang lain. Cinta ketiga, dimakan api cemburu. Cinta keempat mendua. Sampailah aku pada cinta kelima sepanjang usiaku.

Adi, begitu ia disapa. Pelantun adzan terindah menurutku. Karena itulah cinta ini ada padanya. Kesetiaannya, ketaatannya, ketekunannya dan kecintaannya pada Sang Khaliq membuat aku menancapkan mata batinku padanya.

Hari-hari ku lewati bersama dengannya tanpa ia tahu bahwa aku mencintainya. Ia tak pernah menolak kehadiranku. Bahkan ia selalu ramah dan berlaku baik. Keakraban membuat aku senang berada disisinya. Terlebih karena ia orang yang ku cinta.

Ketika keakraban sangat melekat di jiwa, sampailah ia pada pertanyaan tentang cinta. Aku hanya bisa diam. Aku berharap, dia yang akan mengungkap rasanya padaku. Namun, sebuah pertanyaan mendarat di hadapanku ”Sebenarnya kamu menganggap aku sebagai apa selama ini?” Pertanyaan itu membuat detak jantungku mengencang. Hati kecil berkata ”Kenapa pertanyaan ini yang diajukannya padaku”

Aku berharap dialah yang mengungkapkan kata cinta itu padaku. Namun, pertanyaannya itu membuat akulah yang mengungkap cinta itu padanya. Ku ungkap padanya bahwa aku mencintai dirinya karena ketaatan dan cintanya pada Ilahi. Berada di sisinya menjadi ketenangan bagiku. Berbincang dengannya menyejukkan kalbuku karena di setiap ucapannya menyentuh mata batinku. Setelah itu ku biarkan dirinya merespon ucapan dan pengakuan dariku tentang rasa cinta padanya.

Sejenak terdiam, aku berharap ucapan dari bibirnya sama dengan apa yang ku rasa namun sungguh kecewa diriku ketika ia menjawab ”kita hanyalah sebuah tim yang harus selalu bekerja sama agar tercapai tujuan yang diinginkan, jika kita selalu kompak maka apa yang dicita-citakan akan terwujud”. Jawaban ini tak memihak padaku. Seketika itu aku berpikir bahwa ia tak berani mengungkapkan dengan jujur apa yang ia rasa terhadapku. Apakah ia juga memiliki cinta seperti cintaku padanya? Sampai detik ini pun aku tak menemukan jawaban atas pertanyaan itu.

Hari-hari berlalu, masa keakraban dan kebersamaan itu pun berakhir. 2 bulan sudah menjalani hari-hari bersamanya dengan tim pengabdi masyarakat lainnya. Banyak kisah yang telah tercipta bersamanya. Tak akan mungkin mudah dilupa.

Awal mula berjumpa dengannya, aku mengenal ia sebagai seseorang yang teramat taat pada Allah. Ketaatannya mampu menggoyahkan hatiku. Kebersamaan dalam menjalani sebuah tugas dalam satu tim membuat hatiku nyaman berada di sisinya. Saat mengenali dirinya, aku juga sudah punya cinta. Tapi, entah kenapa bagai sebuah keajaiban. Disaat aku mengenalinya sebagai seorang tim, cintaku pun mendua dengan rekan tim lainnya. Kesedihan yang membara menghanguskan hatiku. Namun karena dirinya, api kesedihan itu dapat dipadamkan dengan kesejukan yang ia berikan selama bersamaku. Ia datang sebagai obat penawar luka hatiku.

Dengan keadaan demikian, luka akibat dimadu pun tak terasa begitu perih karena ia telah hadir disampingku untuk mengobati luka itu. Ia ada di sampingku untuk membuat aku bahagia, ia ada untuk menghentikan air mataku karena luka dimadu.

2 bulan bersamanya cukup meyakinkan aku, bahwa ia adalah yang terbaik. Tapi, disepanjang perjalanan tugas tim itu, ia tak pernah mengungkapkan apa yang ia rasa padaku. Sedikit kecewa tapi biarlah bagiku dia ada untukku itu sudah cukup.

Sekarang saat dia sudah jauh dari pandangan, aku hanya bisa mengingat masa indah bersahabat dengannya. Karena kalaupun aku menginginkan cintanya itu tak mungkin karena saat ini dia juga punya cinta yang lain. Terima kasih atas kebaikan dan kebersamaan yang telah engkau ciptakan bersamaku selama ini. Cinta kelima bagiku cukup berada di dalam ingatan dan perasaan.