Sabtu dini hari sekitar pukul 02.00 WIB. Kami dikejutkan oleh teriakan salah seorang warga yang mengatakan bahwa kami harus mengungsi karena air sudah naik. “Ayek naek, ayek naek, teriaknya. Kami pun terkejut setelah itu ia menyampaikan marilah mengungsi air sudah naik sampai ke jalan. Aku pun segera berlari keluar melihat keadaan. Subhanallah, ternyata air hampir sampai ke aspal jalan depan rumah. Nyaris, jarak air dengan aspal jalan hanya kira-kira 15 cm. Aku pun bersegara lari ke dalam rumah, tanpa ingat lagi bahwa kami sebenarnya baru terbangun. Ku raih jilbab, ibuku yang masih ada di desa ini pun memasukkan barang-barang penting ke dalam tas dan membawanya keluar. Aku segera menaikkan kasur, lemari dan barang-barang yang kiranya rusak jika terkena air. Setelah itu, ku bantu pemilik rumah kost an ini untuk menyelamatkan barang-barangnya supaya tidak terkena air. Ibu pun ku perintahkan untuk segera berlari keluar. Karena ku tau kondisinya tak kuat lagi untuk berlari. Tak lama setelah Ibuku keluar, ia berteriak memanggil namaku agar segera keluar dari rumah itu karena air sudah sampai ke aspal.

Subhanallah, inilah banjir bandang yang telah menghanyutkan rumah warga desa ini 12 tahun yang lalu. Aku merinding, takut, cemas. Telah lama tidak ada musibah seperti ini dan tahun ini ia kembali datang, ujar salah seorang warga desa ini. Desa ini bernama Muara Buat. Desa yang terletak di pinggir sungai batang bungo merupakan pertemuan antara dua sungai yang tidak kecil yaitu batang buat dan batang bungo.

Setelah kami menyelamatkan diri dari rumah itu, Aku menitipkan tas ku yang berisi ijazah dan barang berharga di rumah seorang Kapolsek yang bernama Harahap. Aku pun berdiri menyaksikan air yang semakin meluap ke jalan. Subhanallah, aku takut, gemetar. Mata melihat pemandangan malam itu seperti hal yang terjadi ketika tsunami di banda Aceh dan sekitarnya. Hanya saja, ketika tsunami di Aceh air nya menghanyutkan apa pun dengan kekuatan dan kecepatan yang Maha Dahsyat.

Semakin larut, masyarakat pun semakin ramai. Mereka pun keluar dari rumahnya. Mereka tak kenal dan tak ingat lagi dengan dinginnya malam yang merasuk ke tulang mereka. Aku pun segera menghubungi keluargaku di Kota Padang, sekedar mengabarkan bahwa desa tempat aku mengabdi  terkena  musibah banjir bandang. Alhamdulillah, desa ini telah dimasuki sinyal telpon seluler. Memang belum lama, tapi cukup bermanfaat bagiku malam itu.

Malam itu juga, teriakan warga semakin menggema di desa itu. Air semakin naik. Namun, setengah jam kemudian banjir tersebut sudah mulai surut. Warga pun bersyukur. Begitu juga dengan diriku yang masih gemetar menyaksikan musibah itu. Dari kejauhan ku mendengar bahwa SMP tempat aku mengajar telah terendam banjir setinggi dada orang dewasa. Dapat aku bayangkan malam itu betapa menyedihkannya kondisi sekolah jika terkena banjir bandang sebesar itu.