PENDIDIKAN DI REPUBLIK ISLAM IRAN

A. Latar Belakang

Iran adalah sebuah negara bergunung-gunung dan berdaratan tinggi dengan luas 1.648.180 km persegi yang terbentang dari laut Kaspia dan Uni Soviet di utara sampai ke teluk Persia di selatan dan dari Turki dan Irak di barat ke Afhanistan dan Pakistan Timur. Iran kaya dengan barang tambang seperti tembaga, minyak, gas bumi dan batu bara. Ekspor minyak adalah sumber utama mendapatkan mata uang asing.

Iran berpenduduk kurang lebih 65.179.752 jiwa (World Almanac 2000.penduduk Iran terdiri dari etnis Persia, Azerbaijani dan Kurdi dengan empat bahasa uatama yaitu bahasa Persia (resmi), bahasa Turki, bahasa Kurdi dan bahasa Luri. Penduduk Iran beragama Islam dengan dua madzhab utama yaitu muslim syi’ah dan muslim sunni. Iran bertetangga dengan negara Turki dan Irak sebelah barat dengan Armenia, Azerbaijan dan Turkmenistan di sebelah utara, dengan Afghanistan dan Pakistan disebelah timur. Padang pasir yang sangat luas menutupi daerah Iran tetapi cukup banyak juga oase dan rimba-rimba. Sebagian besar penduduk mendiami Iran bagian utara dan timur laut. Tiga kota besar Iran adalah Teheran (ibu kota), Mashhad dan Esfahan.

Pendidikan hanya diberikan kepada orang-orang yang lahir dari keluarga tinggi. Sedangkan yang lain terjun ke perdagangan sebagai anak buah. Selama kekuasaan Sassanids dari 224 SM sampai tahun 642 yaitu sebelum islam, universitas pertama didirikan di Djondissapur di bagian barat laut Persia. Silabus universitas terdiri dari theologi, filsafat dan kedokteran.

Sesudah invansi bangsa Arab (642 M), Islam menyebar dengan cepat di seluruh Persia. Dari kedua mazhab utama yang muncul setelah wafatnya Muhammad, mazhab Syiah menjadi sepupu dan ipar rasul. Tetapi pengaruh mazhab itu telah berakibat terhadap berkembangnya  rasa pemujaan yang berlebihan atau mistisme yang dikenal dengan ajaran sufi yang kemudian sangat mempengaruhi kesusasteraan Persia. Sufisme berasal dari kata suf berarti pakaian yang terbuat dari wol yang dipakai oleh orang-orang yang sangat keras disiplin dirinya.

Selama beribu-ribu tahun Iran telah menjadi persimpangan jalan bagi kebudayaan dan peradaban sehingga Iran telah menjadi tempat berkembangnya pengaruh asing. Ini mencakup invansi Arab, Mongolia, Tartar dan berbagai bentuk intervensi oleh Perancis, Inggris dan Rusia pada abad ke-19 dan awal abad ke-20 dan oleh Uni Soviet dan Amerika Serikat pada masa sesudah perang dunia II. Justru karena pengaruh asing itu kebudayaan dan bahasa nasional berkembang luar biasa. Sungguhpun bahasa Persia modern (Farsi) ditulis dengan huruf Arab, namun bahasa Farsi tetap mempertahankan karakteristik dan identitasnya. Diperkirakan bahasa Farsi dipakai sebagai bahasa ibu oleh seperdua penduduk iran dan bahasa Farsi merupakan satu-satunya bahasa yang dipakai sebagai bahasa resmi dan bahasa pengantar dalam pendidikan.

Mesjid Persia berfungsi tidak hanya sebagai tempat beribadah  tetapi juga sebagai pusat belajar. Kurikulum pendidikan terdiri dari buku suci al-quran, logika, bahasa arab dan gramatika. Dari dasar ini muncul sekolah al-quran yang dinamakan maktab. Belajar dengan cara menghapal di luar kepala merupakan keharusan walaupun pelajaran yang dihafalkan itu tidak dipahami oleh murid. Disiplin belajar sangat ketat. Maktab dimasuki oleh anak-anak yang berasal dari keluarga menengah. Keluarga kelas atas tidak memasukkan anak-anak mereka ke maktab tetapi mereka mendatangkan dan mengangkat tutor-tutor swasta yang akhirnya berperan sangat penting dalam pembinaan keluarga, termasuk memberikan nasihat dan saran kepada orang tua dalam semua aspek pendidikan.sistem pendidikan tradisional ini berangsur-angsur hilang digantikan oleh sistem pendidikan nasional mengikuti model sistem pendidikan Prancis yang mulai diperkenalkan pada tahun 1894 walaupun sistem lama tidak pernah habis.

B. Tujuan Pendidikan

Pada tahun 1957, kementrian pendidikan Republik Islam Iran mengumumkan tujuan pendidikan sebagai berikut :

  1. untuk mengembangkan fisik, murid-murid harus belajar olahraga dan kesehatan.
  2. untuk pengembangan sosial, murid-murid harus belajar menghormati keluarga, masyarakat dan kebebasan. Mereka harus memahami kehidupan sosial ekonomi dan berusaha hidup di dalamnya dan untuk masyarakat.
  3. untuk pengembangan intelektual, murid-murid harus belajar berpikir, kalau dapat melalui pengalaman mereka sendiri.
  4. untuk pengembangan moral, murid-murid harus mengerti agama, kebudayaan, peradaban sehingga dengan itu mereka mampu mengendalikan diri sendiri.
  5. untuk pengembangan estetika, murid-murid harus cinta alamdan memperkuat kepribadiannya melalui penikmatan seni.

Setelah revolusi islam Iran 1979, sistem pendidikan Iran mengalami perubahan yang sangat mendasar dan semua upaya pendidikan dan pengajaran harus sesuai dengan prinsip-prinsip islam. Prioritas harus diletakkan pada terjaminnya usaha membesarkan anak-anak dan generasi muda sehingga menjadi muslim yang konsekuen dan punya komitmen yang tinggi terhadap Islam. Upaya-upaya pendidikan juga harus diarahkan pada penggunaan al-Quran, tradisi Islam dan konstitusi Republik Islam Iran sebagai dasar dalam merumuskan tujuan dan sasaran pendidikan.

Tujuan dan sasaran pendidikan dirumuskan dari berbagai sumber termasuk konstitusi dan laporan dewan tertinggi perubahan dasar pendidikan yang ditunjuk oleh dewan tertinggi revolusi kebudayaan Iran. Sumber-sumber ini menggariskan bahwa pembangunan nasional adalah sasaran utama pendidikan. Pendidikan harus dikembangkan untuk meningkatkan produktivitas, mewujudkan integrasi sosial, moral, dan spritual dengan penekanan utama pada memperkuat dan mendorong keimanan terhadap Islam.

Pendidikan juga harus menekankan pentingnya peningkatan kualitas tenaga kerja dalam semua jenis dan level perekonomian dan dengan demikian pendidikan harus dipandang sebagai investasi untuk masa depan.

C. Struktur dan Jenis Pendidikan

Struktur sistem pendidikan formal iran secara sederhana adalah :

  1. Pendidikan Prasekolah

Pendidikan prasekolah umumnya dilaksanakan oleh lembaga-lembaga swasta. Tujuan umum pendidikan awal ini adalah untuk  mempersiapkan anak-anak memasuki pendidikan formal. Kegiatan-kegiatan pada prasekolah ini antara lain permainan bersama, membacakan cerita-cerita, bernyanyi, permainan aktivitas dan pekerjaan tangan yang perlengkapannya sangat sederhana seperti kertas, papan tulis dan pena.

  1. Pendidikan Dasar

Pendidikan dasar dimulai pada anak berumur enam tahun dan berlangsung selama lima tahun dan kemudian diikuti dengan bimbingan atau orientasi selama 3 tahun. Pendidikan orientasi dimaksudkan bagi anak-anak yang bercita-cita untuk melanjutkan pendidikannya di masa depan atau mencari pekerjaan.

  1. Pendidikan Menengah

Pendidikan menengah diselenggarakan selama 4 tahun dan dibagi dalam 2 jalur yang telah lama dan lebih besar adalah jalur akademik yang terbagi dalam dua bidang yaitu sains dan humaniora. Jalur kedua yaitu jalur pendidikan teknik dan kejuruan yang kurang berkembang dan terdiri dari dua bidang, industri dan pertanian.

  1. Pendidikan Tinggi

Pendidikan tinggi terbagi dalam sekolah tinggi pendidikan guru yang tidak menuntut tamatan pendidikan menengah sebagai persyaratan masuk dan berbagai sekolah tinggi lain dan universitas. Tetapi banyak mahasiswa yang belajar di luar negeri.

Struktur pendidikan Iran pada awal dekade 1990 membuka kesempatan luas bagi siswa-siswi untuk belajar sesuai dengan bakat dan interesnya. Juga terbuka pintu bagi siswa-siswi  tamatan pendidikan menengah atas untuk melanjutkan pendidikannya ke tingkat pendidikan tinggi. Lembaga-lembaga tinggi mencakup universitas, pusat-pusat pendidikan guru dan fakultas-fakultas teknik.

D. Manajemen Pendidikan

1. Otorita

Pengorganisasian sistem pendidikan modern Iran kurang lebih mengikuti sistem pendidikan negara Prancis. Oleh karena itu, sifatnya adalah sangat tersentralisasi. Kementrian pendidikan melalui sistem birokrasinya serta perwakilannya menyelenggarakan dan mendanai pendidikan negeri pada tingkat pendidikan dasar dan pendidikan menengah. Usaha-usaha lain pun telah dilakukan seperti membentuk dewan pendidikan daerah serta menentukan wewenangnya. Dewan ini terdiri dari utusan masyarakat, perwakilan dari pejabat-pejabat pendidikan daerah, guru-guru dan kepala sekolah.

Pada tahun 1980-an belum ada keputusan bagaimana bentuk pendidikan tinggi Iran. Namun, pemerintah telah mengumumkan keinginannya untuk mengislamkan pendidikan pada semua tingkat, termasuk pendidikan tinggi

2. Pendanaan

Pendidikan di Iran didanai terutama oleh pemerintah. Walaupun terdapat sekolah-sekolah swasta sampai akhir tahun 1970, pemerintah memberikan subsidi atau subsidi guru dan staf. Dalam rencana lima tahun ke-5 (1973-1978), total dana yang diperuntukkan bagi pendidikan mencapai US$ 5,75 triliun yang hanya US$ 2,00 triliun dalam rencana lima tahun sebelumnya. Jumlah itu naik dari 3,4% menjadi 5,4% dari GNP (Gross National Product). Dana itu didistribusikan pemakaiannya sebagai berikut: 32% untuk pendidikan dasar, 12% untuk pendidikan tingkat orientasi, 19% untuk pendidikan menengah dan 1,5% untuk pendidikan orang dewasa. Dari keseluruhan dana tersebut diperkirakan 30% digunakan bagi pendidikan di daerah-daerah pedalaman Iran.

Biaya atau uang sekolah swasta juga tidak tinggi. Kira-kira 20% dari anggaran pemerintah adalah untuk pendidikan dan 90% dari anggaran rutin pendidikan merupakan gaji guru.

3. Personalia

Semenjak tahun 1973 sampai revolusi Islam tahun 1979, hambatan utama dalam bidang pendidikan di Iran ialah sumber daya manusia bukan uang. Di daerah perkotaan, persediaan guru cukup memadai untuk melayani pendidikan dasar bagi semua orang walaupun cukup banyak guru-guru itu tidak sepenuhnya memenuhi syarat dan kelas cenderung besar. Krisis penyediaan guru untuk daerah-daerah pedalaman. Menurut undang-undang dasar negara Iran pendidikan dasar adalah wajib walaupun lamanya tidak disebutkan dan sesuai dengan undang-undang yang dikeluarkan tahun  1932 pendidikan dasar itu gratis. Tetapi undang-undang ini belum pernah terlaksana.

Halangan utama dalam usaha peningkatan enrollment pada tingkat pendidikan dasar adalah kemampuan lembaga pendidikan guru untuk menghasilkan guru. Perkembangan ini lambat disebabkan terbatasnya jumlah dosen yang memenuhi kualifikasi. Untuk menghadapi masalah ini, berbagai langkah telah diambil. Para lulusan sekolah menengah diangkat menjadi guru tanpa terlebih dahulu mendapat latihan mengajar. Tetapi yang menjadi masalah utama adlah guru-guru tidak dapat direkrut untuk bertugas di daerah pedalaman.

4. Kurikulum dan metodologi pengajaran

Kurikulum pendidikan di negara Iran dilaksanakan secara terpusat. Tetapi pada tahun 1970 ada usaha ke arah perluasan partisipasi dalam proses penentuan isi dan penyiapan bahan pelajaran. Panitia khusus dibentuk untuk melakukan pengkajian ulang atau reviu atas rekomendasi yang diajukan panitia lokal dari daerah yang berbeda-beda dan oleh para ahli. Di tingkat pendidikan tinggi, para dosenlah yang menentukan isi mata kuliah.

Metodologi pengajaran bermula menirukan cara yang dipakai di maktab yang bernuansa keagamaan dan mengutamakan hafalan. Kenyataan bahwa pada awal abad ke-20 kelas cenderung besar dan buku-buku sangat kurang. Metode hafalan menjadi lebih populer. Begitu juga dengan sistem pekerjaan rumah yang tidak lebih hanya sekedar menyalin kalimat-kalimat dari buku teks bahkan disalin beberapa kali. Dengan didirikannya sekolah-sekolah pendidikan guru, dimulailah memperkenalkan metode aktif. Pada beberapa sekolah di pedesaan metode ini kelihatannya menampakkan hasil yang memuaskan yang guru-gurunya adalah anggota korp pria dan wanita yang belum kenal metode hafalan. Tetapi, reformasi metode mengajar harus menghadapi cara lama yang sudah tertanam lama, yaitu mengandalkan hafalan dan ingatan-”memorization”.

5. Ujian, Kenaikan kelas, dan Sertifikasi

Pada akhir pendidikan umum, diadakan ujian yang bersifat regional dan sertifikat diberikan kepada murid-murid yang lulus. Untuk masuk ke sekolah menengah anak-anak dituntut untuk memperoleh nilai tertentu dalam beberapa mata pelajaran. Ujian akhir sekolah menengah diadakan pada setiap provinsi dan sertifikat atau diploma diberikan kepada yang lulus ujian. Untuk masuk ke perguruan tinggi setiap tahun diselenggarakan ujian nasional.

6. Penelitian Pendidikan

Selama tahun 1970, pemerintah Iran memberikan perhatian khusus kepada lembaga yang mampu melaksanakan penelitian di bidang pendidikan. Yang paling menonjol diantaranya ialah The Institute for Research and Planning in Science and Education yang dibawahi oleh kementrian ilmu pengetahuan dan pendidikan. Mandat yang diberikan kepada lembaga ini ialah melakukan penelitian mengenai perencanaan pendidikan nasional baik yang formal maupun yang nonformal mulai dari prasekolah sampai ke universitas.

Pusat pendidikan dan latihan nasional bagi orang dewasa sangat berperan dalam melakukan penelitian bidang kebahasaan dalam mempersiapkan kurikulum pendidikan nonformal dan dalam penilaian dampak sosio-ekonomis program literasi.

E. Isu-Isu Pendidikan

Revolusi Iran tahun 1979 telah mengubah bentuk negara dari monarki menjadi republik Islam. Pada bulan September 1979, pemerintah menasionalisasi seluruh sekolah swasta, menghapuskan pengajaran bahasa-bahasa asing barat dan co-education yang mencampurkan murid pria dan wanita dalam satu kelas dan juga mengurangi pendidikan musik dan seni. Pendidikan dasar dan menengah terbuka untuk siapa saja yang belajar. Walaupun universitas ditutup selama tiga tahun, tetapi berangsur-angsur kembali dibuka kembali pada tahun 1983-1984.

Kelihatannya semakin jelas bahwa metode pendidikan barat ditolak Iran. Sungguhpun iran mengakui perlunya ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi Iran menginginkan agar cara mengajarkannya dirubah. Sudah banyak dibicarakan penanaman nilai-nilai islam serta kesamaan dan keadilan.

PENDIDIKAN DI PAKISTAN

A. Latar Belakang

Pendidikan dalam Islam merupakan sebuah rangkaian proses pemberdayaan manusia menuju kedewasaan baik secara akal, mental maupun moral untuk menjalankan fungsi kemanusiaan yang diemban sebagai seorang hamba dihadapan Khaliqnya dan juga khalifah fil ardh (pemelihara) pada alam semesta ini. Dengan demikian fungsi utama pendidikan adalah mempersiapkan generasi penerus (peserta didik) dengan kemampuan dan keahlian yang diperlukan agar memiliki kemampuan dan kesiapan untuk terjun ke tengah lingkungan masyarakat.

Dalam lintasan sejarah peradaban Islam, peran pendidikan ini benar-benar bisa diaktualisaikan dan diaplikasikan tepatnya pada zaman kejayaan Islam. Hal ini dapat kita saksikan dimana pendidikan benar-benar mampu membentuk peradaban sehingga peradaban Islam menjadi peradaban terdepan sekaligus peradaban yang mewarnai sepanjang jazirah Arab, Afrika, Asia Barat hingga Eropa Timur.

Untuk itu adanya sebuah paradigma pendidikan yang memberdayakan peserta didik merupakan sebuah keniscayaan. Kemajuan peradaban dan kebudayaan islam pada masa keemasan sepanjang abad pertengahan, dimana kebudayaan dan peradaban Islam berhasil memberikan Illuminatif (pencerahan) jazirah Arab, Asia, Afrika, Asia Barat dan Eropa Timur. Hal ini merupakan bukti sejarah yang tak terbantahkan bahwa peradaban Islam tidak dapat lepas dari peran serta adanya sistem pendidikan yang berbasis kurikulum Samawi.

B. Tujuan Pendidikan

Tujuan program tidak hanya untuk melaksanakan pendidikan inklusif dan ramah anak di sepuluh sekolah tapi juga mengidentifikasi kesempatan dan hambatan terhadap inovasi dan perubahan di sekolah-sekolah, masyarakat dan dinas pendidikan. Program tersebut diluncurkan dengan lokakarya nasional mengenai pendidikan. Untuk memastikan bahwa lebih banyak anak akan memiliki akses terhadap pendidikan berkualitas, mitra program Pakistan norwegia mempromosikan ide pembukaan 10 sekolah rintisan untuk semua anak yang tinggal di sekolah-sekolah di lingkungan setempat, tanpa memandang kemampuan, kecacatan, status kesehatan serta latar belakang social, ekonomi, budaya, agama dan bangsa.

C. Kurikulum Pendidikan

Karena tekanan dan desakan kuat dari para pemuka agama, pemerintah Pakistan akhirnya setuju memasukkan kembali bab-bab yang membahas tentang sejarah Islam, al-Quran dan sunnah dalam kurikulum pendidikan di wilayah North West Frontier Province (NWFP). Keputusan ini disambut gembira oleh pemuka agama di wilayah Pakistan yang langsung berbatasan dengan Afghanistan itu.

Menteri penerangan NWFP, Asif Iqbal mengatakan keputusan pemerintah itu merupakan kemenangan moral bagi mereka. Sementara itu, menteri pendidikan pemerintah federal pakistan Letnan Jenderal Javed Ashraf Qazi dalam keterangan menyatakan permintaan pemerintah NWFP untuk memasukkan sejarah islam, al-Quran dan sunnah dalam kurikulum pendidikan di wilayah itu sah menurut hukum.